Semua Orang Punya Cerita (Kecuali Gue)

Dhiandra Jatu
Chapter #2

Bapak Pom Bensin (Hari di Mana Gue Resmi Jadi Barang Ketinggalan)

Gue adalah manusia medioker sejati.

Bukan dalam artian yang dramatis atau penuh penyesalan, gue udah damai dengan fakta itu. Gue tinggal di apartemen pinggiran Jakarta, ukurannya cukup untuk satu orang dan beberapa tanaman kaktus yang pada akhirnya mati karena gue lupa nyiram. Padahal kaktus. Kaktus, yang konon bisa hidup di gurun tanpa air berminggu-minggu, menyerah di tangan gue dalam waktu kurang dari sebulan. Gue anggap itu bukan kegagalan, tapi bukti bahwa bahkan tumbuhan pun punya batas toleransi.

Setiap pagi rutinitas gue sama persis: jalan kaki dari apartemen ke stasiun, naik KRL sampai Tanah Abang, lanjut ojek online (Ojol) ke kantor. Begitu terus, lima hari seminggu, tanpa variasi, tanpa kejutan.

Atau begitulah yang gue kira.

***


Selasa pagi waktu itu enggak ada pertanda apa-apa. Langit Jakarta yang abu-abu seperti biasa, udara yang hangat dengan sentuhan polusi yang sudah jadi bagian dari identitas kota ini, semacam signature scent yang enggak ditemui di kota lain.

Antrean Ojol di ujung Stasiun Tanah Abang yang mengular seperti biasa.

Dengan ekosistemnya yang khas: ibu-ibu yang berdiri sambil memeluk tas erat-erat, bapak-bapak yang mantengin HP dengan muka serius seolah lagi pantau bursa saham, dan satu orang yang entah kenapa selalu ada di setiap antrean yang berdiri terlalu dekat ke orang di depannya padahal antriannya enggak ke mana-mana.

Satu hal yang bikin pagi itu sedikit lebih ringan dari biasanya, gue enggak buru-buru.

Kantor gue punya sistem flexi time, salah satu dari sedikit keputusan manajemen yang gue syukuri sepenuh hati sampai sekarang. Batas masuk paling lambat 9.30, dan jam di layar HP gue masih menunjukkan 08.15. Dengan kata lain, gue punya waktu lebih dari cukup buat sampai kantor, duduk manis, dan pura-pura sudah produktif sejak pagi.

Hidup terasa baik-baik saja.

Ojol yang gue dapat pagi itu dikendarai oleh seorang bapak muda, kalau gue taksir umurnya, enggak jauh berbeda dari gue, mungkin selisih dua atau tiga tahun. Mukanya bersemangat dengan cara yang bikin gue sedikit iri, senyumnya lebar, dan dia menyambut gue dengan anggukan mantap seolah kami berdua adalah tim yang siap menaklukkan jalanan Jakarta, dua orang pejuang kota yang akan menghadapi lampu merah, truk yang nyalip dari kiri, dan kemacetan yang entah kenapa selalu ada meskipun belum jam sembilan.

"Ke Lapangan Banteng ya, Pak."

"Siap, Kak! Langsung gas!"

Baik. Ini akan jadi perjalanan yang menyenangkan, pikir gue.

Dan memang menyenangkan untuk beberapa menit pertama.

***

 

Di tengah perjalanan, motor melambat. Bapak Ojol menoleh ke kiri, lalu ke kanan, dengan ekspresi seseorang yang baru mengingat sesuatu yang penting, persis seperti ekspresi orang yang baru ingat kompor belum dimatiin tapi sudah di jalan tol.

"Kak, boleh mampir pom bensin dulu ya? Bensinnya udah mau habis nih."

Gue lihat jam. 08.23.

Aman. Pengisian bensin paling lama sekitar sepuluh menit. Gue masih punya waktu sangat cukup. Bahkan dengan skenario terburuk sekalipun, macet parah, lampu merah panjang, ada pawai dadakan di tengah jalan, gue masih bisa sampai kantor sebelum batas waktu.

"Boleh, Pak. Santai aja."

"Makasih ya, Kak! Bentar doang kok!"


Sampai di pom bensin, gue pun turun dan berdiri di pinggir trotoar dekat minimarket yang ada di sudut. Gue masih pakai helm, helm warna hijau gonjreng dengan logo ojol yang besar di sisi kanan kirinya, tapi gue pikir, ah bentar doang, enggak usah dilepas juga. Lalu gue mulai melakukan hal yang biasa gue lakukan waktu nunggu: scroll HP tanpa tujuan yang jelas. Buka Instagram, lihat story orang, tutup. Buka lagi, scroll feed, enggak ada yang menarik, tutup lagi. Buka Twitter, eh maksudnya X, baca dua tweet, langsung lelah secara mental, tutup.

Lima menit berlalu.

Gue masih scroll.

Sepuluh menit berlalu.

Gue mulai sedikit bosan, lalu mendongak untuk mengecek antrean pengisian bensin.

Aneh.

Gue enggak lihat motor Bapak Ojol di antrean manapun.

Mungkin udah selesai dan lagi parkir di sudut, pikir gue, masih tenang.

***

 

Lima belas menit berlalu.

Ketenangan itu mulai retak.

Gue mulai keliling area pom bensin dengan langkah santai yang sebetulnya adalah langkah panik yang sangat berusaha terlihat santai, seperti orang yang nyasar di mall tapi enggak mau kelihatan nyasar. Gue cek antrean pertama: enggak ada. Gue cek antrean kedua: enggak ada juga. Gue bahkan sampai ngintip ke arah toilet pom bensin, entah dengan logika apa, seolah mungkin Bapak Ojol sedang parkir motor di depan toilet dan memutuskan untuk singgah sebentar dan hasilnya, tentu saja: enggak ada.

Gue berdiri diam di tengah area pom bensin.

Seorang mas-mas penjaga minimarket mulai ngelirik gue dengan tatapan yang susah didefinisikan. Bukan tatapan curiga, bukan tatapan khawatir, lebih ke tatapan "ini orang kenapa ya?", tatapan yang, belakangan gue sadari, sangat wajar diarahkan ke seseorang yang berdiri sendirian di pom bensin dengan helm hijau gonjreng di kepala, celingukan ke segala arah, tanpa motor dan tanpa tujuan yang jelas.

Gue akhirnya memproses situasinya secara perlahan.

Pengemudi Ojol gue enggak ada di sini. Motornya juga enggak ada. Tapi helm di kepala gue: masih ada, sangat ada, sangat hijau.

Dan kemudian, seperti sebuah realisasi yang datang terlambat tapi datang dengan penuh keyakinan, akhirnya gue sadar: Gue ditinggal!

***

 

Selama beberapa detik gue cuma berdiri, enggak bergerak, seperti NPC dalam game yang belum diklik. Di kepala gue ada dua suara yang berdebat dengan sangat serius:

Suara pertama berkata: Ini pasti ada penjelasannya. Mungkin dia muter dulu. Mungkin dia parkir di tempat lain. Jangan panik.

Suara kedua berkata: Kamu ditinggal. Di pom bensin. Pakai helm orang.

Suara kedua menang. tanpa perlu berdebat panjang.

Lihat selengkapnya