“Tidak.”
Naira bahkan tidak membiarkan Arga menyelesaikan kalimatnya.
Pria itu berdiri di depan dinding antara ruang tengah dan ruang makan dengan meteran di tangan, seolah penolakan Naira hanyalah angka lain yang bisa dihitung ulang.
“Aku cuma mau buka sedikit.”
“Sedikit versi kamu itu seberapa?”
“Dua puluh sentimeter.”
“Tidak.”
“Naira.”
“Arga.”
Arga mengembuskan napas panjang.
Pagi baru lewat pukul sembilan, tetapi Naira sudah merasa percakapan itu berlangsung terlalu lama.
Sejak bangun tidur, Arga hampir tidak berhenti memeriksa rumah. Dia datang ke dapur membawa sketsa, mengukur koridor, lalu berdiri hampir sepuluh menit di depan bekas kusen yang mereka temukan kemarin.
Sekarang dia ingin membobol dinding.
Tentu saja.
Tiga hari setelah pulang, Arga sudah menemukan cara untuk mulai membongkar rumah yang ingin dijualnya.
“Aku bukan mau merobohkan dinding,” katanya.
“Belum.”
“Aku perlu lihat lapisannya.”
“Untuk apa?”
“Supaya tahu konstruksinya.”
“Untuk laporan penjualan?”
Arga menatapnya.
Naira menyilangkan tangan di dada.
“Nah.”
“Ini bukan soal penjualan.”
“Kemarin masih.”
“Sekarang ada hal lain.”
“Rumah ini tiba-tiba jadi teka-teki buat kamu?”
Arga melirik dinding.
“Mungkin.”
Jawaban itu justru membuat Naira semakin kesal.
Rumah itu bukan permainan.
Bukan proyek.
Bukan bangunan asing yang bisa dia bongkar demi memuaskan rasa penasaran.
Bagi Arga, mungkin sekarang semua ini menarik karena ada sesuatu yang tidak cocok dengan denah.
Bagi Naira, setiap lubang yang dibuat berarti debu yang harus dibersihkan, cat yang harus diperbaiki, dan kemungkinan kerusakan yang akan tinggal setelah Arga kembali ke Singapura.
Ia tahu pola itu.
Arga datang.
Arga mengubah sesuatu.
Arga pergi.
“Aku nggak mau ada tembok bolong,” kata Naira.
“Aku tutup lagi.”
“Kapan?”
“Hari ini.”
“Kamu sendiri?”
“Kalau perlu aku panggil tukang.”
“Terus besok kamu mau buka bagian lain?”
“Naira.”
“Jawab.”
Arga memijat pangkal hidung.
“Aku belum tahu.”
“Tuh, kan.”
Naira berbalik hendak pergi.
“Naira.”
Ia berhenti.
“Aku cuma butuh bukaan kecil,” lanjut Arga. “Kalau ternyata dindingnya normal, selesai. Aku tutup lagi dan nggak ganggu bagian ini.”
Naira menoleh.
“Kalau ternyata nggak normal?”
Arga diam sebentar.
“Itu yang mau aku tahu.”
Sialnya, rasa ingin tahu itu menular.
Naira membenci fakta tersebut.
Sejak Arga menemukan kusen tersembunyi kemarin, pikirannya juga tidak bisa sepenuhnya lepas dari rumah.
Bukan hilang. Ditutup.
Ia sendiri yang mengatakannya.
Namun selama bertahun-tahun, kalimat itu hanyalah kesimpulan praktis dari kebiasaan Darma.
Ayah tidak membuang pintu lama.
Ayah menutup dinding.
Ayah memasang keramik baru di atas keramik lama.
Tidak pernah terpikir olehnya bahwa semua itu mungkin membentuk pola yang bisa dibaca.
Naira menatap titik yang ditunjuk Arga.
“Dua puluh sentimeter.”
Arga mengangguk.
“Dan setelah selesai, ditutup lagi.”
“Iya.”
“Catnya sama.”
“Bisa.”
“Debunya kamu yang bersihkan.”
Arga mengangkat alis.
“Aku?”
“Kamu yang mau buka.”
“Baik.”
“Dan kalau temboknya runtuh—”
“Nggak akan runtuh.”
“Kalau runtuh?”
“Aku perbaiki.”
Naira mendecakkan lidah.
“Semua jawaban kamu gampang.”
“Karena memang bisa diperbaiki.”
Kalimat itu membuat Naira menatapnya sedikit lebih lama.
Arga tidak menyadari apa yang baru saja dikatakannya.
Atau mungkin menyadari, tetapi memilih tidak memikirkan.
“Ya sudah,” kata Naira akhirnya. “Buka.”
Bunyi palu pertama terdengar lebih keras daripada yang Naira bayangkan.
Tak.
Ia berdiri hampir tiga meter dari Arga sambil menutupi hidung dengan masker kain.
Tak.
Serpihan cat jatuh ke plastik yang sudah mereka bentangkan di lantai.
“Pelan,” katanya.
Arga tidak menoleh.
“Aku pelan.”
Tak.
“Menurut definisi siapa?”
Arga berhenti.
“Naira, kalau kamu terus komentar setiap aku mukul, kita bisa selesai malam.”
“Bagus. Berarti kamu kapok.”
Arga menggeleng, lalu kembali bekerja.