Semua Orang Punya Cerita (Kecuali Gue)

Dhiandra Jatu
Chapter #4

Semesta Punya Sistem Cashback Sendiri

Kalau semesta punya hobi, gue curiga hobinya adalah membuat kebetulan-kebetulan yang terlalu aneh untuk dianggap kebetulan.

Dan kadang, bentuknya jauh lebih halus.

Begitu halus sampai baru terasa aneh beberapa hari kemudian.

***


Kejadian ini bermula pada suatu malam ketika gue harus mengurus pekerjaan di sebuah gedung pemerintahan dekat Stasiun Palmerah. Kalau ada yang pernah bekerja sampai malam di gedung pemerintahan, kalian pasti tahu satu hal bahwa gedung yang siang hari terlihat megah dan sibuk, malam hari berubah jadi tempat yang terasa sedikit menyeramkan.

Bukan karena ada hantu.

Lebih karena setelah jam kerja selesai, jumlah manusia di dalamnya berkurang drastis dan membuat kita sadar bahwa sebagian besar kenyamanan hidup ternyata berasal dari keberadaan orang lain.

Malam itu pekerjaan gue selesai sekitar jam setengah sebelas, jam yang secara teknis sudah malam dan secara emosional sudah masuk kategori "gue pengen pulang sekarang juga."

Gue membereskan barang-barang, memasukkan laptop ke tas, lalu berjalan menuju pintu belakang gedung. Menurut perhitungan gue, kalau keluar lewat sana, jarak ke Stasiun Palmerah akan jauh lebih dekat dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Masalahnya, perhitungan gue sering terlalu optimis, dan malam itu optimisme gue kalah, karena ternyata pintu belakangnya ttutup.

Terkunci.

Enggak bisa dilewati.

Gue berdiri beberapa detik di depan pintu itu sambil menatap papan pemberitahuan yang tergantung di sana, tulisannya kecil, tapi pesannya jelas: pintu ini dikunci setelah pukul 18.00. 

Gue melirik jam tangan.

22.40.

"Ya tentu saja."

Itu berarti gue harus muter ke pintu depan.

Masalahnya, posisi gedung ini ada di titik yang serba nanggung. Kalau jalan ke stasiun dari pintu depan, jaraknya lumayan jauh. Tapi kalau pesan ojol juga nanggung karena terlalu dekat. Biasanya malah lebih lama nunggu drivernya datang daripada waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke stasiun.

Jadi pilihannya cuma dua, yakni  jalan sambil mengeluh atau nunggu sambil mengeluh.

Dan malam itu gue memilih opsi pertama.

Gue pun berbalik, menarik napas, lalu mulai berjalan menuju gerbang depan.

***


Gue pun berjalan cepat menuju gerbang depan, atau setidaknya berusaha terlihat cepat. Baru beberapa langkah gue jalan, sebuah motor melambat di samping gue.

Seorang ibu-ibu berhenti, wajahnya ramah, helmnya polos, dan cara beliau bertanya terasa seperti orang yang memang berniat membantu.

"Mbak, mau kemana?"

Gue menoleh.

"Ke Stasiun Palmerah, Bu."

"Oh, Palmerah?"

Beliau menunjuk ke arah depan.

"Saya juga lewat sana. Ayo bareng aja."

Jujur, gue butuh beberapa detik untuk mencerna tawaran itu, bukan karena takut atau curiga. Gue cuma enggak nyangka aja, karena dalam pengalaman hidup gue sejauh ini, orang yang tiba-tiba berhenti di pinggir jalan biasanya mau nanya alamat, bukan menawarkan tebengan gratis sampai stasiun.

"Hah? Enggak apa-apa, Bu?" Saya enggak mau ngerepotin..." 

"Enggak apa-apa. Ayo, nanti ketinggalan kereta, mumpung searah sama saya "

Dan entah kenapa, tanpa banyak curiga, gue langsung mengiyakan.

Mungkin karena sudah malam.

Mungkin karena capek.

Atau mungkin karena wajah ibu itu memancarkan aura yang sama seperti ibu-ibu yang suka nyuruh nambah makan saat bertamu dan akhirnya gue langsung mengiyakan tanpa banyak curiga. 

"Kalau gitu, makasih banyak ya, Bu."

"Ayo naik. Mbak"

***


Perjalanan kami tidak lama, paling beberapa menit, Tapi anehnya, justru keheningan singkat itu terasa nyaman dengan caranya sendiri. 

Sesekali beliau bertanya.

"Kerja di situ, Mbak?"

"Enggak, Bu. cuma ada urusan kantor. "

"Pulangnya jauh?"

"Iya, lumayan Bu, ke Serpong"

"Wah." Beliau menoleh sebentar dari balik helm. "Jauh juga. Udah malam lagi."

"Iya, Bu. Sudah biasa."

"Hati-hati di jalan ya."

Lalu kami kembali menikmati keheningan malam, suara motor, angin, dan lampu jalan yang berjejer seperti penonton pertandingan. Gue enggak tahu nama Ibu itu dan Ibu itu juga enggak tahu nama gue. Tapi ada sesuatu yang aneh dari perjalanan singkat itu, kehadirannya terasa seperti kalimat pendek yang maknanya lebih panjang dari tulisannya. 

Aneh ya.

Kadang ada orang yang baru kita kenal lima menit, tapi kehadirannya terasa menenangkan

***


Sesampainya di depan Stasiun Palmerah, gue turun.

"Makasih banyak ya, Bu."

"Iya, sama-sama." Ibu itu tersenyum lebar dari balik helm, senyum yang sederhana, tapi tulus. Jenis senyum yang membuat kita sejenak berhenti dan berpikir, bahwa masih banyak orang baik di luar sana, ternyata.

Motor itu kemudian melaju pergi, menghilang di antara kendaraan lain. 

Sementara gue berlari menuju peron dan berkat tebengan beberapa menit tadi, gue berhasil naik kereta terakhir malam itu. Kalau enggak, kemungkinan besar dompet gue harus berkorban untuk bayar taksi online yang tarifnya kalau malam udah enggak bisa dianggap murah. 

Jadi malam itu, seorang ibu yang bahkan enggak gue kenal berhasil menyelamatkan saldo rekening gue. Hal kecil yang berdampak besar dan gue sering lupa bahwa keduanya bisa datang dari orang yang namanya pun enggak sempat gue tanya. 

Dan untuk itu, gue sangat berterima kasih.

***


Lihat selengkapnya