Semua yang Tak Pernah Pergi

Rizki Ramadhana
Chapter #1

Pemakaman yang Tak Tuntas

Hujan belum berhenti ketika Arga berdiri di depan pintu rumah yang selama dua belas tahun hanya berani ia lihat melalui ingatan.

Air menetes dari ujung rambutnya, merembes ke kerah kemeja hitam yang sejak pagi terasa terlalu sempit. Payung lipat di tangan kanannya tidak banyak membantu. Angin Bandung menggiring gerimis dari samping, membasahi celana dan sepatu kulit yang masih menyimpan tanah merah dari pemakaman.

Arga mengangkat tangan.

Untuk beberapa detik, ia tidak mengetuk.

Rumah itu masih berada di tempat yang sama. Dinding luarnya kini berwarna abu-abu muda, bukan putih gading seperti terakhir kali ia ingat. Pohon kamboja di dekat carport sudah jauh lebih tinggi. Bougenvil yang dahulu dirawat ayahnya sudah tidak ada.

Namun pintu kayu besar di hadapannya masih pintu yang sama.

Ia mengenali goresan tipis dekat gagang.

Bekas kunci sepeda yang pernah ia hantamkan saat terburu-buru berangkat sekolah.

Arga mengembuskan napas.

Dua belas tahun, dan rumah sialan itu masih tahu bagaimana caranya membuat dadanya sesak.

Ia mengetuk.

Tok. Tok.

Tidak ada jawaban.

Arga hendak mengetuk sekali lagi ketika suara langkah terdengar dari dalam.

Kunci berputar.

Pintu terbuka.

Seorang perempuan berdiri di sana.

Arga sempat mengira ia salah rumah.

Perempuan itu mengenakan blus hitam sederhana dan celana panjang gelap. Rambutnya yang hampir mencapai bahu diikat seadanya. Wajahnya pucat karena kelelahan, matanya sedikit sembap, tetapi tatapannya lurus dan tenang.

Arga menatapnya terlalu lama.

Perempuan itu pun tidak segera mengatakan apa-apa.

Lalu sesuatu pada bentuk matanya menarik satu potongan ingatan dari tempat yang selama ini ia kunci rapat.

Seorang gadis kurus berambut panjang berdiri di tangga sambil membawa buku gambar.

Kak Arga, lihat. Aku bikin rumah kita.

Ingatan itu datang dan pergi begitu cepat.

“Naira?”

Bibir perempuan itu bergerak tipis.

“Arga.”

Hanya itu.

Bukan Kak Arga.

Arga tidak tahu mengapa satu kata sederhana itu terasa lebih dingin daripada hujan yang menempel di tengkuknya.

Ia mengangguk kecil. “Aku kira kamu masih di pemakaman.”

“Aku pulang duluan.”

“Oh.”

Keheningan jatuh.

Arga tiba-tiba menyadari betapa bodohnya percakapan itu. Ayah mereka—atau, lebih tepatnya, ayahnya dan ayah tiri Naira—baru beberapa jam dimasukkan ke liang lahat, dan hal pertama yang mereka bicarakan adalah siapa yang pulang lebih dulu.

Naira membuka pintu lebih lebar.

“Masuk.”

Arga melangkah melewatinya.

Aroma rumah menyerangnya terlebih dahulu.

Kayu tua. Kelembapan. Sedikit bau kapur barus. Dan sesuatu yang samar dari dapur, mungkin teh melati.

Aneh.

Sebagian tidak berubah.

Sebagian lagi terasa sama sekali salah.

Arga berdiri di ruang depan sambil menurunkan tas dari bahunya.

Dulu, dari tempat itu ia bisa melihat langsung ke meja makan. Sekarang pandangannya terpotong oleh sebuah dinding pendek dengan rak built-in. Ruang tengah juga tampak lebih sempit daripada yang ia ingat.

Arga mengerutkan kening.

Bukan sekadar karena furniturnya berubah.

Proporsinya memang berbeda.

“Taruh sepatu di situ,” kata Naira.

Arga menoleh.

Naira menunjuk rak kecil dekat pintu.

“Lantainya licin kalau kena air.”

“Ya.”

Ia melepas sepatu.

Perintah itu sepele, tetapi membuatnya merasa seperti tamu.

Mungkin memang begitu.

Naira berjalan lebih dulu menuju ruang tengah.

Arga mengikuti sambil membiarkan matanya bekerja.

Refleks profesi.

Dinding sebelah kiri telah maju kira-kira empat puluh sentimeter. Pintu menuju taman samping yang dulu berada di ujung koridor sudah tidak terlihat. Plafon ruang keluarga diturunkan dan dipasangi lampu tanam. Kusen kayu tua sebagian diganti aluminium.

Namun struktur utama rumah masih terbaca.

Arga masih tahu kolom mana yang menopang lantai atas.

Ia masih tahu di bawah ubin dekat tangga terdapat retakan kecil yang pernah membuat ibunya meminta lantai diganti.

Ia masih—

Arga menghentikan pikirannya.

Jangan.

Ia datang untuk pemakaman.

Setelah itu warisan.

Setelah semuanya selesai, ia akan kembali bekerja.

Sesederhana itu.

“Minum?”

Suara Naira memotong pikirannya.

“Air saja.”

“Teh ada.”

“Air cukup.”

Naira mengangguk lalu menuju dapur.

Arga tetap berdiri.

Pandangan matanya terangkat ke lantai atas.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk, sesuatu yang benar-benar familiar muncul.

Bagian ujung lantai dua masih belum selesai.

Beton ekspos.

Bukaan panjang yang seharusnya menjadi jendela.

Beberapa ujung besi tulangan masih muncul dari balok, meski sudah dilapisi cat antikarat.

Arga hampir tertawa.

Tentu saja.

Setelah dua belas tahun, Ayah masih belum menyelesaikannya.

“Masih begitu?”

Naira muncul membawa segelas air.

Arga menunjuk ke atas.

Naira mengikuti arah pandangnya.

Lihat selengkapnya