Semua Akan Pulang Pada Waktunya: TΣBU- Anteb ing Kolbu

Erik Armayuda
Chapter #1

Aperture

“Aku heran, kenapa begitu banyak orang tidak percaya Tuhan dengan alasan sains, tapi rela menghabiskan puluhan juta untuk ekspedisi mencari Alien yang juga belum bisa dibuktikan keberadaannya?” kataku sambil menyuguhkan secangkir kopi hangat untuk Joy. Nama aslinya Tarjo, tapi ia lebih suka dipanggil Joy—seorang penikmat kehidupan, begitu katanya.

“Tapi tanda-tanda keberadaan Alien bisa dibuktikan, Pak,” balasnya, masih sambil mengutak-atik radio kami. Joy adalah lulusan teknik informatika dari salah satu kampus ternama di ibu kota. Sudah dua tahun ini ia memilih kembali ke desa, bercita-cita menjadi pebisnis di bidang agrikultur. Joy bukan orang yang berpikir biasa. Sepuluh tahun bekerja di perusahaan ternama dengan gaji besar tidak membuatnya terlena. Ia sadar bahwa sebesar apa pun gajinya, ia tetaplah karyawan yang menukar waktu dan tenaganya untuk perusahaan.

Joy pun mengambil keputusan berani: banting stir dan kembali ke kampung untuk berwirausaha. Benar saja, dalam kurang dari setahun, ia sudah membangun usaha yang berpotensi berkembang pesat. Kepandaiannya membaca peluang dan menemukan orang-orang tepat untuk diajak bekerja sama membuat bisnisnya cepat maju. Banyak yang tertarik menjadi investor atau bergabung dalam ide usahanya. Aku salah satunya.

Sayangnya, di balik semua kecerdasannya, ia membawa pulang pemikiran tentang ketuhanan yang ia dapatkan di ibu kota. Tak jarang ia mengutip penulis ternama untuk mendukung argumennya. Namun, di sisi lain, Joy adalah pencari ilmu yang objektif. Ketika orang-orang kampung kehabisan argumen dan hanya mengiyakan pendapatnya, Joy tidak serta-merta merasa menang. Bahkan, ketika ia tidak menguasai suatu topik, ia akan diam dan membiarkan argumennya dibantah—tanpa berusaha membela diri dengan dalih yang justru membuatnya terlihat bodoh. Aku menyadari hal ini saat suatu malam kami berdua berjaga ronda bersama.

Suatu kali, aku pernah membantah logika rumitnya hanya dengan sebuah perumpamaan sederhana yang membuatnya terdiam. Sejak saat itu, ia tampak antusias berdiskusi denganku. Inilah salah satu hal yang membuat kami dekat, selain tentunya hubungan kami sebagai partner bisnis. Aku menghargai pemikirannya dan selalu berusaha menanggapi dengan perspektif yang pernah kudapat dari seseorang yang kukenal dulu. Aku sudah mengenalnya selama dua tahun, tetapi baru hari itu aku sadar bahwa semua pertanyaan Joy sebenarnya bukan tentang Tuhan.

“Anehnya, kedua hal itu sama-sama bisa kita cari melalui tanda-tanda yang bisa dipelajari, bukan?” lanjutku sambil menyandarkan badan pada kayu penyangga teras rumah.

“Lalu?” balasnya singkat.

Lihat selengkapnya