Blurb
Dua belas tahun setelah meninggalkan Bandung, Arga Prasetya pulang untuk menguburkan ayahnya.
Ia berniat menyelesaikan urusan warisan secepat mungkin, menjual rumah keluarga, lalu kembali pada hidup yang telah dibangunnya jauh dari sana. Namun rumah itu diwariskan kepadanya bersama Naira Hanum—adik tirinya yang dulu ia tinggalkan sebagai gadis kecil dan kini telah menjadi perempuan yang nyaris tak dikenalnya.
Naira menolak menjual.
Baginya, rumah itu bukan sekadar bangunan. Di sanalah ibunya pernah hidup, ayah tiri yang ia rawat hingga akhir menghabiskan sisa usia, dan semua bukti bahwa dirinya pernah menjadi bagian dari sebuah keluarga tersimpan.
Pertengkaran mereka berubah arah ketika Arga, seorang arsitek, menemukan sesuatu yang mustahil pada struktur rumah tersebut.
Dinding yang terlalu tebal.
Pintu lama yang tidak pernah benar-benar dicabut.
Lantai baru yang menutupi lantai sebelumnya.
Dan warna-warna dari masa berbeda yang masih terkubur di balik lapisan berikutnya.
Ayah mereka ternyata tidak pernah membongkar apa pun.
Setiap kali seseorang pergi, ia hanya menutup jejaknya dan membangun sesuatu yang baru di atasnya.
Semakin banyak lapisan rumah dibuka, semakin banyak pula keyakinan Arga dan Naira tentang keluarga mereka yang runtuh. Tentang dua ibu yang tidak pernah benar-benar saling menggantikan. Tentang seorang ayah yang mencintai dengan cara yang justru membuat semua orang sesak. Dan tentang ruang yang ternyata sejak dulu dibangun untuk dua anak yang tak pernah sempat tumbuh bersama di dalamnya.
Namun ada satu hal yang tidak pernah direncanakan siapa pun.
Setelah dua belas tahun terpisah, Arga dan Naira tidak lagi menjadi dua orang yang mereka ingat.
Di antara dinding-dinding yang menyimpan terlalu banyak masa lalu, keduanya harus memutuskan apakah keluarga berarti mempertahankan segala sesuatu yang pernah ada—atau berani membiarkan sebagian pergi agar orang-orang yang masih hidup akhirnya memiliki ruang untuk memilih hidup mereka sendiri.