Arga menatap dua huruf itu terlalu lama.
A / N
Tulisannya kecil, nyaris tenggelam di antara garis ukuran dan catatan struktur pada halaman buku kerja Darma.
Ia sudah melihatnya sejak kemarin.
Sudah memikirkannya sebelum tidur.
Sudah mencoba mencari kemungkinan lain ketika bangun pagi.
Namun semakin lama ia menatap, semakin terasa bahwa Naira mungkin benar.
A dan N bisa berarti Arga dan Naira.
Masalahnya, Arga belum siap menerima kesimpulan itu.
Ia menutup buku kerja.
“Kita lihat arsip lain.”
Naira yang sedang duduk di seberangnya mengangkat kepala.
“Kenapa?”
“Karena kita belum tahu A sama N itu apa.”
“Kamu punya teori lain?”
“Bisa nama ruang. Bisa kode material.”
Naira mengangkat alis.
“Material apa yang singkatannya A garis miring N?”
“Makanya kita cari.”
“Kamu benar-benar nggak mau percaya itu nama kita, ya?”
Arga berdiri.
“Bukan soal percaya.”
“Terus?”
“Soal bukti.”
Naira menatapnya beberapa detik sebelum ikut bangkit.
“Arsitek.”
“Apa?”
“Enggak apa-apa.”
Nada itu jelas berarti sesuatu.
Arga memilih tidak bertanya.
Mereka kembali ke ruang kerja Darma.
Sejak buku hitam ditemukan, ruangan itu seperti berubah fungsi. Bukan lagi ruang kerja orang yang sudah meninggal, melainkan pusat penyelidikan yang semakin hari semakin memakan waktu mereka.
Beberapa gulungan denah sudah memenuhi meja.
Map arsip ditumpuk di lantai.
Satu ember masih berada di bawah bekas rembesan plafon.
Arga membuka lemari bagian bawah.
“Ada foto?”
“Album keluarga di kabinet sebelah.”
“Kamu simpan semuanya di sini?”
“Ayah yang simpan.”
“Semua?”
Naira menggeser sebuah kardus.
“Kalau soal simpan barang, kamu sudah tahu jawabannya.”
Benar.
Darma menyimpan hampir semuanya.
Arga mengeluarkan album pertama.
Sampulnya sudah menguning di tepi.
Tahun 1998 tertulis kecil di sudut.
Ia membukanya.
Foto pertama memperlihatkan dirinya masih anak-anak, berdiri di depan rumah bersama Mira dan Darma.
Arga menahan napas.
Ibunya tampak jauh lebih muda daripada yang ia ingat. Rambutnya sebahu. Kemeja putih. Satu tangan memegang bahu Arga.
Darma berdiri di sisi lain.
Mereka bertiga tersenyum ke kamera.
Keluarga.
Kata itu datang terlalu cepat.
Arga membalik halaman.
Ulang tahun.
Hari pertama sekolah.
Piknik.
Mira memegang kue.
Darma memasang lampu taman.
Arga kecil berdiri di tangga dengan seragam sekolah.
Tidak ada satu pun bagian dari foto-foto itu yang menunjukkan apa yang akan terjadi kemudian.
“Album ini masih ada,” kata Arga.
Naira yang sedang membongkar map lain tidak menoleh.
“Ya.”
“Aku kira setelah Ibu pergi—”
“Kamu kira Ayah buang?”
Arga tidak menjawab.
Naira akhirnya melihat kepadanya.
“Dia nggak buang.”
Arga kembali menatap album.
Ada sesuatu seperti rasa lega yang malu-malu muncul dalam dirinya.
Kecil.
Tapi nyata.
Selama bertahun-tahun ia membayangkan kehidupan Darma bergerak lurus.
Mira pergi.
Salma datang.
Arga pergi.
Naira tinggal.
Keluarga lama selesai.
Keluarga baru dimulai.
Namun foto-foto ini tidak pernah keluar dari rumah.
Jejak Mira masih ada.
Kamar Arga dulu dipertahankan atas permintaan Mira.
Cat hijau masih tertanam di balik dinding baru.
Kusen-kusen lama tidak dicabut.
Mungkin selama ini ia salah.
Mungkin ayahnya memang tidak pernah benar-benar mengganti mereka.
Arga membalik halaman terakhir album.
“Ayah nyimpan semuanya.”
Suara Naira terdengar dari belakang.
“Aku sudah bilang.”
“Bukan itu maksudku.”
Naira terdiam.
Arga menutup album.
“Mungkin aku salah selama ini.”
“Dalam hal apa?”
“Aku selalu pikir dia membangun keluarga baru seolah keluarga sebelumnya nggak pernah ada.”
Naira menatapnya tanpa ekspresi.
“Tapi ternyata dia tetap simpan foto Ibu. Kamar juga nggak langsung diubah. Dinding lama masih ada.”
Naira masih diam.
Arga melanjutkan, semakin yakin pada jalur pikirannya sendiri.
“Berarti dia nggak benar-benar menghapus kami.”
“Arga.”