Tiga minggu setelah dinding belakang dibongkar, rumah itu tidak lagi terdengar seperti tempat yang sedang terluka.
Tidak ada bunyi palu besar.
Tidak ada serpihan bata jatuh.
Tidak ada ember yang harus dipindahkan tiap kali hujan turun.
Yang tersisa hanya suara bor kecil, gesekan amplas, dan sesekali Pak Asep mengomel karena Arga mengubah ukuran meja kerja yang sudah mereka sepakati sehari sebelumnya.
“Kalau begini terus, Kang, saya bikin saja tanpa gambar,” kata Pak Asep dari ruang depan.
Arga yang sedang memeriksa sambungan kusen menoleh.
“Kenapa?”
“Gambarnya berubah terus.”
“Cuma dua kali.”
“Tiga.”
“Yang pertama bukan perubahan. Revisi.”
Pak Asep tertawa.
“Sama saja.”
Arga tidak membalas.
Ia kembali melihat ruang depan.
Tiga minggu lalu, tempat itu masih dipenuhi kursi lama, lemari besar, dan meja yang hampir tidak pernah digunakan. Sekarang dua kursi sudah diberikan kepada saudara Pak Asep yang membutuhkannya. Lemari besar dipindahkan ke sisi lain rumah karena ternyata terlalu bagus untuk dibuang. Meja lama Darma tetap dipertahankan, tetapi permukaannya diamplas dan kakinya diperkuat.
Ruang itu akan menjadi studio kerja.
Bukan galeri.
Bukan museum keluarga.
Studio.
Orang lain kelak bisa datang membawa laptop, menggambar, menulis, bekerja beberapa jam, lalu pulang.
Arga menyukai gagasan itu.
Rumah tidak harus hidup hanya dari orang-orang yang pernah tinggal di dalamnya.
Ia juga bisa menerima orang baru tanpa harus menghapus siapa pun.
“Warna dinding jadi ini?” tanya Pak Asep.
Arga melihat contoh warna yang ditempel.
Bukan hijau lama.
Bukan biru milik Naira.
Bukan cokelat Salma.
Warna baru.
Hangat, tetapi sederhana.
“Ya.”
Pak Asep mengangkat alis.
“Nggak mau samakan dengan yang lama?”
Arga menggeleng.
“Enggak.”
“Wah.”
“Apa?”
“Berani juga sekarang.”
Arga tertawa.
“Cuma cat.”
Pak Asep mengangguk pelan.
“Betul. Cuma cat.”
Kalimat itu sederhana.
Namun beberapa minggu lalu, tidak ada sesuatu pun di rumah ini yang benar-benar terasa hanya sebagai benda.
Cat selalu punya pemilik.
Kursi punya sejarah.
Pintu punya alasan.
Sekarang Arga mulai belajar bahwa sebagian hal memang boleh berhenti menjadi simbol.
Benda bisa kembali menjadi benda.
Itu bukan pengkhianatan.
Penawaran agen properti sudah ditolak untuk sementara.
Bukan dibatalkan selamanya.
Arga sengaja tidak memakai kata itu.
Ia dan Naira sepakat mengevaluasi kembali setelah enam bulan.
Jika rumah terlalu membebani, mereka akan bicara lagi.
Jika studio kerja bisa membantu biaya perawatan, mungkin rumah tetap dipertahankan.
Kalau tidak, pilihan lain tetap ada.
Tidak ada janji bahwa bangunan itu akan berdiri seratus tahun.
Aneh sekali, tetapi justru kemungkinan bahwa rumah suatu hari boleh dijual membuat Arga lebih tenang.
Dulu menjual terasa seperti membuang.
Mempertahankan terasa seperti setia.
Sekarang keduanya hanya pilihan.
Yang menentukan bukan rasa bersalah.
Bukan Darma.
Bukan Mira.
Bukan Salma.
Mereka sendiri.
Arga berjalan ke koridor.
Satu bagian dinding masih terbuka.
Tidak besar.
Lebarnya hanya sekitar tujuh puluh sentimeter.
Namun semua lapisan lama terlihat jelas.
Hijau.
Kuning pucat.
Biru.
Cokelat hangat.
Putih.
Pak Asep sempat bertanya apakah bidang itu harus dilapisi kaca.
Arga menolak.
“Biar begini saja.”
“Takut kotor.”
“Kalau kotor, dibersihkan.”
“Kalau rusak?”
“Ya diperbaiki.”
“Kalau suatu hari mau ditutup?”
Arga menjawab tanpa berpikir, “Ya ditutup.”
Pak Asep sempat menatapnya lama.
Lalu tersenyum.
Itulah perbedaannya.
Dinding itu tidak dibiarkan terbuka karena harus bertahan selamanya.
Ia dibiarkan terbuka karena untuk sekarang, mereka ingin melihatnya.
Cukup itu.
Ponsel Arga bergetar.
Pesan dari Naira.
Studio jadi pakai meja Ayah?
Arga mengetik: