Debu pertama jatuh sebelum pukul delapan pagi.
Arga mendorong jendela kecil di ujung koridor lantai dua agar terbuka lebih lebar, lalu menahan batuk ketika udara lama dari ruang utara mengalir keluar.
Bau semen, kayu lembap, dan sesuatu yang sudah terlalu lama ditutup bercampur jadi satu.
Naira berdiri di belakangnya sambil membawa sapu, masker, dan dua botol air.
“Masih yakin?”
Arga menoleh.
“Kemarin kamu yang bilang mau lihat.”
“Aku bilang kita buka. Bukan berarti aku yakin ini ide bagus.”
“Perbedaan yang sangat penting.”
Naira menyerahkan satu masker kepadanya.
“Kalau nanti ketemu kelelawar, kamu yang urus.”
“Kalau ketemu kelelawar, kita tutup lagi.”
“Bagus. Ternyata ada batas keberanian seorang arsitek.”
Arga hampir tersenyum.
Ia mengambil gagang pintu darurat yang selama ini dipasang pada bukaan sementara, lalu menariknya.
Engsel tua mengerang.
Kreeek.
Ruang utara terbuka penuh.
Tidak ada sesuatu yang dramatis.
Tidak ada kotak rahasia.
Tidak ada lemari terkunci.
Tidak ada tulisan besar dari Darma pada dinding.
Hanya ruangan setengah jadi.
Beton kusam.
Pipa listrik yang berhenti di tengah jalur.
Dua bidang dinding belum diplester.
Sebuah bukaan lebar di ujung ruangan menghadap lereng dan pepohonan di belakang rumah.
Cahaya pagi masuk miring, menabrak debu yang melayang.
Arga berdiri di ambang.
Aneh.
Selama bertahun-tahun, ia membayangkan tempat itu jauh lebih besar.
Lebih mewah.
Lebih final.
Dalam ingatannya, ruang utara adalah simbol segala hal yang dibangun Darma setelah dirinya pergi.
Keluarga baru.
Kehidupan baru.
Tempat yang bukan miliknya.
Kenyataannya sekarang jauh lebih sederhana.
Ruangan itu bahkan tidak pernah selesai.
Naira masuk terlebih dahulu.
Langkahnya menggema.
“Ini lebih kecil dari yang aku bayangkan.”
“Kamu sering masuk?”
“Waktu kecil pernah. Setelah itu Ayah selalu bilang jangan.”
“Kenapa?”
“Katanya belum aman.”
Arga melihat balok terbuka.
“Dia benar.”
Naira menoleh.
“Sekali-sekali.”
Arga masuk.
Ia membawa gulungan denah yang ditemukan sehari sebelumnya.
Mereka sudah menandai beberapa bagian yang kemungkinan berkaitan dengan A/N.
Arga membentangkannya di atas meja lipat kecil.
“Mulai dari sini.”
Naira berdiri di sampingnya.
Arga menunjuk dua bidang di denah.
“Kalau ini memang dua area kerja, harus ada jalur listrik terpisah.”
“Kenapa?”
“Karena kebutuhan meja berbeda.”
“Kamu ngomong seolah umurku dulu punya perusahaan sendiri.”
“Kamu suka baca dan nulis.”
“Masih anak-anak.”
“Anak-anak juga butuh lampu.”
Naira mendengus.
Arga mengambil meteran laser.
Mereka mulai bekerja.
Tidak jauh berbeda dari hari sebelumnya.
Namun suasananya berubah.
Setiap angka di ruang ini terasa seperti sedang membongkar sesuatu yang lebih besar daripada bangunan.
Arga mengukur dinding sisi barat.
Bip.
“Tiga koma enam.”
Naira mencatat.
Kemudian sisi utara.
Bip.
“Empat koma satu.”
Naira menulis lagi.
Arga berjongkok dekat satu pipa conduit tua yang muncul dari lantai.
Ia membuka tutup kotak listrik.
Kabel sudah tidak aktif.
Namun jalurnya masih terbaca.
“Ada dua.”
Naira mendekat.
“Dua apa?”
“Jalur.”
Arga menunjuk.
“Satu ke sini. Satu ke sebelah sana.”
Ia mengikuti arah kabel dengan mata.
“Yang ini kemungkinan untuk meja kerja.”
“Terus yang sana?”
“Bisa rak lampu atau area baca.”
Naira diam.
Arga berdiri.
Di dinding barat ada bekas sambungan kayu.
Empat lubang kecil membentuk garis horizontal.
Ia menyentuhnya.
“Ini dudukan.”
“Dudukan apa?”
“Mungkin meja gantung.”
Arga membuka denah lain.
Ada sketsa samar.
Bidang panjang menempel pada dinding.
Lebarnya hampir sama dengan ukuran meja gambar yang dulu ia inginkan ketika SMA.
Tangannya berhenti.
“Naira.”
“Hm?”
“Lihat ini.”
Ia menunjuk sketsa.
“Apa?”
“Meja.”
Naira melihat.
“Meja kerja?”
“Bukan cuma meja kerja.”
Arga mengukur tinggi bekas dudukan.
“Delapan puluh dua sentimeter.”
Naira tidak memahami.
Arga menatapnya.
“Aku pernah bilang ke Ayah kalau meja gambar standar terlalu rendah buat aku.”
Naira mengerutkan kening.
“Kamu ingat?”
“Sekarang.”
Potongan ingatan muncul.
Tidak utuh.
Darma berdiri di ruang makan sambil membaca brosur.
Arga berusia delapan belas tahun, menjelaskan meja miring untuk menggambar.
Ayahnya mendengarkan setengah serius sambil makan buah.
Arga mengira percakapan itu tidak penting.
Ternyata mungkin tidak.
Ia menatap dudukan pada dinding.
“Ini tingginya sesuai.”