Semua yang Tak Pernah Pergi

Rizki Ramadhana
Chapter #2

Warisan dan Wasiat

Pukul sembilan pagi, Naira sudah memindahkan vas bunga dari meja ruang tengah untuk ketiga kalinya.

Bukan karena posisinya salah.

Ia hanya tidak tahan melihat apa pun tampak berubah sejak Arga kembali.

Pagi biasanya sederhana. Ia membuka jendela dapur sebelum matahari naik terlalu tinggi, menyeduh kopi, menyiram tanaman di serambi belakang, lalu mengecek apakah talang dekat ruang kerja masih bocor. Kalau hujan semalam terlalu lama, ia akan meletakkan kain pel di dekat pintu gudang karena air selalu merembes lewat nat lantai sebelah kiri.

Hari ini semuanya terasa berbeda.

Ada koper hitam di kamar tamu.

Ada sepasang sepatu pria di rak dekat pintu.

Dan ada sebuah cangkir kopi yang bukan miliknya di atas meja makan.

Naira menatap cangkir itu.

Arga duduk di seberangnya sambil membaca sesuatu dari tablet. Kemeja hitam pemakaman kemarin telah berganti kaus abu-abu dan celana panjang gelap. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi.

Cara duduknya pun berubah.

Dulu Arga selalu bersandar terlalu jauh sampai dua kaki kursi depan terangkat.

Sekarang punggungnya tegak, satu tangan memegang tablet, tangan lain berada di dekat cangkir.

Terlalu rapi.

Terlalu asing.

“Kalau mau kopi lagi, bubuknya di lemari atas sebelah kanan,” kata Naira.

Arga mengangkat pandangan.

“Yang tutup kayu?”

“Yang kaca.”

“Aku tadi ambil yang tutup kayu.”

“Itu kopi Ayah.”

Arga terdiam sebentar.

Naira menyadari kalimatnya terdengar aneh.

Kopi Ayah.

Seolah Darma masih mungkin turun dari lantai atas dan marah karena seseorang menghabiskan bubuk kopi kesukaannya.

Arga melihat isi cangkirnya.

“Pantas pahit.”

Naira hampir tersenyum.

Hampir.

“Dia memang sukanya begitu.”

“Aku lupa.”

Kalimat itu menggantung di antara mereka.

Naira menunduk dan melanjutkan mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih.

Tentu Arga lupa.

Ia lupa letak kopi.

Lupa pintu samping macet kalau udara terlalu lembap.

Lupa sakelar dekat tangga harus ditekan dua kali karena sudah aus.

Mungkin juga lupa suara Ayah memanggil dari ruang kerja.

Naira ingat semuanya.

Kadang-kadang ia berharap tidak.

Bel berbunyi tepat pukul sepuluh.

Naira meletakkan kain lap.

“Itu pasti Pak Haris.”

Arga berdiri.

“Aku buka.”

“Pintunya susah kalau langsung ditarik.”

Arga berhenti.

Naira melewatinya, memutar kunci sedikit ke kanan, menekan daun pintu dengan bahu, baru kemudian menarik gagangnya.

Pintu terbuka.

Arga menatap mekanisme itu beberapa detik.

“Masih belum dibetulkan?”

“Sudah beberapa kali.”

“Terus?”

“Balik lagi.”

Pak Haris berdiri di luar sambil membawa tas kerja hitam dan map tebal.

“Pagi, Naira.”

“Pagi, Pak. Silakan.”

Pria berusia sekitar lima puluhan itu masuk, lalu menyalami Arga.

“Mas Arga. Sudah lama sekali.”

“Ya.”

Naira melihat Pak Haris menahan komentar yang mungkin ingin keluar.

Terakhir ketemu kamu masih kuliah.

Atau:

Ayahmu sering cerita.

Untungnya ia tidak mengatakan keduanya.

Mereka duduk di ruang tengah.

Pak Haris mengeluarkan beberapa dokumen dan meletakkannya di atas meja.

“Ada beberapa hal administrasi yang nanti perlu kalian lengkapi. Hari ini saya ingin membacakan bagian utama surat wasiat Pak Darma terlebih dahulu.”

Naira mengangguk.

Arga bersandar sedikit.

Pak Haris mulai membaca.

Isinya jauh lebih sederhana daripada yang Naira bayangkan selama beberapa hari terakhir.

Tidak ada pesan rahasia.

Tidak ada kalimat dramatis.

Tidak ada permintaan agar mereka tinggal bersama selama setahun atau menyelesaikan sesuatu demi memperoleh warisan.

Sebagian tabungan dibagi berdasarkan pos yang sudah ditetapkan.

Beberapa barang pribadi diserahkan kepada pihak tertentu.

Dokumen keluarga disimpan bersama arsip.

Lalu sampailah pada rumah.

Pak Haris menyesuaikan kacamatanya.

“Untuk tanah berikut bangunan rumah yang terletak di alamat ini, kepemilikan diwariskan dalam bagian yang sama besar kepada Arga Prasetya dan Naira Hanum.”

Naira sudah tahu.

Namun mendengarnya tetap terasa berbeda.

Lima puluh persen miliknya.

Lima puluh persen milik Arga.

Rumah yang selama bertahun-tahun hanya dihuni dirinya dan Darma sekarang secara hukum juga menjadi milik orang yang baru kembali kemarin sore.

Pak Haris melanjutkan menjelaskan beberapa hal mengenai sertifikat, kewajiban pajak, dan proses administrasi.

Naira mendengar, tetapi tidak benar-benar menyimak.

Ia menatap meja.

Ada goresan kecil dekat kakinya.

Ayah pernah menjatuhkan obeng di sana.

“Naira?”

Ia mengangkat kepala.

Pak Haris menatapnya. “Sampai sini ada yang ingin ditanyakan?”

“Belum, Pak.”

Lihat selengkapnya