Semuanya, Tentangmu

Anggahmu
Chapter #1

#01

Senja Bandung kali itu terasa lebih dingin. Perempuan itu berdiri di bawah kanopi hijau toko, membiarkan sisa air hujan menetes mengenai ujung sepatunya. Ia menadah sisa air di telapak tangan yang mulai mati rasa akibat hawa sedingin es, melirik cahaya jingga yang mulai meredup di ufuk barat. Suasana tenang datang diiringi aroma tanah basah yang pekat dan udara segar yang bercampur aroma bensin jalanan. Lampu-lampu jalan kini mulai menyala satu per satu, berpendar kuning di atas aspal yang basah.

Di tangan kanan yang gemetar halus, layar ponsel menampilkan sebuah pesan singkat. Napas Ryana ditarik begitu panjang, terasa berat dan mengalirkan rasa dingin ke dadanya setelah pesan itu ia baca. Segera pulang, Jangan telat sebelum jam 7 malam. Pesan itu dikirim dari sosok yang tertulis pada kontak bernama "Sang Raja". Ia lirik jam digital di pojok layar, masih menunjukkan 17:07. Masih ada dua jam untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Ia menoleh ke dalam toko. Di balik kaca, terdapat rak pajangan vas yang berisi Bunga Matahari, Mawar, bahkan Anyelir yang tersinari cahaya keemasan lampu toko. Kelopak bunga-bunga itu seolah memanggil, siap untuk segera dipindahkan ke chiller.

Kakinya kembali masuk ke dalam kehangatan toko sambil memasukkan ponsel ke dalam apron. Kulitnya menyentuh kumpulan bunga Mawar—bunga yang paling rentan—dari vas pajangan. Dengan hati-hati, ia mengemas dan memindahkan semuanya ke dalam chiller agar bersanding dengan Krisan dan Dahlia. Udara dingin langsung menerpa wajahnya saat pintu kaca geser. Di dalam sana, bunga-bunga terlihat semakin cantik dan kencang terselimuti plastik bening tipis yang berembun. Apron hijau tua yang ia kenakan dihiasi beberapa noda kecoklatan akibat padatnya pesanan hari ini. Bahkan sarung tangan kain yang hanya terpasang di sebelah tangan menjadi bukti nyata betapa sibuk ia bekerja sejak pagi.

"Ry, kitu bentar," ujar seorang perempuan berkerudung cream yang sedang duduk di balik meja kasir kayu, tangannya sibuk mencatat pesanan yang harus diantar besok pagi untuk acara wisuda. Gesekan pulpen di atas kertas terdengar ritmis.

Ryana mendekat, langkah kakinya terasa berat, lalu duduk di bangku depan Sekar. Ia melepaskan sarung tangan yang lembap, menyelipkannya di saku depan apron. “Naon, Teh?”

“Hari minggu nanti, jadikan pergi ke acara tunangan Pram, kan?”

Ryana menghela napas, bahunya merosot. “Aku lihat dulu deh Teh, tergantung Papa bisa pergi juga atau nggak.”

“Ih, Pram bakal marah nanti kalau kamu sama Rian nggak pergi.” Sekar menunjuk Ryana dengan ujung pulpen yang terselip di antara jari.

“Teh,” lirih Ryana sambil merebahkan dahi ke permukaan meja kayu yang dingin. "Intinya teh kalau Papa nggak sibuk, kami bakal pergi kok."

Sambil bertingkah mengejek, Sekar juga memiringkan bibir mengikuti omongan Ryana. Ryana melirik kesal ke arah Sekar yang tertawa renyah, lalu mengambil pulpen lain di meja dan memutarnya gelisah di sela jemari. Ia tahu, kuat suara tawa Sekar tidak sebanding dengan betapa kerasnya hati seorang Papa. Tanpa izin itu, jangankan menghadiri tunangan adik Sekar, bekerja di toko ini saja sudah membuat dada Ryana didera rasa bersalah yang mencekat.

Tanpa Ryana sadari, ujung pulpen di tangan kanannya mulai mencoret-coret kertas coretan di meja. Pikirannya langsung melayang, mendadak kosong ketika teringat kata 'tunangan'. Kini batin Ryana terguncang kecil, memicu ngilu di dada. Mungkin seharusnya ia sudah merasakan momen manis itu beberapa tahun lalu. Sekarang malah sebaliknya—yang tersisa hanya rasa dikhianati yang meninggalkan cap pahit. Bertahun-tahun kepercayaan itu hancur, bukan oleh orang asing, melainkan oleh Deri, lelaki yang dulu ia anggap pahlawan yang mengulurkan tangan dikala masa gelap menyerang Ryana dengan hebat.

Deri pernah ingin membawa hubungan mereka lebih jauh, tetapi tak pernah mendapat restu. Ryana yang terbiasa tunduk pada perintah Papa hanya bisa diam, dan penolakan itu membuat Deri pergi. Malam-malam Ryana menjadi semakin pekat dan berat sejak tahu Deri justru bermalam dengan sahabatnya sendiri.

“Mikirin naon, eta?” Sekar masih berkutat dengan lembar pesanan, ia melirik Ryana yang kini tatapannya kosong, seolah raganya tidak berada di toko.

Hening. Hanya ada suara detak jam dinding.

Tak ada jawaban dari Ryana, "Ry, Teteh nanya ini," ujar Sekar sambil menepuk lembut punggung tangan Ryana yang sibuk membuat coretan super abstrak hingga kertasnya nyaris robek.

“Gak Teh, tiba-tiba teringat hal itu lagi.”

Sekar menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala, nadanya berubah lembut. “Sudah atuh, masih aja mikirin dia wae. Sekarang fokus sama diri sendiri aja.” Sekar mengelus pelan kulit tangan Ryana yang terasa sedingin es. Mata mereka beradu, menyalurkan kehangatan yang saling menyemangati. Suasana sendu sehabis hujan memang selalu berhasil memancing emosi galau Ryana ke permukaan. “Tapi ya, jangan tutup hatimu untuk orang lain, Ry,” lanjut Sekar menjentik kening Ryana sambil tertawa kecil.

Perempuan itu meringis, jemarinya membenarkan poni yang rusak karena sentilan Sekar. “Teh, kenapa bukan Teteh sih jadi kakak aku? Di rumah teh terasa asing. Aku juga masih sulit percaya sama orang lain.”

“Namanya juga belajar, musti bertahap. Gak ada yang instan, neng geulis.”

Lihat selengkapnya