Naira membaca kalimat pertama itu tiga kali.
Darma, aku mulai mengerti bahwa masalah rumah ini bukan Mira.
Huruf-huruf Salma sedikit miring ke kanan, sama seperti tulisan pada daftar belanja yang dulu sering ditempel di pintu kulkas. Tidak rapi, tetapi mudah dikenali.
Naira mengusap ujung kertas dengan ibu jari.
Dadanya terasa penuh.
Ada sesuatu yang salah dengan membaca surat seseorang yang sudah meninggal, apalagi surat yang jelas tidak pernah dikirim.
Namun namanya sendiri tertulis pada salah satu amplop di bawah.
Nama Darma ada di hampir semua surat.
Dan ibunya menyembunyikannya di balik kabinet.
“Naira?”
Suara Arga terdengar dari koridor.
Naira buru-buru menghapus sudut matanya.
“Aku di sini.”
Arga muncul beberapa detik kemudian.
Pandangan pertamanya jatuh pada kabinet yang bergeser.
Lalu pada kotak logam di lantai.
Kemudian surat di tangan Naira.
“Apa itu?”
Naira tidak langsung menjawab.
Ia menyerahkan halaman pertama.
Arga membaca bagian atasnya.
Ekspresinya berubah.
“Ini tulisan ibumu?”
Naira mengangguk.
“Ketemu di belakang kabinet.”
Arga berjongkok di samping kotak.
“Ada berapa?”
“Banyak.”
“Kamu sudah baca?”
“Baru yang ini.”
Arga hendak mengembalikan surat.
“Kalau kamu nggak mau aku ikut baca—”
“Duduk saja.”
Arga menatapnya.
“Yakin?”
“Kalau Ibu sembunyikan semua ini di rumah Ayah, kemungkinan isinya memang tentang kita semua.”
Naira bergeser, memberi ruang di lantai.
Arga duduk.
Jarak di antara mereka lebih lebar daripada tadi malam.
Naira menyadarinya.
Ia juga tahu Arga menyadarinya.
Tidak seorang pun membahas apa yang hampir terjadi di ruang makan.
Bagus.
Belum sekarang.
Naira mengambil surat pertama kembali.
Bagian setelah kalimat pembuka menjelaskan sesuatu yang justru membuatnya semakin sulit bernapas.
Salma menulis bahwa selama bertahun-tahun ia mengira kecemburuannya berasal dari keberadaan Mira.
Foto-foto Mira.
Pilihan warna Mira.
Barang-barang lama.
Cerita tentang masa sebelum dirinya datang.
Namun kemudian ia memahami bahwa Mira bukan musuh.
Mira bahkan tidak tinggal di rumah itu lagi.
Yang membuatnya lelah adalah cara Darma memperlakukan semua yang sudah lewat seolah masih harus terus berada di dalam rumah.
Naira membaca satu kalimat keras-keras.
“‘Aku tidak marah karena kau pernah memiliki kehidupan sebelum aku.’”
Ia berhenti.
Arga melihatnya.
“Lanjut.”
Naira membaca dalam hati beberapa baris berikutnya.
Tidak semuanya perlu diucapkan.
Salma menulis bahwa ia memahami Mira adalah ibu dari anak Darma. Ia tidak pernah ingin foto Mira dibakar, barang-barangnya dibuang, atau sejarah mereka dihapus.
Yang ia inginkan sederhana:
ruang untuk membangun sesuatu yang baru.
Tetapi setiap kali Salma mengubah kamar, Darma menyimpan bagian lama.
Setiap pintu yang tidak lagi digunakan hanya ditutup.
Setiap lantai baru diletakkan di atas lantai sebelumnya.
Setiap barang yang tidak lagi dipakai dipindahkan ke ruang lain.
Tidak ada yang benar-benar keluar.
Tidak ada yang benar-benar selesai.
Naira memandang Arga.
“Dia nggak benci ibumu.”
Arga menatap surat.
“Aku tahu sekarang.”
“Dulu kamu pikir begitu?”
Arga diam sebentar.
“Mungkin.”
“Karena aku?”
“Bukan.”
“Karena Ayah?”
“Iya.”
Naira tidak menekan.
Ia kembali membaca.
Beberapa bagian surat terasa terlalu pribadi.
Tentang pertengkaran Salma dan Darma.
Tentang malam-malam ketika mereka tidur terpisah.
Tentang Salma yang pernah meminta satu lemari tua dibuang tetapi mendapati Darma memindahkannya ke gudang.
Naira melewati bagian-bagian itu.
Kemudian ia menemukan satu paragraf yang membuat tangannya berhenti.
“Ada ini.”
“Apa?”
Naira membaca.
“‘Aku akhirnya tahu kenapa rumah ini terasa semakin sempit meski kau terus menambah ruang.’”
Arga mengangkat kepala.
Naira melanjutkan beberapa baris dalam hati, lalu mengucapkan bagian terakhir.
“‘Di rumah ini tidak ada yang diizinkan benar-benar pergi. Karena itu, tidak ada yang baru benar-benar boleh datang.’”
Hening.