Pagi setelah ciuman itu dimulai dengan bunyi sendok menyentuh cangkir.
Ting.
Naira berdiri di depan kompor, mengaduk kopi yang sebenarnya tidak perlu diaduk selama itu.
Di belakangnya, pintu kamar tamu terbuka.
Langkah Arga terdengar memasuki ruang makan.
Naira tidak menoleh.
“Pagi,” kata Arga.
“Pagi.”
Sunyi.
Naira mematikan kompor.
Ia menuangkan air panas ke cangkir kedua karena kebiasaan sudah telanjur bekerja lebih cepat daripada pikirannya.
“Kopi?”
“Boleh.”
Naira mendorong cangkir ke sisi meja.
“Gula di situ.”
“Ya.”
Seperti dua orang yang baru bertemu di penginapan.
Bukan dua orang yang sehari sebelumnya duduk di lantai ruang utara, saling meminta maaf, lalu melakukan sesuatu yang sampai pagi ini belum berani mereka beri nama.
Arga mengambil gula.
Satu sendok.
Naira memperhatikannya dari sudut mata.
Dulu Arga minum kopi dengan dua sendok gula.
Sekarang satu.
Informasi bodoh.
Tidak berguna.
Namun justru itulah yang tertangkap pikirannya pagi ini.
Bukan ciuman.
Bukan kalimatnya sendiri.
Bukan wajah Arga setelah mereka mundur.
Hanya satu sendok gula.
“Kamu mau roti?” tanya Naira.
“Aku bisa ambil sendiri.”
“Memang.”
Naira duduk.
Arga mengambil dua potong roti dari wadah lalu memanggangnya.
Suara klik toaster terdengar terlalu keras.
Tidak ada yang menyalakan televisi.
Tidak ada yang membahas ruang utara.
Tidak ada yang menatap terlalu lama.
Ketika roti meloncat, Naira hampir tersentak.
Arga juga.
Mereka saling melihat sepersekian detik.
Kemudian sama-sama mengalihkan pandangan.
Konyol.
Naira menyibukkan diri membuka ponsel.
Ada dua email pekerjaan.
Satu pesan dari editor.
Satu pengingat tagihan.
Normal.
Dunia luar rupanya tetap berjalan meskipun di dalam rumah ini semuanya terasa miring.
Arga membawa roti ke meja.
“Setelah sarapan aku mau cek bagian belakang.”
Naira mengangguk.
“Silakan.”
“Yang dekat talud.”
“Ya.”
“Kalau kemarin benar ada rembesan, kita perlu tahu sumbernya.”
“Ya.”
Arga berhenti.
Naira bisa merasakan tatapannya.
“Apa?”
“Nggak ada.”
“Kalau mau ngomong, ngomong.”
“Aku cuma—”
Ponsel Arga bergetar.
Ia melihat layar.
Naira mengenali nama yang muncul karena sudah melihatnya sebelumnya.
Agen properti.
Arga berdiri.
“Aku angkat sebentar.”
“Tentu.”
Ia berjalan ke serambi.
Naira menatap punggungnya sampai pintu tertutup.
Lalu menurunkan pandangan.
Tidak apa-apa.
Rumah memang belum selesai.
Penjualan memang belum batal.
Satu ciuman tidak otomatis membuat seluruh persoalan berubah.
Ia tahu itu.
Tetapi setelah kemarin, mendengar Arga kembali berbicara dengan agen terasa seperti melihat seseorang memasang tembok baru tepat di depan sesuatu yang belum sempat dibicarakan.
Suara Arga terdengar samar dari serambi.
“Ya, saya masih evaluasi.”
Naira membeku.
“Kalau survei awal, bisa dijadwalkan.”
Jari Naira berhenti di atas layar ponsel.
“Belum berarti keputusan jual.”
Ia menelan ludah.
Tentu.
Teknis.
Kalau ada sesuatu yang terlalu sulit, Arga selalu punya cara untuk mengubahnya menjadi ukuran, jadwal, keputusan.
Darma melakukan hal yang sama.
Bedanya hanya alat.
Ayah menggunakan dinding.
Arga menggunakan angka.
Naira berdiri sebelum telepon selesai.
Ia membawa cangkir ke wastafel.
Lalu berjalan ke kamarnya.
Satu jam kemudian, Naira membuka koper besar dari atas lemari.
Ia meletakkannya di atas kasur.
Tidak tahu mau pergi ke mana.
Itu bukan masalah.
Yang penting keluar dulu.
Ia memasukkan beberapa pakaian.
Laptop.
Dua buku catatan.
Charger.
Tas kecil berisi dokumen.
Tangannya bergerak cepat sampai suara langkah terdengar di depan kamar.
Tok.