Semua yang Tak Pernah Pergi

Rizki Ramadhana
Chapter #16

Hujan yang Membuka Rumah

Hujan belum reda ketika Naira turun dari mobil di depan rumah.

Air langsung mengenai bahunya sebelum ia sempat membuka payung dengan benar. Langit Bandung gelap meski hari masih sore, dan suara hujan di atas atap mobil terdengar seperti ribuan kerikil dilempar bersamaan.

Arga sudah berdiri di teras.

Tidak ada senyum.

Tidak ada pertanyaan tentang perjalanan.

Ia hanya mengambil tas Naira dari tangannya.

“Masuk dulu.”

“Dindingnya di mana?”

“Naira—”

“Arga.”

Tatapan mereka bertemu.

Arga tahu tidak ada gunanya menunda.

“Belakang.”

Naira masuk tanpa melepas jaket basahnya.

Bau lembap langsung terasa.

Lebih tajam daripada yang ia ingat.

Di ruang tengah, beberapa ember sudah diletakkan di bawah titik-titik rembesan. Plastik menutupi sebagian furnitur. Kabel ekstensi melintang menuju bagian belakang.

Pak Asep berdiri dekat pintu dapur bersama dua tukang.

Begitu melihat Naira, ia mengangguk.

“Neng.”

“Pak.”

Tidak ada waktu untuk basa-basi.

Naira mengikuti mereka ke bagian belakang.

Air keluar dari retakan bawah dinding seperti urat tipis yang tidak berhenti bergerak.

Sebagian panel sudah dilepas.

Struktur di baliknya terbuka.

Naira langsung mengenali warna cokelat hangat pada salah satu lapisan.

Warna yang pernah dipilih Salma.

Bukan seluruh dinding.

Hanya sebagian.

Namun cukup untuk membuat tubuh Naira menegang.

Arga berdiri di sampingnya.

“Airnya masuk dari tanah belakang. Tekanan terus naik.”

“Bisa ditahan?”

“Untuk sementara.”

“Kalau nggak dibongkar?”

Arga diam sebentar.

Pak Asep yang menjawab.

“Bisa tambah retak, Neng.”

Naira melihat dinding.

“Seberapa banyak harus dibongkar?”

Pak Asep menunjuk satu garis menggunakan spidol.

“Minimal sampai sini.”

Kemudian lebih tinggi.

“Kalau ternyata bagian dalam sudah rapuh, bisa lebih.”

Naira mengikuti garis itu.

Bagian yang harus dibuka memotong warna lama.

Beberapa sambungan kayu.

Satu bidang yang, dari catatan Darma, berasal dari masa ketika Salma masih tinggal di rumah.

Naira merasakan sesuatu mengencang di dadanya.

“Bisa diselamatkan?”

Arga menjawab kali ini.

“Sebagian material mungkin.”

“Sebagian?”

“Tidak semua.”

Naira menatapnya.

Arga tidak mengalihkan pandangan.

“Kalau kita maksa mempertahankan seluruh lapisan, kita malah bikin dinding utama lebih berisiko.”

Hujan menghantam jendela.

Naira mendengar suara itu, tetapi pikirannya bergerak ke tempat lain.

Salma berdiri di dapur sambil mencicipi sup.

Salma memilih warna cat dari katalog.

Salma memanggilnya dari kamar tamu.

Salma tertawa karena Naira pernah menjatuhkan sekaleng cat biru.

Potongan-potongan kecil.

Tidak lengkap.

Namun nyata.

Naira menyentuh permukaan cokelat itu.

Catnya dingin.

Lembap.

Dulu ia pasti akan berkata jangan.

Tunggu.

Cari cara lain.

Pertahankan.

Karena kalau dinding itu hilang, mungkin sebagian ibunya ikut hilang.

Ia tahu sekarang itu tidak benar.

Salma tidak tinggal di cat.

Tidak tinggal di bata.

Tidak tinggal di kusen.

Dan kalau Naira terus memaksa rumah mempertahankan semua itu, ia hanya mengulang Darma.

Pak Asep menunggu.

Arga juga.

Tidak seorang pun mengambil keputusan untuknya.

Itu justru membuat pilihan tersebut terasa lebih berat.

Naira menarik tangannya dari dinding.

“Bongkar.”

Arga menatapnya.

“Naira?”

“Bongkar.”

Pak Asep memastikan, “Yang bagian ini juga?”

Naira mengangguk.

“Kalau memang harus.”

Arga masih melihatnya.

Naira menahan tatapannya.

“Jangan bikin aku mengulang tiga kali.”

Arga mengangguk.

“Baik.”

Pak Asep memberi instruksi kepada dua tukang.

Beberapa menit kemudian, bunyi palu pertama terdengar.

Tak.

Naira refleks menahan napas.

Tak.

Plester basah terlepas.

Serpihan jatuh ke terpal.

Tak.

Bagian cat cokelat pecah.

Naira memejamkan mata sepersekian detik.

Lalu membukanya kembali.

Ia tidak pergi.

Ia berdiri di sana dan melihat.


Arga tidak menyukai suara dinding lama dihancurkan.

Aneh.

Sebagai arsitek, ia sudah melihat terlalu banyak pembongkaran untuk merasa sentimental terhadap bunyi palu.

Namun rumah ini berbeda.

Setiap lapisan memiliki sejarah.

Bukan sejarah penting bagi dunia.

Tidak ada peristiwa besar.

Tidak ada tokoh terkenal.

Hanya kehidupan sehari-hari.

Seseorang memilih warna.

Seseorang menggeser meja.

Seseorang menutup pintu.

Seseorang pergi.

Dan seseorang lain memutuskan semua bekasnya tidak boleh hilang.

Sekarang bata-bata itu jatuh satu per satu.

Lihat selengkapnya