Semuanya, Tentangmu

Anggahmu
Chapter #2

#2

“Pak Deden, kali ini aja.”

“Aduh, Teh. Bukan Bapak nggak mau atuh. Teteh kan tahu pisan risiko na kalau Papa sampai tahu?” Ryana menggenggam erat tangan kanan Pak Deden, pria paruh baya yang awalnya sopir keluarga sebelum didelegasikan menjadi sopir pribadi untuk mengawasinya ke mana pun.

Cahaya timur yang keemasan masih dengan tenang menyinari toko florist itu, memantul hangat pada kaca etalase. Namun, Ryana sudah merengek dengan binar mata penuh harap, sementara di sisi lain, Sekar sudah bolak-balik memasukkan beberapa kantong besar berisi buket bunga pesanan wisuda yang pagi ini harus diantar ke berbagai kampus.

“Tapi kali ini aja, Teteh mohon,” ucap Ryana lirih. Balasan Pak Deden hanya gelengan kepala pelan yang terasa berat.

“Bapak teh nggak mau Teteh kenapa-kenapa lagi, ih,” ujar Pak Deden sembari membenarkan poni Ryana yang sedikit berantakan ditiup angin pagi.

Bagi Pak Deden, Ryana sudah seperti anaknya sendiri sejak ia menemani perempuan itu berseragam sekolah dasar. Di matanya, sosok di depannya ini masih seperti anak kecil yang selalu meminta dibelikan sesuatu dengan tatapan memelas.

Brak.

Sekar menutup pintu bagasi mobil. Ia melirik jam tangan, lalu mendongak mengecek kondisi langit Bandung pagi ini. Prediksinya tidak meleset; langit jernih tanpa gumpalan awan. Biru cerah itu tampak sama persis seperti binar mata Ryana yang begitu bersemangat ingin ikut mengantar bunga.

Sekar tersenyum tipis melihat kedua orang di depan toko yang masih saling tarik ulur. Langkah kakinya yang santai mendekati mereka berdua. Ryana masih enggan melepas genggaman tangannya, sementara jemari Pak Deden masih merapikan rambut Ryana.

“Tenang aja atuh, Pak Deden. Kali ini ada aku yang temani Ryana, dijamin aman,” ucapan tegas Sekar seolah menjadi jaminan mutlak.

Ryana mengangguk cepat. Pak Deden menatap Sekar ragu, lalu beralih kembali menatap Ryana. Sekar menarik napas dalam. “Kami teh cuman ngantarkan wae. Salah satunya ke Wisuda Universitas Ganesha Parahyangan.”

“Yaudah, Bapak izinkan kalau begitu,” ucapan pasrah dari Pak Deden seketika mengukir senyuman lebar di wajah Ryana. Kedua tangan Ryana langsung menggenggam erat jemari pria tua itu, mengayunkannya kegirangan seperti mainan.

“Yaudah ayo kalau gitu, Ry, nanti kita kena macet. Keburu siang,” desak Sekar demi meyakinkan Pak Deden bahwa mereka harus bergegas.

“Teh Sekar, Bapak titip Ryana, nya?” ujar Pak Deden. Matanya berbinar hangat, merasakan denyut bahagia yang membuncah dari dalam diri Ryana—sebuah senyuman yang sempat terkubur mati rasa selama bertahun-tahun.

Ryana langsung menghambur memberikan dekapan erat yang hangat pada tubuh ringkih Pak Deden. Pria tua itu membalasnya dengan kelembutan, sebelum perlahan melepaskan pelukan. Jemarinya merapikan letak cardigan biru muda Ryana yang miring, lalu menguraikan rambut hitamnya ke depan bahu.

“Janji helua sama Pak Deden. Teu teledor wae sampai ngerepotin Teh Sekar. Pokoknya, kudu nurut Teh Sekar, nya?”

Ryana mengulurkan jari kelingking kecilnya yang langsung disambut oleh kelingking kokoh Pak Deden. Tanpa membuang waktu, Ryana berbalik dan masuk ke dalam kursi penumpang mobil Jazz kuning milik Sekar.

Saat mesin mobil menderu halus, Pak Deden teringat sesuatu. Ia setengah berlari menghampiri pintu mobil, membawa sebuah tote bag kain berwarna beige yang senada dengan rok lipit milik Ryana. “Teh, tasnya ketinggalan ini!” Tas itu disodorkannya lewat jendela mobil yang terbuka. Ryana menyambarnya cepat, lalu melambaikan tangan dengan binar wajah yang tak padam.

“Pak, Teteh pamit helua.” Mobil kuning itu pun melaju, meninggalkan Pak Deden yang berdiri di atas trotoar depan toko Florist Sekar Abadi, membalas lambaian hingga kendaraan itu mengecil di kejauhan.

Jendela mobil sengaja diturunkan sedikit, membiarkan aliran udara pagi Bandung yang sejuk dan bersih menerpa wajah Ryana. Langit di atas kepala begitu biru sempurna, seolah merayakan kebebasan kecilnya hari ini.

Ryana menghirup dalam-dalam aroma pekat kopi dari kafe pinggir jalan yang berpadu dengan debu tipis jalanan. Saat mobil melewati area Dago, pemandangan berubah menjadi deretan pepohonan tua yang rimbun, diiringi bising klakson kendaraan yang mulai bersahutan. Di mata Ryana, semua hiruk-pikuk kota itu justru terasa indah—seindah perasaannya yang akhirnya berhasil lolos dari kungkungan rumah yang terasa mencekik.

“Ry, nanti kamu standby di UGP ya,” ucap Sekar tanpa mengalihkan fokus dari setir.

Ryana mencerna kalimat itu selama beberapa detik sebelum menoleh patah-patah dengan mata penuh tanya. “Lah, kenapa kitu?”

“Soalnya, di sana teh ada tiga kantong besar, sedangkan di kampus lain cuman mesan beberapa buket aja. Kamu bisa, kan?”

Ryana mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagu, otaknya berputar mencari celah. “Kalau Teteh aja yang di sana, terus aku yang antar ke kampus lain?”

Sekar melirik kilat, memamerkan senyum mengejek. “Kalau kamu bisa nyetir mobil mah, Teteh juga mau.”

Ryana seketika cemberut, melipat kedua tangannya di depan dada. “Ih Teteh mah, napa tinggalin aku sendirian sih, Teh? Kan kita bisa sama-sama.”

“Kalau Teteh ikut juga di UGP, pesanan di kampus lain gimana?” Skakmat dari Sekar membuat Ryana bungkam. Suka cita atas kebebasannya mendadak sedikit surut. “Teteh mah percaya kamu, kan kamu adik Teteh yang paling bisa diandalkan,” lanjut Sekar sembari mencolek Ryana yang di sampingnya.

“Dibanding Aa Pram?” Sekar mengangguk mantap. “Kalau sama Mas Adit?”

“Gelo sia, bandingkan kamu sama suami Teteh. Ya Teteh milih suami Teteh, atuh. Aya-aya wae kamu ih.”

Mendengar kalimat Sekar yang menaruh kepercayaan besar padanya, sebersit keberanian yang asing mulai merayapi dada Ryana. Ia mengingat janjinya pada Pak Deden, juga teringat akan anjuran dari Dokter Shintia yang selalu memintanya berlatih keluar dari zona nyaman dan mulai bersosialisasi dengan dunia luar.

Lihat selengkapnya