Semua Akan Pulang Pada Waktunya: TΣBU- Anteb ing Kolbu

Erik Armayuda
Chapter #2

Bias

“Jika untuk menemukan penawar sebuah virus, para ilmuwan melakukan penelitian dan eksperimen yang memakan waktu bertahun-tahun—sering kali harus mengubah metode setelah puluhan hasil nihil di awal—mengapa para pencari Tuhan sepertimu sering menyerah dan menyimpulkan ‘Tuhan tidak ada’ hanya dari beberapa kali ‘eksperimen’ yang itu-itu saja?” kataku, menyodorkan piring padanya di dapur pawon rumah.

Rumahku bukan rumah besar. Aku dan keluarga kecilku memilih tinggal di desa setelah beberapa pengalaman hidup di kota. Sebagaimana rumah desa pada umumnya, dinding depannya beton, sementara dinding dapur anyaman bambu. Hanya lantai cor yang selalu kuper pagi-sore yang membuat rumah ini terlihat bersih meski sederhana. Kami memasak menggunakan tungku, bukan karena tak mampu, tapi lebih mudah mencari kayu kering ketimbang elpiji di sini.

Joy belum selesai membenahi radio saat istriku memanggil kami masuk untuk makan di dapur. Di lingkungan seperti ini, sudah menjadi tradisi untuk menawari tamu makan, apalagi di jam-jam genting begini.

“Hmm, menarik, Pak… tapi aku mulai meragukan Tuhan sejak kecil. Itu bukan waktu yang pendek,” kata Joy sambil menyiram sayur lodeh hingga membanjiri nasi di piringnya.

“Sing akeh tah!” kataku, menyodorkan bakul bambu berisi nasi hangat. “Seadanya ya!” lanjutku.

“Laiya to, kalau gak seadanya ya masak yang nggak ada... Tuhan, dong?” selorohnya sambil mengambil sebuah dingklik di depan tungku.

“Raimu…” balasku tersenyum, sambil duduk di dingklik yang serupa. Di antara kami memang tak ada formalitas. Kami merayakan kedekatan ini dengan hal-hal santai semacam ini.

“Mempertanyakan itu baru menemukan latar belakang masalah. Tapi apakah kau sudah meneliti dengan metode yang benar? Itu hal lain, bukan?” tuturku sambil menyodorkan kaleng kerupuk.

“Masuk juga, Pak. Tapi aku mulai benar-benar mencari dengan menemui kiai, pastor, dan beberapa orang untuk mendiskusikan ini…"

"Terus hasile?"

"Ya… orang jualan ya pasti bilang produknya yang paling sae to, Pak! Aku juga sudah baca beberapa buku teologi!” Ia terdiam sejenak. Seperti menimbang bagaimana reaksinya jika ia mengatakannya.

"Aku pernah ketemu Kiai, Pak. Dia berceramah tentang sabar dan tawaduk, lakok pas pulang diamplopi takmir, dijemput pakai Alphard, Pak… wah yo ndak masuk," katanya, lalu menyuapkan nasi ke mulutnya.

Aku tidak tahu bagaimana harus merespons. Aku merasa ada konsep yang harus aku sampaikan padanya sebelum menjelaskan bantahannya. Jadi aku hanya diam.

“Itu masih tahap pengumpulan data, dengan wawancara dan literatur. Setuju?” kataku, sambil mengambil kerupuk dari toples.

“Ya… bisa jadi, Pak. Teruskan!” lanjut Joy sembari menggigit kerupuk dengan berisik, membiarkan serpihannya berterbangan. “Nah, masalahnya, dalam penelitian butuh metodologi. Setelah data terkumpul, kita harus bisa mengolahnya secara tepat. Kecuali kau punya motif.”

“Motif gimana, Pak?” balasnya.

Lihat selengkapnya