Semua yang Tak Pernah Pergi

Rizki Ramadhana
Chapter #18

Rumah yang Tak Pernah Selesai

Naira tahu rumah itu berubah bahkan sebelum ia membuka pintu.

Ada pot tanaman baru di dekat teras.

Bukan tanaman hias mahal. Hanya beberapa pakis dan satu pot rosemary yang diletakkan terlalu dekat dengan jalur masuk.

Naira berhenti.

“Siapa yang naro rosemary di situ?”

Tidak ada yang menjawab.

Tentu saja.

Ia baru turun dari taksi lima menit lalu dan rumah masih kosong.

Naira menarik koper ke teras, lalu membuka pintu dengan kunci yang sama yang selalu ia bawa.

Kunci itu masih sedikit seret ketika diputar.

Bagus.

Setidaknya ada satu hal yang belum diperbaiki Arga.

Pintu terbuka.

Naira berdiri di ambang.

Udara di dalam berbeda.

Tidak secara dramatis.

Tidak sampai membuat rumah terasa seperti tempat lain.

Justru yang berubah adalah hal-hal kecil.

Kursi dekat jendela tidak lagi berada di tempatnya.

Meja konsol tua di ruang depan sudah hilang.

Dinding yang dulu putih kusam sekarang menggunakan warna hangat yang membuat cahaya pagi lebih lembut.

Rak dekat tangga lebih ringan.

Beberapa foto keluarga tidak lagi memenuhi permukaan.

Hanya tiga yang tersisa.

Satu foto Darma.

Satu foto Salma.

Satu foto lama ketika Arga dan Naira masih terlalu kecil untuk tahu bahwa orang dewasa bisa membuat rumah jauh lebih rumit daripada dindingnya sendiri.

Naira masuk.

Ia menutup pintu.

Tidak ada rasa panik.

Tidak ada keinginan langsung mengecek apakah sesuatu hilang.

Ia justru melihat sekeliling seperti seseorang yang pulang setelah perjalanan dan ingin tahu apa yang dilakukan rumah selama dirinya tidak ada.

Studio depan sudah jadi.

Pintu samping memisahkan aksesnya dari bagian utama rumah. Dua meja kerja berdiri di dekat jendela. Meja lama Darma digunakan sebagai meja besar bersama.

Goresan pada permukaannya masih ada.

Arga tidak mengamplasnya sampai hilang.

Naira menyentuh salah satu bekas luka pada kayu.

“Lumayan,” gumamnya.

Ia berjalan menuju koridor.

Di sana, satu bagian dinding masih terbuka.

Hijau.

Kuning pucat.

Biru.

Cokelat hangat.

Putih.

Semua lapisan terlihat dalam satu bidang tidak lebih besar dari pintu.

Tidak ada kaca pelindung.

Tidak ada lampu sorot.

Tidak ada tulisan yang menjelaskan tahun atau pemilik warna.

Hanya dinding.

Naira mengangkat tangan.

Ujung jarinya menyentuh lapisan biru.

Warnanya sudah kusam, jauh dari biru yang dulu ia pilih saat SMA.

Tetapi Naira masih ingat.

Katalog cat.

Darma yang mulai tidak sabar.

Salma yang mengatakan semua warna terlihat sama setelah lima menit.

Naira yang akhirnya menunjuk satu warna karena lelah memilih.

Kenangan itu datang.

Lalu pergi.

Ia tidak menahannya.

Tidak perlu.

Naira menarik tangannya.

Dinding itu bisa tetap ada.

Bisa suatu hari dicat lagi.

Bisa rusak.

Bisa ditutup.

Semua kemungkinan itu tidak lagi terdengar seperti ancaman.

Suara mobil berhenti di depan rumah.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka.

“Jangan bilang kamu masuk tanpa nunggu aku.”

Naira menoleh.

Arga berdiri di pintu sambil membawa dua kantong makanan dan satu gelas kopi besar.

Ia mengenakan kemeja biru tua dengan lengan digulung sampai siku.

“Rumahku,” kata Naira.

“Setengah.”

“Kamu masih pakai kalimat itu?”

“Secara hukum benar.”

Naira menunjuk pot dekat pintu.

“Rosemary itu ide siapa?”

Arga melihat ke belakang.

“Pak Asep.”

“Bohong.”

“Oke. Aku.”

“Ganggu jalan.”

“Lebay.”

“Koper tadi hampir nyangkut.”

“Lebar jalan satu meter dua puluh.”

Naira menyilangkan tangan.

“Kamu ukur?”

“Jelas.”

Ia menggeleng.

“Tidak ada harapan.”

Arga mengangkat kantong makanan.

“Aku bawa batagor.”

Naira langsung melunak sedikit.

“Dari mana?”

“Yang dekat jalan lama.”

“Yang saus kacangnya banyak?”

“Iya.”

“Ya sudah. Rosemary-nya boleh hidup sampai besok.”

Arga tertawa.

Mereka membawa makanan ke ruang makan.

Kursi favorit Naira tidak berada di tempat biasanya.

Ia berhenti.

“Arga.”

Pria itu sedang mengeluarkan kotak makanan.

“Hm?”

“Kursiku mana?”

Arga tidak menoleh.

“Yang mana?”

“Kursi rotan.”

“Oh.”

“Oh?”

“Dipindah ke studio.”

Naira menatapnya tidak percaya.

“Kenapa?”

“Lebih cocok di sana.”

“Itu kursiku.”

“Kamu pergi tiga bulan.”

“Terus?”

“Dia punya kehidupan baru.”

Naira mengambil serbet dan melemparkannya.

Arga menghindar sambil tertawa.

“Kamu nggak bisa kasih narasi perkembangan karakter ke furnitur!”

“Kenapa enggak?”

“Balikin.”

“Besok.”

“Hari ini.”

“Kita baru mau makan.”

“Setelah makan.”

“Negosiasi diterima.”

Naira duduk di kursi lain sambil mengomel pelan.

Anehnya, pertengkaran kecil itu terasa menyenangkan.

Tidak ada makna tersembunyi.

Tidak ada satu benda pun yang berubah menjadi simbol pengabaian atau kehilangan.

Hanya kursi yang dipindahkan karena Arga merasa lebih cocok di tempat lain.

Selesai.

Mereka makan.

Naira mulai bercerita tentang programnya.

Tidak semuanya.

Hanya hal-hal yang terasa layak dibawa pulang.

Seorang penulis senior yang memotong hampir separuh naskahnya.

Lihat selengkapnya