Semua Akan Pulang Pada Waktunya: TΣBU- Anteb ing Kolbu

Erik Armayuda
Chapter #3

Clue

“Bagaimana dengan logika hewan kurban? Ada orang yang mau menyembelih anaknya karena mendengar suara gaib? Hanya gara-gara satu kaum nggak mau ikut agama, Tuhan menenggelamkan seluruh bumi? Lalu penindasan wanita dengan jilbab, juga konsep bisnis yang meraup uang jutaan hanya untuk mengelilingi bangunan kotak yang disembah? Bisnis garam dan air yang sudah didoakan. Malah bagiku, nikah sesama jenis yang dibenci kaum agamis adalah hal yang paling logis sebagai insting survival manusia daripada harus poligami yang hanya menguntungkan kaum lelaki, perbudakan, jihad, hukum rajam, dan masih banyak lagi, Pak! Itulah yang membuatku yakin kalau agama itu tidak logis! Bagiku agama adalah sumber penderitaan.” Joy memaparkan argumennya seakan melampiaskan uneg-uneg yang selama ini tertahan. Aku menatapnya. Napasnya tersengal. Seperti ada luka yang terbuka saat ia menyampaikan semuanya.

“Hmm... menarik... Aku akan coba jawab satu per satu,” kataku sambil mengusap tengkukku. Dadaku bergetar. Aku mengambil napas dalam. Aroma abu dan asap dari perapian tanah liat membuat dadaku sesak. Tidak hanya Joy. Aku, atau mungkin semua orang yang berpikir kritis, pernah mempertanyakan hal itu.

“Sori, Pak, kebawa emosi... Soalnya setiap kali aku coba ngomong seperti ini, selalu dicap kafir, komunis... Padahal yang ngomong gitu juga aku tahu, malamnya pasang nomor togel di Wak Su.” Joy mulai mengatur napasnya. Dari caranya berbicara, aku bisa membayangkan bagaimana orang-orang yang ia temui menghakiminya dengan kata-kata buruk karena tak mampu membalas pemikiran dengan pemikiran. Aku paham betul hal itu.

“Karena itukah kau benci agama?” tanyaku. Joy terdiam. Aku yakin ada satu momen pemicu yang mengantarkannya pada tahap ini. Sebuah momen di mana ia merasa tersudut dan mulai mempertanyakan segalanya. Momen di mana seorang Joy merasa sendiri dan tak ada satu pun yang memahaminya.

“Itu salah satunya, Pak,” jawabnya singkat dengan pandangan kosong. Aku tahu ada kenangan yang menyelinap di benaknya. Ia berusaha menepisnya dengan menarik perhatian dan menuang air putih ke dalam gelas.

“Musuh terbesar Islam adalah Muslim yang bodoh. Yang ketidaktahuannya membawanya pada intoleransi, yang tindakannya menghancurkan citra Islam yang sebenarnya. Dan ketika orang-orang melihatnya, mereka berpikir bahwa Islam adalah dirinya.” Aku menutup kalimat dengan meneguk sisa air yang ada di gelas. Suasana hening sesaat.

“Syekh Ahmed Deedat. Penceramah perbandingan agama,” lanjutku, menyebutkan nama pencetus kalimat itu.

"Aku tahu, Pak… tidak semua orang beragama itu buruk. Aku tahu Pak itu oknum, tapi yang aku nggak tahu… kenapa harus ada agama kalau ia hanya akan menjadi sumber luka." Sejenak Joy merenung, lalu beranjak dari dingklik-nya dan menghampiri salah satu dinding dapur. Aku tidak bisa menjawab kalimat itu. Aku paham apa yang ia maksudkan. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa tidak perlu membantah kalimatnya.

“Layangannya masih bisa terbang, Pak?” Joy menunjuk sebuah layangan sawangan (jenis layangan dengan busur besar yang bisa mengeluarkan suara mendenging) yang digantung di dinding. Aku merasa ia berusaha mengalihkan pembicaraan. Entah karena tidak ingin mendesakku terlalu jauh atau sedang mendinginkan suasana setelah emosinya tersulut.

“Oh… itu punya si Agus. Dititipkan di sini karena takut disindir orang tuanya disuruh kawin. Sudah beberapa bulan nggak diambil lagi.”

“Agus Tompel?” lanjut Joy dengan senyum mengembang. Kami memang memiliki kenangan berkesan dengan Agus ketika mengirim pesanan lele ke desa sebelah. “Gimana kabar anak itu sekarang?”

“Kudengar ia sudah jadi TKI di Taiwan,” balasku sambil tersenyum. Meski pemikirannya nyeleneh, Joy masih memiliki moralitas yang tinggi. Kurasakan itu saat ia dengan halus mengalihkan pembicaraan agar aku tidak merasa tersudut. Aku beranjak dari kursiku, membuka lemari, mengambil gelas, menuangkan satu sendok kopi ke dalam setiap gelas, lalu memasukkan air panas yang sedari tadi mengepul di atas tungku perapian. Joy masih mengoceh tentang Agus, tapi aroma kopi yang semerbak setelah bersatu dengan air panas membuat pikiranku melayang ke sebuah waktu di masa lalu.

Aroma kopi tubruk berganti Flores Bajawa. Semerbak menghadirkan suasana kafe ke dalam pantry. Lelaki itu mengenakan kacamata bulat dengan lensa tebal, menyembunyikan mata sipitnya. Ia berdiri tak jauh dari mesin kopi itu sambil membuka aluminium foil yang membungkus satu keping cokelat batangan.

“Gua sih emang gak taat-taat amat, Bre… tapi Tuhan itu ada.” Lelaki itu berkata setengah berteriak. Tangannya meremas-remas aluminium foil lalu melemparkannya ke arah tempat sampah kering. Ia nampak berbicara dengan seseorang yang masih ada di luar pantry.

“Agak aneh ya denger itu dari elu yang berdoapun nggak pernah,” balas seorang lelaki berambut gondrong dengan wajah yang ramah.

“Lah, gua mah masih rasional, Men… segala yang ada di dunia ini pastilah ada penciptanya, masak ini kopi nyeduh sendiri?” balas pria berkacamata itu. Di kerahnya, lanyard berwarna oranye dengan foto pemiliknya sedang menjulurkan lidah. Di bawahnya terdapat tulisan Bonny R., di bawahnya bertulis CEO Madsoul.com.

“Ben, lu tahu gak teori chaos and order?” tanya lelaki gondrong yang alih-alih memanggil rekannya sesuai nama ‘Bon’ atau ‘Bonny’, ia memanggilnya Ben, seperti sebuah pelintiran dari Bon. Lelaki berkacamata itu mendongakkan kepalanya ke atas.

Lihat selengkapnya