Semua yang Tak Pernah Pergi

Rizki Ramadhana
Chapter #15

Lapisan Terakhir

Rumah itu menjadi jauh lebih berisik setelah Naira pergi.

Bukan karena ada lebih banyak orang.

Justru sebaliknya.

Suara palu dari belakang terdengar sampai ruang tengah.

Mesin bor menyala beberapa menit sekali.

Papan dibuka.

Plester rontok.

Pak Asep berteriak meminta ember dari kebun.

Semua bunyi itu hanya menegaskan bahwa tidak ada suara langkah Naira dari lantai atas, tidak ada cangkir yang diletakkan terlalu keras di meja makan, dan tidak ada orang yang protes setiap kali Arga meninggalkan meteran di tempat yang salah.

Arga tidak merasa sedih.

Setidaknya bukan seperti yang mungkin dibayangkan orang.

Ia juga tidak menghabiskan hari menatap ponsel menunggu pesan.

Naira baru pergi delapan hari.

Program penulisannya berlangsung tiga bulan.

Hidup tidak berhenti hanya karena satu orang naik kereta ke Yogyakarta.

Justru untuk pertama kalinya sejak pulang, Arga mempunyai cukup ruang untuk berpikir tanpa terus-menerus bereaksi.

Pagi hari ia bekerja jarak jauh selama beberapa jam.

Setelah makan siang, ia membantu Pak Asep memeriksa bagian rumah yang perlu ditangani segera.

Malamnya ia menyusun ulang gambar-gambar lama Darma.

Sesekali Naira mengirim pesan.

Foto meja kerjanya.

Keluhan tentang panas Yogyakarta.

Foto kopi dengan harga yang menurutnya terlalu mahal.

Arga membalas seperlunya.

Kadang mereka bicara tentang rumah.

Semakin lama, tidak selalu.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Pesan dari Naira.

Hari ini jangan bongkar kamar aku.

Arga mengetik:

Tidak ada yang tertarik bongkar kamar kamu.

Balasan datang cepat.

Kamu pernah bongkar dinding sebelum sarapan. Aku nggak percaya.

Arga menahan senyum.

Ia memasukkan ponsel kembali ke saku.

“Kang.”

Pak Asep memanggil dari ruang tengah.

“Ya?”

“Coba lihat ini.”

Arga meninggalkan laptop.

Sebagian panel dinding dekat koridor sudah dilepas. Mereka sengaja membuka satu bidang yang menurut gambar Darma memiliki paling banyak tambahan.

Awalnya Arga hanya berharap menemukan kondisi struktur di belakangnya.

Yang terlihat justru jauh lebih aneh.

Pak Asep berdiri di depan sebuah bidang selebar hampir satu meter.

“Ini kayak kue lapis,” katanya.

Arga mendekat.

Beberapa bagian dinding dibuka sampai kedalaman berbeda.

Permukaan paling depan berwarna putih.

Di belakangnya ada lapisan krem.

Lebih dalam, warna biru.

Kemudian sesuatu yang pucat.

Arga mengambil senter.

“Jangan tambah buka dulu.”

Pak Asep mengangguk.

Arga menyinari bagian paling dalam.

Hijau.

Ia mengenali warna itu.

Warna yang ditemukan bersama Naira pada dinding pertama.

Warna Mira.

Arga menyentuh permukaannya.

Catnya sudah kusam, tetapi masih terlihat jelas.

Di depan lapisan hijau ada warna kekuningan yang samar.

Ia berpikir beberapa detik.

“Ini waktu aku kecil.”

Pak Asep mengangkat alis.

“Ingat?”

“Sedikit.”

Darma pernah mengecat ulang ruang tengah setelah Arga mengeluh warna hijau terlalu gelap.

Arga mungkin berusia sembilan atau sepuluh tahun.

Ia tidak ingat nama warnanya.

Hanya ingat Mira mengatakan hasilnya seperti susu yang kebanyakan air.

Arga tersenyum tipis pada ingatan itu.

Tangannya berpindah ke lapisan berikutnya.

Biru.

Warna yang jauh lebih kuat daripada lapisan lain.

Ia langsung tahu.

“Naira.”

Pak Asep mengangguk.

“Kayaknya iya.”

Arga teringat kartu kecil dalam kotak material.

Naira, 2012 — biru. Pilihan Naira sendiri.

Ia mengambil ponsel dan memotret.

Bukan untuk dikirim sekarang.

Hanya karena rasanya layak disimpan.

Lapisan setelah biru berwarna cokelat muda, mendekati tanah.

Arga tidak langsung mengenalinya.

Pak Asep justru berkata, “Ini zaman Bu Salma.”

Arga menoleh.

“Pak Asep ingat?”

“Waktu itu saya yang cat.”

Ia tertawa kecil.

“Bu Salma maunya warna hangat. Pak Darma bilang jangan terlalu gelap.”

Arga menatap warna tersebut.

“Kenapa?”

“Katanya rumah sudah kurang cahaya.”

Ironis.

Darma terus menambah dinding, lalu mengeluh rumah kekurangan cahaya.

Arga menahan komentar.

Lapisan terakhir sebelum permukaan sekarang adalah putih.

Bukan putih baru.

Sedikit kusam.

“Ini setelah Bu Salma nggak ada,” kata Pak Asep.

Arga tahu.

Ia pernah melihat foto-foto rumah pada masa itu.

Darma mengecat banyak ruangan putih setelah kematian Salma.

Dulu Arga mengira karena warna itu lebih mudah.

Sekarang ia tidak yakin.

Mungkin ayahnya sudah kehabisan pilihan.

Arga mundur beberapa langkah.

Lihat selengkapnya