Semua yang Tak Pernah Pergi

Rizki Ramadhana
Chapter #14

Hak untuk Pergi

Naira menekan tombol Kirim Pendaftaran pada pukul 10.17 pagi.

Tidak ada petir.

Tidak ada pintu yang tiba-tiba terbuka.

Rumah tidak runtuh karena keputusannya.

Hanya ada bunyi pendek dari laptop, lalu halaman berubah menjadi konfirmasi bahwa formulir telah diterima.

Naira menatap layar cukup lama.

Tiga bulan.

Yogyakarta.

Program penulisan yang selama bertahun-tahun selalu ia anggap sebagai sesuatu yang bisa dilakukan nanti.

Nanti setelah Ayah membaik.

Nanti setelah rumah lebih tenang.

Nanti setelah tidak ada yang perlu dijaga.

Masalahnya, nanti selalu bisa dipindahkan.

Ia menutup laptop.

Tangannya dingin.

“Sudah?”

Suara Arga datang dari pintu ruang makan.

Naira menoleh.

Pria itu berdiri sambil membawa meteran dan beberapa lembar catatan struktur. Wajahnya masih tampak lelah setelah menghabiskan pagi bersama Pak Asep memeriksa rembesan belakang.

Naira mengangguk.

“Sudah.”

“Daftar?”

“Iya.”

Arga masuk.

Tidak tersenyum lebar.

Tidak mengucapkan selamat seperti ia baru memenangkan sesuatu.

Hanya mengangguk kecil.

“Bagus.”

Naira mengangkat alis.

“Bagus?”

Arga langsung berhenti.

“Bukan bagus karena kamu pergi.”

“Terus?”

“Bagus karena kamu mutusin sendiri.”

Naira memandangnya beberapa detik.

Itu lebih baik.

“Aku belum diterima.”

“Ya.”

“Bisa saja nggak lolos.”

“Ya.”

“Kamu bisa bilang sesuatu selain ya.”

Arga menarik kursi.

“Kalau nggak lolos, kamu daftar lagi.”

Naira tertawa kecil.

“Lebih baik.”

Arga duduk di seberangnya.

“Aku juga ada keputusan.”

Nada suaranya membuat Naira menegakkan tubuh.

“Rumah?”

“Ya.”

Naira menunggu.

Arga mengambil ponsel dan meletakkannya di meja.

“Aku telepon agen tadi pagi.”

Naira merasakan bahunya menegang otomatis.

“Terus?”

“Aku bilang proses penjualan dihentikan.”

Naira berkedip.

“Dihentikan?”

“Untuk sekarang.”

“Berapa lama?”

“Enam bulan.”

Naira menatapnya.

Arga melanjutkan sebelum ia bertanya.

“Aku nggak bilang rumah nggak akan pernah dijual.”

“Aku tahu.”

“Aku juga nggak bilang kita harus pertahankan.”

“Iya.”

“Enam bulan cukup buat kita lihat kondisi struktur, hitung biaya perbaikan, dan—”

“Arga.”

Pria itu berhenti.

“Kamu mulai lagi.”

“Apa?”

“Bikin semuanya teknis.”

Arga terdiam, lalu mengangguk.

“Oke.”

Ia menarik napas.

“Enam bulan supaya kita nggak bikin keputusan besar waktu kita masih terlalu dekat sama semua ini.”

Naira memandangnya.

Itu jauh lebih jujur.

“Dan?”

“Dan supaya kamu bisa pergi tanpa merasa rumah akan hilang waktu kamu balik.”

Kalimat itu membuat Naira tidak langsung menjawab.

Arga menatap meja.

“Kalau programnya tiga bulan, kamu pergi. Aku juga akan balik kerja. Rumah nggak perlu diputuskan sekarang.”

“Terus siapa yang jaga?”

Pertanyaan itu keluar terlalu cepat.

Naira langsung menyadarinya.

Arga juga.

Keduanya diam.

Naira menertawakan dirinya sendiri.

“Nah.”

Arga tersenyum tipis.

“Kebiasaan.”

Naira mengusap wajah.

“Aku baru daftar lima menit dan sudah mikir siapa yang jaga rumah.”

“Rumah nggak bayi.”

“Kadang lebih rewel.”

“Itu benar.”

Naira menoleh ke arah ruang tengah.

“Kalau kosong, biaya tetap jalan.”

“Makanya aku pikir bagian depan bisa dipakai.”

“Dipakai apa?”

“Studio kerja.”

Naira menatapnya.

“Studio?”

“Ruang depan punya akses sendiri dari teras. Toilet bawah dekat. Bisa dipisahkan dari area pribadi.”

“Disewakan?”

“Bisa.”

Naira berpikir.

Arga mengambil kertas kosong dan mulai membuat sketsa cepat.

“Tembok ini jangan disentuh. Pintu depan tetap. Kita cuma perlu bikin batas di koridor sini.”

“Kamu mulai gambar lagi.”

“Ini beda.”

“Bedanya?”

“Kali ini aku belum memutuskan.”

Lihat selengkapnya