“Kalau bukan karena Ayah, bukan karena Ibu, dan bukan karena aku—kamu sebenarnya mau tinggal di mana?”
Naira yang sedang melipat pakaian berhenti.
Kaos hitam di tangannya menggantung setengah terlipat.
Arga berdiri di ambang pintu kamar, tidak masuk, tidak juga pergi.
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Justru itu masalahnya.
Selama beberapa tahun terakhir, hampir semua orang yang berbicara dengan Naira selalu menanyakan hal yang berbeda.
Ayah bagaimana?
Rumah masih kamu urus?
Kamu nggak kesepian tinggal di sana?
Kalau rumah dijual, kamu mau ke mana?
Tidak pernah ada yang bertanya apa yang sebenarnya ia inginkan seandainya semua orang lain dikeluarkan dari persamaan.
Naira meletakkan kaos di atas kasur.
“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”
Arga mengangkat bahu.
“Nggak tiba-tiba.”
“Terdengar tiba-tiba.”
“Aku baru sadar selama ini aku selalu nanya kenapa kamu nggak mau menjual rumah.”
“Ya.”
“Padahal mungkin pertanyaannya salah.”
Naira menyandarkan punggung ke lemari.
“Terus kamu sekarang mau jadi psikolog?”
“Enggak.”
“Syukurlah.”
Arga hampir tersenyum.
Kemudian ekspresinya kembali serius.
“Aku cuma pengin tahu.”
Naira menatap koper yang masih terbuka di atas kasur.
Sejak Pak Asep datang, koper itu tidak bertambah penuh.
Tidak juga dibongkar.
Seperti banyak hal lain di rumah tersebut, ia berhenti di tengah.
“Aku nggak tahu,” jawab Naira akhirnya.
Arga tampak tidak percaya.
“Kamu benar-benar nggak tahu?”
“Harus?”
“Enggak.”
“Terus kenapa mukamu begitu?”
“Karena aku pikir kamu pasti punya jawaban.”
Naira tertawa kecil.
“Itulah masalah orang yang kerjaannya bikin denah. Semua harus punya tujuan.”
“Aku belajar dari rumah ini kalau itu nggak selalu benar.”
“Cepat juga belajarnya.”
“Dua belas tahun telat.”
Naira terdiam.
Arga tidak menarik kalimat itu kembali.
Beberapa hari lalu, setiap kali menyebut dua belas tahun, udara di antara mereka selalu berubah berat.
Sekarang tetap berat, tetapi tidak lagi tajam.
Naira duduk di tepi kasur.
“Aku pernah mau ke Yogyakarta.”
Arga mengernyit.
“Kapan?”
“Dua tahun lalu.”
“Liburan?”
“Bukan.”
Naira mengambil ponsel dari meja samping.
Ia membuka email lama yang masih tersimpan.
“Program penulisan. Residensi tiga bulan.”
Arga mendekat beberapa langkah, tetapi tetap menjaga jarak.
“Kamu diterima?”
“Iya.”
“Terus kenapa nggak jadi?”
Naira menatapnya.
Arga langsung mengerti.
“Ayah.”
“Waktu itu kondisinya mulai sering turun.”
“Dia minta kamu batal?”
Naira menggeleng.
“Enggak.”
“Terus?”
“Aku yang merasa nggak bisa pergi.”
“Karena sakitnya?”
“Karena siapa lagi yang ada?”
Arga terdiam.
Naira menutup email itu.
“Waktu itu aku pikir cuma tiga bulan. Tapi tiga bulan bisa banyak hal.”
“Bisa.”
“Kalau tiba-tiba dia masuk rumah sakit? Kalau jatuh? Kalau obatnya habis? Kalau—”
“Naira.”
“Apa?”
“Kamu nggak perlu membela keputusan itu.”
Naira langsung menatapnya.
“Aku nggak membela.”
“Kedengarannya seperti iya.”
“Karena kamu lagi mau bilang aku seharusnya pergi?”
Arga menghela napas.
“Tidak.”
“Ekspresimu bilang begitu.”
“Aku nggak menyuruh kamu pergi.”
“Barusan hampir.”
“Aku cuma—”
Arga berhenti, lalu memperbaiki kalimatnya.
“Aku nggak menyuruh kamu pergi. Aku cuma ingin tahu kalau kamu boleh memilih, kamu akan memilih apa.”
Naira diam.
Pertanyaan itu kembali datang.
Kali ini lebih sulit dihindari.
Ia menatap layar ponsel.
Beberapa hari lalu, email baru masuk dari jaringan penulis yang sama.
Program lain.
Tempatnya tetap Yogyakarta.
Durasi sedikit lebih pendek.
Naira membukanya sebentar ketika menerima, membaca dua paragraf, lalu menutup tanpa menjawab.
Alasannya?
Tidak ada.
Darma sudah meninggal.