Semua Orang Punya Cerita (Kecuali Gue)

Dhiandra Jatu
Chapter #3

Semesta Belum Selesai Bercanda (Barang Ketinggalan Edisi Kedua)

Kalau ada satu hal yang gue yakini setelah kejadian ditinggal ojol di pom bensin beberapa waktu lalu, itu adalah: manusia belajar dari pengalaman.

Setidaknya begitu teorinya.

Teori yang terdengar sangat masuk akal. Teori yang didukung oleh ribuan tahun evolusi manusia, ratusan buku pengembangan diri, dan setidaknya dua puluh video motivasi yang pernah gue tonton sampai selesai di YouTube.

Padahal praktiknya ternyata hal itu sedikit berbeda.

Karena beberapa minggu setelah kejadian itu, semesta memutuskan untuk melakukan sesuatu yang menurut gue sangat tidak perlu.

Mengulangnya.

 ***

 

Weekend itu sebenarnya berjalan normal.

Seorang teman lama yang sudah bertahun-tahun menghilang dari peredaran tiba-tiba muncul lagi. Bukan muncul dalam artian yang dramatis, tidak ada reuni mengharukan, tidak ada pelukan panjang sambil bilang "gue kangen banget sama lo". Dia muncul dengan cara yang paling generasi gue banget: sebuah pesan singkat yang masuk sore hari, tanpa basa-basi, tanpa pembuka.

"Cuy, masih hidup?"

Gue menatap layar HP beberapa detik.

Ini adalah pertanyaan yang menarik untuk membuka percakapan setelah bertahun-tahun tidak saling menghubungi. Bukan "hai, apa kabar?" Bukan "lama enggak ngobrol, gimana hidup lo?" Tapi langsung ke inti dengan konfirmasi keberadaan biologis.

"Masih. Kenapa?"

"Besok jalan yuk."

Gue pikir sebentar. Agenda hari Minggu gue waktu itu adalah rebahan, scroll HP, pura-pura mau beberes kamar, tapi tidak jadi beberes kamar, rebahan lagi. Padat, tapi fleksibel.

"Oke."

***

 

Keesokan harinya dia datang menjemput gue ke rumah.

Sudah lama kami enggak ketemu, cukup lama sampai gue harus melakukan sedikit penyesuaian mental waktu lihat wajahnya. Bukan karena berubah drastis, tapi karena otak gue butuh beberapa detik untuk mencocokkan wajah di depan gue dengan arsip memori yang tersimpan.

Oh iya. Ini dia. Manusia ini.

Obrolan langsung mengalir bahkan sebelum mobil keluar dari gang. Kami membahas pekerjaan yang makin enggak jelas arahnya, mantan yang untungnya tetap jadi mantan, teman-teman lama yang tiba-tiba punya anak dua padahal rasanya baru kemarin ribut soal tugas kelompok, dan berbagai fakta mengejutkan lainnya yang muncul ketika usia mulai bertambah tapi kedewasaan tidak selalu mengikuti.

Tujuan kami hari itu adalah sebuah restoran viral di Jakarta Selatan.

Karena tentu saja, kalau sudah susah-susah keluar rumah dari pinggiran Tangerang menuju Jakarta dengan menembus tol dan macet, itu rasanya ada aturan tidak tertulis yang mewajibkan kita mencoba makanan yang sedang viral. Entah enak atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting bisa cerita ke orang lain bahwa kita sudah ke sana, dan foto makannya bisa jadi konten yang layak.

Yah, setidaknya itulah prioritas zaman ini.

***

 

Di tengah perjalanan, teman gue melirik indikator bensin dengan ekspresi seseorang yang baru menyadari sesuatu yang seharusnya disadari dari tadi.

"Wah, bensin gue tipis."

Gue melirik indikatornya. Jarum hampir menyentuh huruf E.

"Isi dulu aja."

"Iya, bentar."

Kami masuk ke sebuah pom bensin.

Antreannya panjang, panjang dalam artian masih sempat memikirkan beberapa keputusan hidup sambil menunggu giliran. Tapi suasana di mobil tetap santai. Obrolan masih mengalir dengan musik dari playlist mengisi jeda.

Lalu mata gue menangkap sesuatu.

Di dalam area pom bensin, ada tenant kopi kecil. Bukan kopi kelas atas dengan nama barista yang susah dieja, tapi kopi kekinian yang harganya cukup ramah dan rasanya cukup bisa dinikmati tanpa perlu pura-pura sophisticated.

Sebuah ide muncul.

"Eh, gue beli kopi dulu ya."

"Boleh. Sekalian beliin gue juga."

"Oke. Gula Aren?"

"Iya."

"Less Sugar atau Normal?"

"Less Sugar."

Gue mengangguk, lalu menambahkan dengan nada paling perhatian yang bisa gue usahakan:

"Gue tanya aja biar kelihatan perhatian aja sama lo."

"Pergi sana."

Gue turun dari mobil sambil ketawa.

 ***

 

Proses beli kopi enggak lama.

Paling tujuh atau delapan menit, antre sebentar, pesan, bayar, tunggu.

Gue bahkan sengaja jalan cepat kembali ke arah antrean mobil karena enggak enak kalau dia harus nunggu lama.

Dua cup kopi di tangan.

Mood baik.

Hari baik.

Langit Tangerang yang untuk sekali ini tidak terlalu menyiksa.

Hidup terasa baik-baik saja.

Lalu gue tiba di lokasi antrean mobil.

Dan mendadak hidup terasa sangat familiar.

Mobilnya enggak ada.

Gue berhenti berjalan.

Mengedip.

Menatap ke titik di mana seharusnya ada sebuah mobil dengan seorang teman gue di dalamnya.

Tapi hasilnya kosong.

Menoleh ke kanan.

Menoleh ke kiri.

Gue melihat ke depan, ke belakang, bahkan sempat melirik ke atas dengan logika yang sampai sekarang enggak bisa gue jelaskan.

Enggak ada.

Mobilnya benar-benar enggak ada.

Untuk beberapa detik, gue cuma berdiri diam di tengah area pom bensin, dua cup kopi di tangan, dengan ekspresi yang mungkin dari luar terlihat seperti orang yang sedang deep in thought tapi sebetulnya hanya sedang mengalami krisis kecil berupa dejavu.

"Ini enggak mungkin."

Tapi kenyataannya, sangat mungkin.

Lihat selengkapnya