Semua Akan Pulang Pada Waktunya: TΣBU- Anteb ing Kolbu

Erik Armayuda
Chapter #4

Determinasi

“Joy, kamu main game nggak?” tanyaku sambil menemaninya berjalan kembali ke teras rumah melalui sisi samping. “Anak IT nggak main game itu seperti Agus Tompel nggak main layangan!” balasnya. Kami tertawa lepas.

“Kalau kau sedang main game dan nemu rare item di tempat yang sulit dijangkau, apa yang akan kau lakukan? Berusaha memutar otak dan cari tahu cara dapetinnya, atau bilang, ‘Game ini nggak logis!’ terus berhenti sampai situ?” lanjutku.

“Kalau ada rare item dalam game, meski kelihatan susah dan mustahil, pasti ada hidden clue-nya, cara tersembunyi untuk dapetin. Gamer sejati pasti tahu itu, Pak. Tinggal analisa pola game dan elemen di sekitar item-nya,” jawab Joy sambil mengeluarkan bungkus rokok.

“Kalau koe nggak nemu-nemu caranya bagaimana?”

“Harusnya tinggal nyari komunitas diskusinya sih, Pak, biasanya pada nge-reveal triknya.”

“Nah, gimana kalau yang gak logis di agama juga gitu?”

“Fuuuh... Begini, Pak. Aku nggak suka agama karena aku merasa masih bisa menyandarkan moralitasku pada akal budiku. Ditambah lagi, lihatlah orang-orang beragama itu, sibuk menyalahkan agama lain.”

“Tunggu... Sepertinya kita harus memisahkan dulu pembahasan antara agama dan pemeluknya. Biar kita fokus.”

“Bukannya itu satu kesatuan?” Joy berkilah.

“Seperti kata Syekh Deedat tadi, pemeluk agama tidak selalu menjalankan agamanya dengan benar. Maka, nggak fair kalau kita menghakimi agama cuma dari pemeluknya. Kau sendiri nggak terima kan, kalau orang negara lain bilang moral orang Indonesia bobrok hanya karena melihat beberapa oknum pencuri dan petugas pejabat korup di televisi? Kita sepakat, para pejabat itu nggak bisa mewakili jutaan orang Indonesia lainnya. Apalagi jadi alasan untuk mencela sistem perundang-undangannya, meski justru yang korup kebanyakan anggota DPR, orang-orang yang dianggap paling paham undang-undang.”

“Masuk, Pak!” Joy mengangguk, menerima analogiku. “Aku suka caramu jelasin. Aku terima ini,” lanjutnya sambil tersenyum.

“Aku khawatir, jangan-jangan orang yang skeptis sama agama cuma malas cari tahu jawabannya? Malas mikir. Soalnya, kalau mereka nemuin jawaban logisnya, mereka nggak bisa lagi menghindari ‘misi ibadah’ yang diembankan Sang Pencipta.” Joy tersenyum.

"Hidup aja sudah ribet, Pak, masih harus dibebani agama, belum lagi debat sama agama lain"

“Jadi, mau gak tak reveal hal-hal yang menurutmu ilogis?" ia menatapku, senyuman tipis mengembang di wajahnya. "try me" lanjutku.

“Kalau gitu, coba jelaskan, Pak. Logika dari perintah agama yang kusebut tadi? Apa kau bisa jelasin secara logis?”

“Insha Allah, selalu ada hikmah dari syariat yang diturunkan. Kita aja yang kadang belum mengetahuinya. Beberapa bisa kujelaskan singkat, beberapa butuh pengantar yang panjang.”

“Time is yours, Paklek!” balasnya bersemangat.

“Soal banjir zaman Nabi Nuh, sepengetahuan aku dari Al-Qur’an, nggak menenggelamkan seluruh bumi. Seorang nabi biasanya diutus untuk satu kaum di suatu tempat pada masa tertentu.”

“Seluruh dunia, Pak! Coba baca-baca lagi,” balasnya cepat.

“Sebenarnya Nabi Nuh itu rasul pertama, dan di zaman beliau, itu masih dekat dengan zaman Nabi Adam, jadi populasi manusia masih berkumpul di satu wilayah saja. Mungkin karena itu narasinya seakan mengatakan seluruh dunia ya, padahal ya di area kaumnya Nabi Nuh saja." jelasku. Joy mengernyitkan dahi.

"Dan tentang perintah berhaji, sebenarnya pemerintah Saudi malah menggelontorkan banyak biaya untuk menyambut para jemaah, dan itu sudah tradisi sejak zaman Nabi Ibrahim. Ada satu keluarga di Saudi yang kerjanya mengurusi semua jemaah dari seluruh dunia. Jadi kalau dibilang bisnis… "

"Bagaimana dengan air garam berkah? Mimpi mendapat perintah membunuh anak... Ayolah Pak, come on!"

"Hmm, sepertinya aku harus menjelaskan dari konsep awalnya. Agar aku nggak perlu menjawab pertanyaan yang salah kaprah satu-satu. Mungkin kalau kujelaskan dari awal, semua pertanyaanmu akan terjawab sendirinya, Joy.”

Lihat selengkapnya