“Geser sedikit.”
Naira mengangkat papan catatannya.
“Ke kiri atau kanan?”
“Kiri.”
Ia bergeser setengah langkah.
“Sedikit lagi.”
Naira bergeser lagi.
“Stop.”
Titik merah dari meteran laser Arga berhenti tepat di atas bahunya.
Bip.
Arga melihat angka di layar.
“Empat koma dua belas.”
Naira menulis.
“Empat koma dua belas.”
“Sekarang yang diagonal.”
Naira menurunkan papan.
“Kenapa harus aku yang berdiri di sana?”
“Supaya aku punya patokan.”
“Kamu punya dinding.”
“Dindingnya nggak bisa protes.”
Naira menatapnya datar.
Arga tertawa kecil.
“Jangan bergerak.”
“Kamu senang sekali nyuruh orang.”
“Profesi.”
“Karakter.”
Arga mengarahkan alat lagi.
Bip.
“Lima koma nol tiga.”
Naira mencatat.
Mereka sudah melakukan itu hampir empat jam.
Ruang tengah.
Ruang makan.
Dapur.
Koridor.
Kamar bawah.
Dua kamar atas.
Bagian belakang.
Setiap ruangan diukur lebih teliti daripada sebelumnya.
Awalnya Naira mengira ia akan bosan setelah lima belas menit.
Ternyata tidak.
Ada sesuatu yang anehnya menyenangkan dari pekerjaan itu.
Arga mengukur.
Naira mencatat.
Arga menyebut angka.
Naira mengulang.
Sesekali mereka berhenti karena hasilnya tidak cocok, lalu berdebat apakah masalahnya ada pada dinding atau cara Naira menulis angka.
“Ini dua sembilan puluh delapan,” kata Arga.
Naira melihat catatan.
“Kamu tadi bilang dua sembilan puluh enam.”
“Nggak.”
“Bilang.”
“Aku yakin nggak.”
Naira membalik papan ke arahnya.
“Tulisanku jelas.”
Arga membaca.
“Dua sembilan puluh enam.”
“Nah.”
“Itu berarti kamu salah dengar.”
Naira mendongak.
“Kok otomatis aku?”
“Karena aku nggak pernah salah baca meteran.”
“Wah.”
“Apa?”
“Kalimat orang yang sebentar lagi kena karma.”
Arga menggeleng.
“Kita ukur ulang.”
Mereka melakukannya.
Angka di layar muncul.
2,96.
Naira tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya menatap Arga.
Arga memandangi alatnya.
Lalu Naira.
“Meterannya mungkin—”
Naira langsung tertawa.
“Jangan.”
“Kalibrasinya—”
“Jangan berani-berani menyalahkan alat.”
Arga mencoba menahan senyum.
“Nggak ada yang perlu dibesar-besarkan.”
“Aku mau kasih tanggal di sini.”
“Buat apa?”
“Dokumentasi. Hari ketika Arga Prasetya salah.”
Arga merebut papan catatan.
“Balikin.”
“Tidak.”
Naira mengejarnya dua langkah.
Arga mengangkat papan lebih tinggi.
“Arga!”
“Catatan proyek nggak boleh dicemari opini.”
“Ini rumahku.”
“Setengah.”
Naira langsung berhenti.
Keduanya saling memandang.
Kalimat itu seharusnya memicu pertengkaran lagi.
Beberapa hari lalu, mungkin iya.
Namun sekarang Arga justru menurunkan papan dan berkata, “Oke. Rumah kita.”
Naira membeku satu detik.
Arga menyerahkan kembali papan seolah tidak terjadi apa-apa.
“Lanjut?”
Naira menerima.
“Lanjut.”
Tapi sepanjang beberapa menit berikutnya, tulisan angka di kertasnya tampak sedikit lebih jelek.
Menjelang sore, mereka pindah ke lantai atas.
Ruang utara masih mereka abaikan.
Arga mengatakan ia belum mau menyentuhnya sebelum tahu hubungan antara gambar A/N dan struktur rumah.
Jadi mereka fokus pada bagian yang lain.
Naira memegang ujung meteran di dekat jendela.
“Tegangin.”
“Sudah.”
“Belum.”
“Sudah, Arga.”
“Naira.”
“Ini sudah paling tegang.”
Arga menarik sedikit.
Meteran lepas dari tangan Naira dan kembali tergulung dengan bunyi keras.
Cetak!
Naira tersentak.
Arga tertawa.
“Kamu sengaja!”
“Aku bilang tegangin.”
“Aku lakukan.”
“Kamu dulu juga begini.”
Naira berhenti.
“Dulu?”
Arga mengambil meteran.
“Kalau diminta pegang apa pun, kamu selalu lepas.”
“Aku umur sebelas.”
“Dan keras kepala.”
“Kamu yang nyebelin.”
“Kamu pernah nangis karena aku nggak kasih pegang bor.”
“Itu nggak masuk akal.”
“Masuk akal.”
“Aku nggak mungkin minta pegang bor umur sebelas.”
“Makanya nggak aku kasih.”
Naira mencoba mengingat.