Semurni Cinta Seputih Rindu

Innuri Sulamono
Chapter #1

Dua Pengagum

Seperti lebah keluar dari sarang, remaja putih abu-abu berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing, seolah berlomba siapa pulang paling cepat dapat hadiah utama. Sementara di tengah kegaduhan itu seorang cowok malah berdiri tepat di depan dua cewek yang berjalan terburu.

"Ada apa sih? Gak bosan-bosannya mengganggu Rani," kata cewek yang berkulit lebih gelap dengan wajah berkerut karena kesal, tangannya bersiap mendorong cowok itu agar menyingkir dari hadapan mereka berdua.

"Sudahlah Lala, Sanjaya 'kan nggak bermaksud buruk pada kita," bela Rani membuat cewek yang dipanggil Lala itu mengurungkan niatnya.

"Apa? Kita? Padamu tahu!" timpal Lala dengan tatapan tajam tepat di wajah Rani, bila bukan bikinan Tuhan, bola mata itu sudah keluar dari kelopaknya. Tak jelas apa makna yang tersembunyi dari tatapan mata itu, nyaris seperti nenek sihir. Rani merasa Lala menyembunyikan sesuatu, mungkin semacam kegelisahan yang mencoba dibungkus rapat tapi menyeruak keluar.

Yang dipanggil Sanjaya tertawa penuh kemenangan, menampakkan giginya yang putih rata bak iklan pasta gigi, lalu tangannya mengulurkan sebuah bungkusan pada Rani.

"Kali ini jangan ditolak ya," kata cowok jangkung itu setengah memohon, bimbang Rani menerimanya, raut wajahnya terlihat terpaksa, entah karena apa.

"Boleh kuantar pulang?" kata Sanjaya.

"Eeeh, kamu anggap apa aku? angin berhembus?" Ketus suara Lala, tangannya langsung menggandeng tangan Rani, hampir menyeretnya, menuju tempat parkir sepeda motor di samping kanan gedung sekolah mereka. Rani mengikuti langkah Lala seperti seorang anak mematuhi ibunya, diliriknya wajah Sanjaya yang kecewa seperti orang menahan BAB.

Sementara di kejauhan, seorang cowok berkacamata hitam, duduk di atas sepeda motor memandang adegan ketiga remaja itu bak intelijen negara, cowok itu langsung meluncur pergi begitu Rani dan Lala sampai di tempat parkir.

Tak seperti biasa, keduanya saling diam selama perjalanan pulang, bahkan sampai Rani turun dari boncengan Lala, namun ketika langkah kaki Rani menginjak teras rumahnya, Lala memanggil.

"Ran!" Rani menoleh tanpa mengubah posisi badannya.

"Iya, ada apa? Makasih ya sudah diboncengin."

"Itu loh, kalau dikasih makanan, jangan dimakan," kata Lala setengah berteriak, menunjuk bungkusan di tangan Rani dengan dagunya.

"Memangnya kenapa?"

"Bisa jadi ada guna-gunanya."

Rani menimang-nimang bungkusan kecil di tangannya sampai masuk rumah, dalam hatinya bertanya-tanya, guna-guna? bagaimana Lala tahu bila bungkusan ini berisi makanan yang ada guna-gunanya?

"Ma, kenapa sih Lala sebel sama Sanjaya yang lagi pedekate-in Rani? Padahal Sanjaya nggak pernah kurang ajar loh, ya kadang suka konyol juga sih dia," kata Rani mengadu pada mamanya.

"Barangkali Lala cemburu, barangkali Lala juga suka sama Sanjaya, barangkali ..." jawab mamanya sambil mengangkat bahu, Rani mengangguk-angguk.

"Tapi Lala 'kan anti pacaran sama teman sekelas, masak dia juga anti sama orang yang pacaran sekelas? Lala juga sekarang dekat dengan teman kakaknya, ya cowok kuliahan gitu deh, kayaknya keren pacaran sama anak kuliahan,"celoteh Rani.

Lihat selengkapnya