Sore itu Rani tak bisa menahan diri untuk tidak bercerita pada Lala perihal surat cinta Sanjaya. Secerewet-cerewetnya Lala, dia sahabatnya sejak SMP yang amat dia percaya. Lewat telepon genggam meluncurlah cerita Rani.
"Menurutku Sanjaya itu nggak banget deh, selain seumuran, masih banyak yang lebih baik buatmu," kata Lala tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan nggak banget.
"Aku sudah tahu jawabanmu La, tapi nggak tahu kenapa, dia membuatku merasa riang dan nyaman." Rani mengungkap jujur perasaannya.
"Itu saja tak cukup. Cowok itu musti beberapa tahun lebih tua daripada cewek, karena cewek lebih cepat dewasa." Lagi-lagi Lala menyinggung soal umur yang sebaya, seolah kekurangan alasan menentang hubungan Rani - Sanjaya, seolah ingin mengendalikan kehidupan, kehidupan orang lain pula. Melelahkan.
"Kalau begitu Kak Bawana barangkali," tercetus juga nama Bawana yang sebenarnya ingin dirahasiakannya untuk saat ini. Benar saja, Lala terkejut mendengar nama itu.
"Kak Bawana siapa? Pengagum barumu?"
"La, kamu ingat nggak waktu pengenalan sekolah tempo hari, yang membawakan ekstrakulikuler teater? Kakak kelas kita, dia kelas duabelas, yang rambutnya belah tengah tapi cakep?"
"Hmm ... yang wajahnya kayak oppa Korea itu? Dia nembak kamu?"
"Aduh Lala, Lala, nggak nembak lah, baru saja kenalan, dia nge-DM aku."
"Dari mana dia tahu nomormu? namamu?"
"Pasti nyari tahu lah, 'kan gampang, dia panitia, punya segudang data murid baru."
"Aneh, bagaimana dia tahu namamu Maharani Cantika?"
"Lah kemarin 'kan sempat nunjuk aku buat maju ke depan buat ditanya-tanya sejauh apa pengetahuanku tentang teater?" Terlintas memori saat Bawana menyebut dia sebagai 'yang pakai jam tangan pink', lalu diminta memperkenalkan diri di depan seluruh murid baru.
"Oh iya, ya, aku ingat itu. Berarti dia ada hati sama kamu."
"Nggak tahu juga, aku nggak mau kege-eran. Barangkali dia punya alasan lain."
"Alasan apa? Kalau cowok nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba nge-DM, itu tandanya tertarik, apalagi pakai effort nyari info tentang kamu. Itu sudah terang benderang tanda-tandanya, bak matahari bersinar di langit biru jernih," kata Lala setengah berpuisi.
"Masuk akal sih analisa kamu. Lantas bagaimana?" tanya Rani, terdengar polos, sampai Rani tersenyum sendiri menyadari betapa itu pertanyaan tidak penting.
"Rani, Rani, kamu kebelet sekali punya pacar ya," goda Lala.
"Iya palingan, rasanya seneng aja ada yang merhatiin dan menyayangi."
"Memangnya kamu kekurangan kasih sayang?"
"Beda dong kasih sayang orang tua sama pacar, apalagi aku sendirian, nggak kayak kamu, punya kakak yang asik. Kamu nggak punya pacar juga nggak apa-apa, sementara aku hanya ketemu Mama dan Mama lagi, di depan Mama, di belakang Mama, di tengah Mama. Hidupku ini sudah di taraf membosankan." Giliran Lala yang tertawa mendengar jawaban Rani, bisa-bisanya bilang hidup membosankan, padahal Rani anak tunggal dengan orang tua berkecukupan dan penuh kasih sayang pula. Rupanya manusia punya kecenderungan cari masalah agar hidupnya seru.
"Kalau kamu terlalu kebelet gitu, lebih baik direm dulu, tahan dulu, soalnya itu bikin pandangan jadi kabur dan tidak obyektif. Lebih baik berteman saja, kalau menemukan kecocokan baru deh," kata Lala mendadak bijak.