“Berdiri di situ sebentar.”
Naira yang sedang membawa keranjang cucian berhenti di ambang ruang makan.
Arga mengarahkan meteran laser ke dinding di belakangnya.
Satu titik merah muncul beberapa sentimeter dari siku Naira.
Perempuan itu menatap titik tersebut, lalu Arga.
“Kalau mau menembak, bilang dulu.”
Arga menurunkan alatnya. “Ini laser pengukur, bukan senapan.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa—”
“Aku cuma lagi berusaha memahami kenapa jam delapan pagi rumah ini sudah berubah jadi lokasi survei.”
Arga menekan tombol.
Bip.
Angka muncul di layar.
4,83 meter.
Ia mengetiknya ke aplikasi catatan di ponsel.
“Karena kita perlu tahu kondisi sebenarnya sebelum mengambil keputusan soal rumah.”
Naira mendengus kecil.
“Keputusan menjual rumah, maksudmu.”
“Keputusan apa pun.”
“Lucu. Kemarin keputusanmu terdengar cukup final.”
Arga tidak menjawab.
Ia berpindah ke dinding seberang dan kembali mengangkat meteran.
Bip.
3,97 meter.
Salah.
Arga mengerutkan kening.
Ia mengukur lagi.
Hasilnya tetap sama.
Naira sudah berjalan menuju dapur ketika Arga memanggilnya.
“Sebentar.”
“Apa?”
“Dinding ini sejak kapan maju?”
Naira memandang permukaan yang ditunjuk Arga.
“Dinding mana?”
“Yang ini.”
“Ya itu dinding.”
“Aku tahu itu dinding.” Arga menarik napas. “Maksudku, dulu posisinya lebih ke belakang.”
Naira menatapnya seolah sedang menilai apakah pertanyaan itu layak dijawab.
“Mungkin.”
“Mungkin?”
“Aku nggak pernah mengukur ruang makan pakai laser.”
Arga menatapnya.
Naira mengangkat bahu dan pergi.
Arga kembali memperhatikan dinding.
Semalam ia sudah menemukan ketebalan aneh antara ruang makan dan ruang tengah. Pagi ini ia ingin memastikan apakah itu hanya satu kasus atau pola.
Setelah membuka keenam denah dari kabinet Darma, ia hampir tidak tidur.
Bukan karena sedih.
Ia enggan mengakuinya, tetapi rasa penasaranlah yang membuat pikirannya terus bekerja.
Rumah itu tidak masuk akal.
Dan hal-hal yang tidak masuk akal selalu mengganggunya.
Arga mengambil meteran gulung dari tas.
Kali ini ia mengukur manual.
Hasilnya tidak jauh berbeda.
Ia berjalan ke teras depan, lalu mengukur bentang luar bangunan.
Beberapa menit kemudian ia kembali ke dalam dan mencatat angka.
Naira muncul membawa dua cangkir.
“Apa lagi?”
Arga tidak melihatnya.
“Lebar luar dari fasad ke dinding belakang dua belas koma delapan.”
“Terus?”
“Kalau ukuran ruang di dalam dijumlahkan, ditambah ketebalan dinding normal, seharusnya sekitar dua belas koma satu.”
Naira menyerahkan satu cangkir kopi.
“Selamat.”
Arga akhirnya menoleh.
“Selamat apa?”
“Kamu menemukan tujuh puluh sentimeter.”
“Naira.”
“Minum dulu.”
Arga menerima kopi itu.
“Ini bukan soal tujuh puluh sentimeter.”
“Memangnya tujuh puluh sentimeter bisa kabur?”
“Kalau ruang dalam lebih pendek dibanding dimensi luar sebanyak itu, berarti ada area yang tidak terbaca.”
Naira menyandarkan pinggul ke meja makan.
“Area yang tidak terbaca.”
“Dinding tambahan. Void. Instalasi. Apa pun.”
“Rumah tua memang begitu.”
“Rumah tua tidak otomatis melanggar geometri.”
Naira mengangkat cangkir ke bibir.
Arga mengabaikannya dan kembali melihat catatan.
Di ruang keluarga, beda level lantai mencapai hampir empat sentimeter dari koridor.
Ia menunjuk lantai.
“Ini juga.”
Naira mengikuti arah jarinya.
“Apa?”
“Lantainya naik.”
“Oh.”
“Kapan?”
“Kalau yang ini, sekitar delapan tahun lalu.”
“Kenapa?”
“Keramiknya diganti.”
“Yang lama dibongkar?”
Naira terdiam sebentar.
“Seingatku, tidak.”
Arga menatapnya.
“Keramik baru dipasang di atas keramik lama?”
“Mungkin.”
“Itu menambah beban mati.”
“Waktu itu Ayah bilang lebih cepat.”
Arga mengusap wajah.
“Tentu saja.”
Naira menyipitkan mata. “Kenapa?”