Hujan turun tepat ketika Arga hendak membuka bagian kedua dinding.
Bukan gerimis tipis yang bisa diabaikan, melainkan hujan Bandung yang datang seperti tirai—rapat, dingin, dan tiba-tiba membuat halaman belakang menghilang di balik warna abu-abu.
Arga baru sempat meletakkan pahat di lantai ketika suara guntur terdengar.
Beberapa detik kemudian, lampu padam.
“Bagus,” gumam Naira dari ruang makan. “Rumahnya ikut protes.”
Arga menoleh.
Dalam gelap, hanya cahaya mendung dari jendela yang membuat siluet Naira masih terlihat.
“Bukan karena dinding.”
“Kamu yakin?”
“Aku belum sampai kabel.”
“Belum.”
Arga mendengus.
Naira mengambil ponselnya dan menyalakan senter.
“Jangan sentuh apa-apa dulu.”
“Aku bukan anak kecil.”
“Kalau lihat cara kamu bongkar rumah sejak kemarin, aku belum yakin.”
Arga hampir membalas, tetapi suara hujan semakin keras di atap.
Mereka berhenti bekerja.
Lubang kecil pada dinding yang dibuka kemarin sudah ditutup sementara dengan plastik agar debu tidak terus beterbangan. Tidak ada gunanya melanjutkan dalam pencahayaan seperti ini.
Naira mengambil dua lilin dari laci dapur.
“Masih simpan lilin?”
“Listrik di sini kadang mati kalau hujan besar.”
“Sejak dulu.”
“Kamu ingat juga.”
“Ada beberapa hal.”
Naira menatapnya sesaat, lalu membawa lilin ke serambi belakang.
Arga ikut.
Serambi itu tidak banyak berubah.
Atapnya diperpanjang sedikit. Lantainya sekarang menggunakan ubin abu-abu kasar. Namun railing kayu di tepi kebun masih sama, termasuk satu sambungan miring yang sejak dulu seharusnya diganti.
Udara dingin masuk bersama percikan hujan.
Naira duduk di kursi rotan.
Arga memilih kursi di seberangnya.
Di antara mereka ada meja kecil dengan dua lilin.
Untuk beberapa menit, tidak ada yang berbicara.
Hanya suara hujan.
Air mengalir dari talang, jatuh terlalu deras pada satu titik dekat sudut serambi.
Arga melihat ke atas.
“Talang sebelah kiri mampet.”
“Aku tahu.”
“Harus dibersihkan.”
“Sudah.”
“Kapan?”
“Dua minggu lalu.”
Arga memperhatikan aliran air.
“Berarti kemiringannya salah.”
Naira menyandarkan kepala ke kursi.
“Kamu benar-benar nggak bisa melihat rumah tanpa cari kesalahan, ya?”
“Bukan salah. Masalah teknis.”
“Itu namanya salah dengan kosakata lebih mahal.”
Arga tersenyum kecil.
Naira melihatnya.
Lalu, tanpa ia sadari, suasana yang sejak kepulangannya selalu terasa tegang sedikit melonggar.
Mungkin karena mereka tidak sedang membahas Darma.
Tidak sedang membahas wasiat.
Tidak sedang membuka dinding.
Hanya duduk sambil menunggu listrik kembali menyala.
Arga menatap laptop yang tergeletak di kursi sebelah Naira.
“Aku baru tahu kamu nulis.”
Naira mengikuti arah pandangnya.
“Kenapa? Aku nggak kelihatan seperti orang yang bisa nulis?”
“Bukan begitu.”
“Terus?”
“Aku ingat kamu dulu suka bikin cerita.”
Naira menaikkan alis.
“Nah. Ternyata kamu masih ingat sesuatu.”
Arga mengabaikan sindiran itu.
“Kamu dulu bikin buku sendiri pakai kertas HVS dilipat.”
“Dan kamu pernah bilang ceritaku kepanjangan.”
“Memangnya tentang apa?”
“Seekor kucing yang mau kabur dari rumah.”
Arga tertawa kecil.
“Agak menyeramkan kalau dipikir sekarang.”
“Kenapa?”
“Anak sebelas tahun bikin cerita tentang kabur dari rumah.”
“Dia balik lagi di akhir.”
“Jadi aman.”
“Belum tentu.”
Arga menatap Naira.
Perempuan itu tersenyum samar pada hujan.
Ada sesuatu yang berubah ketika ia membicarakan pekerjaannya. Bahunya lebih santai. Suaranya tidak lagi berhati-hati seperti ketika membicarakan Darma.
“Kamu nulis apa sekarang?” tanya Arga.
“Skenario.”
“Film?”
“Kadang. Lebih sering serial.”
“Televisi?”
“Streaming. Digital. Macam-macam.”
“Bagus?”
Naira menoleh tajam.
“Pertanyaan macam apa itu?”
“Maksudku pekerjaannya.”
“Oh.”
Naira berpikir sebentar.
“Kadang menyenangkan. Kadang aku diminta mengubah karakter karena produser bilang tokohnya terlalu realistis.”
“Bukannya realistis bagus?”
“Tidak kalau mereka mau semua orang cantik, kaya, dan punya rumah tiga lantai.”
Arga melihat sekeliling.
“Rumah tiga lantai ternyata banyak masalahnya.”
“Nah. Itu nggak pernah masuk skenario.”
“Aku bisa jadi konsultan.”
“Supaya tiap episode isinya orang debat ketebalan dinding?”
“Lebih masuk akal daripada amnesia setelah jatuh dari tangga.”
Naira tertawa.
Kali ini lebih lama.
Arga memperhatikannya.
Ada garis tipis di dekat matanya ketika ia tertawa. Rambutnya yang tadi diikat sekarang sedikit lepas karena udara lembap. Ia mengusap beberapa helai yang menempel di pipi tanpa sadar.
Arga buru-buru memandang hujan.
Ini Naira.
Nama itu seharusnya cukup untuk mengembalikan semuanya pada tempatnya.
Namun masalahnya, tempat itu tidak lagi jelas.
Gadis kecil yang ia ingat sudah tidak ada.
Yang duduk di hadapannya adalah perempuan dua puluh lima tahun yang punya pekerjaan, pendapat, cara tertawa, dan kemarahan yang tidak lagi membutuhkan perlindungan siapa pun.
“Kalau kamu?” tanya Naira.
Arga mengangkat kepala.