“Aku heran, kenapa begitu banyak orang tidak percaya Tuhan dengan alasan sains, tapi rela menghabiskan puluhan juta untuk ekspedisi mencari alien yang juga belum bisa dibuktikan keberadaannya?” kataku sambil menyuguhkan secangkir kopi hangat untuk Joy. Nama aslinya Tarjo, tetapi ia lebih suka dipanggil Joy—seorang penikmat kehidupan, begitu katanya. Sebelum tinggal di desa ini, ia menghabiskan sepuluh tahun bekerja di sebuah perusahaan besar di ibu kota. Entah apa yang sebenarnya dipikirkannya, ia tak pernah menceritakannya secara utuh kepada siapa pun.
“Tapi tanda-tanda keberadaan alien bisa dibuktikan, Pak,” balasnya, sambil terus mengutak-atik radio kami. Joy adalah lulusan teknik informatika dari salah satu kampus ternama di ibu kota.
“Anehnya, kedua hal itu sama-sama bisa kita cari melalui tanda-tanda yang bisa dipelajari, bukan?” lanjutku sambil menyandarkan badan pada kayu penyangga teras rumah.
“Lalu?” balasnya singkat.
“Lalu, itulah yang membuatku heran. Kenapa mereka percaya pada sesuatu yang diharapkan ada melalui tanda-tanda, tetapi menolak mempercayai hal lain yang juga bisa ditelusuri lewat tanda-tanda?”
“Entahlah, mungkin karena agama membosankan? Haha. Orang beragama menyalahkan kejahatan pada setan karena malas bertanggung jawab, dan menyerahkan segala usaha pada Tuhan karena malas berjuang,” ujarnya mengulang kalimat andalannya.