Semua Orang Punya Cerita (Kecuali Gue)
Setidaknya, itu yang selalu gue pikir.
Di meja makan keluarga, selalu ada satu orang yang semua mata tertuju ke sana waktu dia mulai ngomong. Dia bisa cerita soal apa aja dari mulai resep masakan, sandal yang putus di minimarket, sampai baju yang ternyata dipake terbalik seharian dan entah kenapa semuanya terdengar seru. Orang-orang ketawa. Orang-orang nyuruh lanjut. Bahkan sebelum ceritanya selesai, semua orang udah siap denger cerita berikutnya
Orang itu bukan gue.
Gue adalah tipe orang yang duduk di ujung meja, sibuk nambah nasi untuk kedua kalinya cuma supaya punya alasan buat enggak ikut nimbrung. Gue lebih sering jadi pendengar daripada pencerita. Angguk-angguk sambil pura-pura fokus ngupas kerupuk, lalu nanti malamnya rebahan di kamar sambil mikir:
kapan, ya, gue punya sesuatu yang layak diceritain?
***
Karena sejujurnya, hidup gue biasa aja.
Hidup gue memang enggak dramatis, enggak ada moment besar yang bisa dijadikan pembuka film. Enggak ada turning point yang sinematik, enggak ada epifani di puncak gunung, Enggak ada surat cinta nyasar ke alamat rumah gue. enggak ada pertemuan tak terduga di bandara yang berujung jadi kisah cinta lintas negara, Bahkan hidup gue terlalu datar buat dijadiin thread yang di-quote ribuan kali.
Yang ada cuma kejadian-kejadian kecil yang awalnya terasa receh, bahkan memalukan.
Ojol yang ninggalin gue di pom bensin, dia lupa masih ada penumpang di jok belakang waktu turun isi bensin, dan gue cuma berdiri bengong di pinggir trotoar sambil mikir, apa ini nyata?
Kereta yang delay lima jam, dan tiba-tiba ada orang asing di sebelah gue yang, tanpa diminta, ngasih makan dan minum seolah kami udah kenal bertahun-tahun
Bukan cerita besar.
Bukan cerita yang akan mengubah dunia.
Tapi anehnya, justru dari sana semuanya dimulai.
***
Gue enggak tahu sejak kapan mulai memperhatikan orang-orang asing dengan lebih seksama.
Mungkin karena perjalanan memaksa gue untuk diam.