Semua yang Tak Pernah Pergi

Rizki Ramadhana
Chapter #6

Luka Ibu Masing-Masing

Pagi itu, buku kerja Darma masih berada di atas meja ruang makan.

Naira sudah memindahkannya dua kali.

Pertama karena takut terkena tumpahan kopi.

Kedua karena Arga meletakkan laptop terlalu dekat.

Sekarang buku hitam itu kembali terbuka di antara mereka seperti anggota keluarga ketiga yang memaksa ikut sarapan.

“Mulainya dari mana?” tanya Naira.

Arga membalik beberapa halaman.

“Dari awal.”

“Awalnya tahun 1997.”

“Ya.”

“Berarti sebelum aku tinggal di sini.”

Arga tidak langsung menjawab.

Naira tahu kenapa.

Tahun-tahun awal rumah itu adalah milik orang lain.

Milik Darma.

Milik Mira.

Milik Arga.

Ia sendiri baru masuk jauh setelahnya.

“Kalau kamu nggak nyaman—” ujar Arga.

“Aku nggak bilang nggak nyaman.”

“Aku cuma—”

“Baca saja.”

Arga mengangguk.

Mereka duduk berdampingan, tidak berhadapan seperti biasanya. Buku kerja terlalu besar untuk dibaca dari dua sisi.

Halaman-halaman awal berisi hal sederhana.

Perbaikan talang.

Penggantian genteng.

Pengecatan.

Catatan ukuran jendela.

Nama toko material.

Nomor telepon tukang.

Tulisan Darma tegas dan kecil, hampir tidak berubah selama bertahun-tahun.

Naira mengenal tulisan itu.

Daftar obat di kulkas.

Pesan singkat di meja.

Catatan belanja.

Namun melihatnya memenuhi ratusan halaman terasa berbeda.

Seolah Darma berbicara lebih banyak kepada rumah daripada kepada manusia.

Arga menghentikan jarinya pada sebuah halaman.

“Ini.”

Naira mendekat.

Tahun 2003.

Ada gambar kasar kamar di lantai atas.

Pada bagian atas tertulis:

KAMAR ARGA — jangan ubah layout utama.

Arga terdiam.

Naira membaca catatan di bawahnya.

Permintaan Mira: biarkan kamar tetap tersedia untuk Arga. Bila barang dipindah, simpan. Jangan ubah posisi meja dan lemari permanen sebelum Arga memutuskan sendiri.

Naira menoleh.

Wajah Arga tidak berubah banyak.

Justru itu yang membuat reaksinya terlihat jelas.

Rahangnya sedikit mengeras.

Tangannya berhenti di tepi halaman.

“Mira yang minta?” tanya Naira.

Arga mengangguk pelan.

“Aku nggak tahu.”

Naira membaca ulang.

Tidak ada kalimat romantis.

Tidak ada tanda bahwa Mira ingin kembali.

Hanya satu ibu yang meminta mantan suaminya menyisakan tempat untuk anak mereka.

Arga membalik halaman, lalu kembali lagi.

Seolah ia berharap tulisan itu berubah.

“Nggak pernah ada yang cerita?” tanya Naira.

“Tidak.”

“Ibumu?”

Arga menggeleng.

“Ayah?”

“Jelas tidak.”

Naira hendak mengatakan sesuatu, tetapi menahan diri.

Jelas tidak.

Banyak hal tentang Darma memang selalu berhenti pada asumsi seperti itu.

Jelas tidak akan bicara.

Jelas tidak akan meminta maaf.

Jelas tidak akan menjelaskan.

Mungkin selama ini mereka semua terlalu terbiasa menebak.

Arga membaca catatan berikutnya.

Rak buku boleh dipindah. Meja tetap. Cat ulang jika perlu, warna sebaiknya dikembalikan sesuai pilihan Arga.

Ada satu catatan kecil dengan tinta berbeda:

Kalau pulang, biar dia merasa kamarnya masih ada.

Arga mengembuskan napas.

Pelan.

Naira tidak tahu apakah tulisan terakhir itu milik Mira atau Darma.

Tidak ada tanda tangan.

Tidak penting.

Yang penting adalah kalimat itu berhasil melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan siapa pun selama dua belas tahun terakhir.

Membuat Arga diam.

“Aku selalu pikir...” katanya akhirnya.

Naira menunggu.

“Apa?”

Arga menatap halaman.

“Aku pikir setelah mereka cerai, semuanya selesai.”

“Nggak sepenuhnya.”

“Maksudku rumah ini.”

Ia mengusap rambutnya.

“Aku pikir Ayah berubah semuanya setelah nikah sama Tante Salma.”

Naira otomatis menoleh.

Tante Salma.

Sudah lama ia tidak mendengar Arga menyebut ibunya begitu.

Tidak salah.

Tidak juga terasa benar.

“Aku pikir kamar itu dibiarkan kosong cuma sampai aku pergi kuliah,” lanjut Arga. “Setelah itu... ya sudah.”

“Terus kamu anggap waktu aku sama Ibu masuk, semuanya langsung diganti?”

Arga diam.

Naira tidak perlu jawaban.

Diamnya cukup.

Ia menunduk lagi pada buku.

Anehnya, Naira tidak marah.

Mungkin karena mereka sudah membicarakan bagian itu kemarin.

Mungkin karena sekarang ia bisa melihat dari mana keyakinan Arga muncul.

Tidak berarti keyakinan itu adil.

Namun setidaknya punya bentuk.

“Halaman setelahnya,” kata Naira.

Arga membalik.




Catatan semakin banyak.

Ada perubahan kecil pada dapur.

Perbaikan atap belakang.

Penggantian pintu.

Beberapa bagian mulai menggunakan istilah yang sudah mereka lihat kemarin:

Lihat selengkapnya