“Retaknya mulai dari sini.”
Pak Asep berjongkok di dekat dinding belakang sambil menunjuk garis tipis yang memanjang dari sudut lantai ke bawah ambang jendela.
Arga ikut berjongkok.
Retakan itu tidak besar.
Kalau hanya dilihat sekilas, siapa pun mungkin menganggapnya masalah cat atau plester.
Namun Arga tahu lebih baik.
Ia menekan permukaan dinding dengan ujung jari.
Lembap.
“Sudah masuk sampai dalam,” katanya.
Pak Asep mengangguk.
“Makanya saya khawatir.”
Di belakang mereka, Naira berdiri sambil memegang gambar terakhir Darma.
Sejak Pak Asep datang, koper yang tadi dikemas Naira belum disentuh lagi.
Arga tidak tahu apakah itu berarti ia batal pergi.
Ia juga tidak berani bertanya.
Belum sekarang.
“Dinding penahannya di luar?” tanya Arga.
“Ada.”
Pak Asep berdiri dan menunjuk ke arah kebun belakang.
“Tanah sini kan turun. Dulu waktu pertama dibangun, masih banyak area terbuka. Setelah beberapa kali diperluas, ruang belakang makin rapat.”
Arga melihat ke luar.
Kontur tanah rumah itu memang miring.
Dari halaman depan, bangunan terlihat seperti rumah dua lantai biasa. Namun bagian belakang turun hampir setengah lantai mengikuti lereng. Selama bertahun-tahun, Darma menambahkan ruang sedikit demi sedikit tanpa pernah benar-benar mengubah struktur sebelumnya.
Sekarang semua lapisan itu mulai menuntut harga.
“Kita cek luar,” kata Arga.
Mereka turun ke kebun.
Tanah masih basah setelah hujan beberapa hari terakhir. Lumut menempel pada sebagian dinding penahan. Di satu titik, air merembes melalui celah sambungan.
Pak Asep mengetuk beton dengan gagang obeng.
Tok.
Tok.
Tok.
“Dulu bagian ini lebih terbuka,” katanya. “Setelah ruang belakang ditambah, Bapak minta ditutup.”
Arga menatap pertemuan antara struktur lama dan dinding tambahan.
“Tanpa bongkar yang lama?”
“Ya.”
“Tentu saja.”
Nada sinis keluar sebelum sempat ia tahan.
Pak Asep menoleh.
“Dulu saya juga sering bilang begitu.”
“Apa?”
“Jangan semuanya ditumpuk.”
Arga berdiri.
“Sejak kapan Ayah mulai begini?”
Pak Asep tidak langsung menjawab.
Ia memasukkan obeng ke saku lalu memandang rumah.
“Kalau betul-betul begini, mulai setelah Pak Darma pisah sama Bu Mira.”
Arga menahan napas.
Naira yang sejak tadi berdiri sedikit jauh ikut mendekat.
Pak Asep melanjutkan, “Awalnya cuma kamar Kang Arga.”
Arga sudah tahu sebagian cerita itu dari buku kerja.
Tetap saja, mendengarnya dari orang lain terasa berbeda.
“Bu Mira pernah bilang jangan ubah kamar saya.”
“Iya.”
Pak Asep mengangguk.
“Pak Darma bilang meja jangan dibuang. Rak jangan dibuang. Kalau cat diganti, jangan rusak yang lama. Waktu saya bilang lebih bagus dibongkar sekalian supaya rapi, Bapak nggak mau.”
“Kenapa?”
Pak Asep mengangkat bahu.
“Katanya nanti kalau Kang Arga pulang, masih terasa punya tempat.”
Arga memalingkan wajah.
Kalimat itu seharusnya menenangkan.
Tidak.
Justru membuat sesuatu di dadanya semakin rumit.
Darma bisa mengingat meja.
Rak.
Warna dinding.
Namun tidak pernah mampu mengatakan kepada anaknya sendiri:
Pulanglah.
Pak Asep melanjutkan, “Awalnya saya pikir ya sudah. Namanya juga kamar anak.”
Naira bertanya, “Terus mulai jadi kebiasaan kapan, Pak?”
Pak Asep terkekeh kecil.
“Pelan-pelan.”
Ia menunjuk sisi rumah.
“Pintu lama ditutup, Bapak bilang kusennya jangan dicabut. Lemari sudah nggak dipakai, pindah ke gudang. Keramik retak, daripada bongkar, lapis baru.”
Arga mengangguk.
“Terus begitu.”
“Iya.”
“Setiap ada perubahan?”
Pak Asep diam sesaat.
“Lebih sering setelah ada orang pergi.”
Kalimat itu membuat Arga menatapnya.
“Maksud Pak Asep?”
Pria tua itu mengusap dagunya.
“Setelah Bu Mira pergi, kamar dipertahankan.”
Ia berhenti.
“Setelah Kang Arga pergi, beberapa bagian ditutup.”
Naira menegang sedikit.
“Setelah Ibu meninggal?”
Pak Asep tidak langsung menjawab.
Akhirnya ia menunjuk dinding belakang.
“Banyak yang berubah setelah Bu Salma nggak ada.”
Arga mengikuti arah tangannya.
Dinding tambahan.
Lapisan cat.
Penutupan bukaan.
Sekarang pola itu terlihat begitu jelas sampai terasa ganjil bahwa mereka tidak pernah menyadarinya.
Setiap kehilangan menghasilkan lapisan.
Seolah Darma tidak tahu cara mengucapkan selamat tinggal, jadi ia mengubah rumah sebagai gantinya.
“Pak Asep pernah protes?” tanya Arga.
Pria itu tertawa.
“Sering.”
“Terus?”
“Bapak keras kepala.”
Naira mendengus kecil.
“Yang itu kami tahu.”
Pak Asep tersenyum.