Semut-Semut di Kepala Ibu

Lilith
Chapter #1

Chapter tanpa judul #1

Belakangan ini Ibu kembali sering mengeluh tentang semut-semut yang menginvasi kepalanya. Mula-mula, kawanan semut itu memberondong meja makan untuk merampok roti manis yang aromanya menimbulkan keriuk pada perut. Ibu menjerit marah seolah mahakaryanya itu telah ternoda sebelum seseorang sempat mencicipinya. Setelahnya, aku berinisiatif membeli obat semprot serangga dan untuk sementara masalah semut itu teratasi.

     Namun, kedamaian itu tak berlangsung lama, karena kemudian Ibu histeris lagi. Kali ini disertai tangis panjang. Juga racauan. Ibu menangis sambil menunjuk-nunjuk halaman depan. Katanya, pasukan semut akan mengambil-alih hak milik rumah kami dan menjadikan penghuninya sebagai tawanan.

     “Amankan sertifikat, cepaat…!”

     Ibu lupa bahkan kami belum menerima sertifikat itu karena aku membeli rumah ini dengan cara kredit. Benda itu masih tertahan di sebuah brankas di bank.

     “Kalau begitu sembunyikan makanan dan segala yang manis-manis!”

     Tentu saja aku hanya berpura-pura mau melakukan perintah Ibu dengan syarat ia mau bersembunyi di kamar dan menelan bubur labu yang sudah kutaburi obat penenang.

     Pada waktu-waktu yang lebih menyenangkan, yaitu saat Ibu tak histeris dan menangis, Ibu bisa diajak berbincang dengan normal. Kami bicara mengenai cuaca, atau harga-harga kebutuhan hidup, atau gossip selebritis televisi sambil mengudap penganan buatannya. Bahkan, jika suasana hatinya sedang sangat baik, Ibu berkenan membuka cerita tentang semut-semut berseragam dan bersepatu lars yang menyatroni rumah orang tuanya berpuluh tahun yang lalu.

     “Mereka semut-semut raksasa, dengan seragam loreng dan sepatu lars. Mereka memburu orang-orang dewasa di kampung, mencari tanda merah di bagian-bagian rahasia tubuh wanita…” kemudian Ibu mulai bergidik, “….semut-semut itu mengangkut apa saja yang mereka inginkan. Orang dewasa, para wanita, barang berharga dan segala yang manis-manis.”

     Jika telah terlihat mata Ibu menjadi kosong dan dia mulai meracau, cepat-cepat kuletakkan cangkir teh yang tengah kunikmati dan kubujuk Ibu untuk berhenti. Sebelum dia meledak dalam tangis dan menjerit-jerit, “mereka mengambil segala yang manis, dan meninggalkan bau amis! Semut-semut iblis!”

     Aku tahu sejarah Ibu. Perjalanan hidup yang sungguh tak mudah dan berliku. Ibu menceritakanannya sesempal demi sesempal, tetapi kami selalu bersama sepanjang usiaku. Tak sekalipun aku meninggalkannya, tak seharipun kami berpisah. Bahkan, saat aku mengambil S2 di Yogya, Ibu kubawa serta denganku. Kami menyewa satu kamar kost untuk ditinggali berdua.

     Ibu antusias menengok dunia yang lain. Di luar dapur dan mesin jahitnya. Dia paling suka kuajak jalan-jalan ke alun-alun kota untuk melihat pasar rakyat. Di kota ini sering ada hiburan semacam itu. Saat tahun baru, saat ulang tahun Nabi, saat perayaan Imlek. Ibu suka jajan kerak telor dan membawa pulang guci-guci.

    Tetapi, suatu kali saat kami melewati markas militer, Ibu histeris lagi. Ketakukan tampak jelas tergambar di wajahnya. Dia menunjuk-nunjuk sambil berembunyi di balik bahuku.

     “Ada semut! Ada semut! Lari…! Ayo sembunyi…”

     “Ibunya kenapa, Mbak?”

     Salah seorang dari tentara itu, tampaknya yang bertugas di bagian pos, menghampiri kami. Itu malah membuat Ibu semakin menggigil dan histeris sekaligus.

     “Semut! Semut! Jangan ambil anakku yang manis…”

     Keributan itu memancing lebih banyak orang-orang berseragam untuk mendekat kea rah kami. Sebelum keadaan semakin rumit, kupanggil taksi dan kubawa Ibuku kabur dari tempat ini. Sempat kudengar salah seorang dari mereka mengumpat, “Wong tua edan!”

     Pada liburan semester, aku mendapat pekerjaan sebagai asisten peneliti. Seorang professor di fakultas tempat aku belajar mempekerjakanku untuk menggali data di sebuah desa di Magetan. Ah, Magetan.

     Kutawari Ibu untuk menengok rumah masa kecilnya di hari Minggu nanti. Ternyata, di luar harapannku, Ibu menolak.

Lihat selengkapnya