Apakah salah saat dua insan saling mencintai?
Yang pada akhirnya cinta itu hanya memberi luka.
Inka bangun lebih awal hari ini. Sejak kejadian semalam, ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus terjaga, berputar-putar, memikirkan kejadian yang ia alami. Setelah mandi, ia memilih baju yang menurutnya sopan dan sederhana, mempersiapkan diri untuk hari yang penuh teka-teki. Dari bawah terdengar suara Bibi Mara yang memanggilnya.
“Inka, ada temanmu di bawah sini,” teriak bibi Mara dari ruang tamu. Inka menghela napas lega. Setidaknya Ayu datang menjemput seperti yang mereka rencanakan. Ia segera turun ke bawah, berharap melihat wajah Ayu yang penuh semangat. Namun, saat ia tiba di ruang tamu yang ia temui bukanlah Ayu, melainkan seseorang yang tidak terduga. Laksana Lamun, pria yang menolongnya, berdiri di samping Paman Daryo dengan senyum hangat di wajahnya. Tatapan mereka bertemu, dan seketika Inka merasakan getaran emosi yang aneh. Hatinya berdebar kencang.
“Pagi, Inka!” sapanya riang. Inka hanya mampu membalas dengan senyum gugup. Ia tidak menyangka bahwa Lamun yang akan datang, dan tampaknya, pria itu sudah cukup akrab dengan Paman dan Bibinya. Mereka berbincang dan bergurau seperti keluarga yang telah lama saling mengenal. Inka merasa bingung. Kenapa Fitri tidak memberitahunya bahwa Lamun sudah mengenal keluarganya. Ia berjalan menghampiri bibi Mara yang sedang sibuk mengurus bekal sarapan untuk Fitri.
“Ternyata kau berteman dengan Lamun.” Ucap bibi Mara sambil mengisi kotak makan siang.
“Bibi kenal dengannya?” tanya Inka, berusaha mencari jawaban.
“Tentu saja, dia anak yang baik,” jawab Bibi Mara sambil tersenyum. “Lamun pernah membantu pamanmu saat mobilnya rusak di jalan.”
Fitri yang sudah siap dengan pakaian putih abu-abunya menghampiri ibunya untuk mengambil bekal, lalu berpamitan pergi. Inka segera pamit dan menyalami tangan Bibi.
“Tunggu uni, Fitri!” Ucap Inka.
“Ayah bilang uni akan pergi bersama Kak Lamun,” jawab Fitri. Inka terkejut mendengar itu.
“Kapan aku bilang begitu?” Tanyanya kebingungan. Paman yang sedang asyik berbicara dengan Lamun segera membalas.
“Lamun sendiri yang bilang pada paman,” jawab paman dengan senyum lebar. Inka terdiam, bingung. Sejak kapan ia dan Lamun akan pergi bersama. Inka melihat Lamun berdiri dengan senyum yang seakan-akan meyakinkannya untuk ikut. Dengan hati-hati, Inka melangkah mengikuti, meskipun masih merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya. Selama perjalanan menuju kampus, Inka tetap diam, hanya mendengarkan pertanyaan-pertanyaan Lamun yang sesekali membuatnya menjawab singkat. Ia tidak tahu perasaan apa yang sedang berkembang dalam dirinya, tetapi setiap kali berbicara dengan Lamun, ada semacam ketegangan yang membuatnya tidak berani menatap mata pemuda itu.
Lamun memarkirkan mobilnya di depan fakultas, mereka berdua turun. Tapi, Inka hanya mematung berdiri.
“Kenapa hanya berdiri di situ?” tanya Lamun dengan nada yang lembut, namun sedikit mengandung tanya. “Kau mau menunggu seseorang di sini?”
Inka masih bingung dan sedikit canggung. “Ya, aku mau menunggu temanku,” jawabnya pelan.
“Kalau begitu, aku akan pergi lebih dulu,” ucap Lamun sambil mulai berjalan menjauh. Setelah cukup jauh darinya, Lamun berhenti, berbalik, dan berteriak dengan suara ceria.
“Oh iya, sampai bertemu lagi!” Senyum Lamun yang hangat disertai lambaian tangan membuat Inka terdiam, hanya bisa menatapnya saat dia menghilang dari pandangan. Dengan langkah pelan, Inka berjalan, membawa sejuta perasaan yang belum bisa ia jelaskan. Ia berdiri sejenak di tempatnya, menatap sosok Lamun yang sudah pergi.
***
“Yang benar saja Inka?” Ucap Ayu terkejut dengan menoleh tajam ke arah Inka sambil memiringkan badannya sedikit, nyaris menutupi buku catatan di meja. “Kau pergi bersamanya? Apa ini kebetulan, atau sudah direncanakan?” bisiknya dengan nada penuh rasa ingin tahu. Inka mencoba tetap tenang, walau hatinya sedikit gelisah. Ia tahu Ayu tak akan berhenti begitu saja.
“Aku tidak tahu, Ayu,” jawabnya pelan, suaranya seperti angin kecil yang tak ingin mengganggu ruang kelas. “Dia tiba-tiba muncul di rumah. Rupanya, dia kenal Paman.” Ayu mengerutkan dahi, matanya berbinar dengan rasa penasaran.
“Kenal pamanmu? Wah, dia benar-benar misterius tapi mengesankan.” Inka hanya menggeleng, mencoba fokus pada papan tulis di depan, tempat Prof Ardi menulis kata-kata pembuka mata kuliah filologi. Ruangan itu terasa dingin, meski sinar matahari menyusup melalui jendela besar di sisi ruangan. Suara penghapus papan tulis bergesekan dengan permukaannya menjadi latar yang hampir menenangkan, tapi tidak cukup untuk meredam kegelisahan di dada Inka.
“Saudari di belakang, yang tampak sangat asyik berbincang, mungkin punya pendapat tentang pentingnya memahami teks kuno?” Suara tegas Prof Ardi menggelegar, memecah kesunyian kelas. Inka mendongak dengan terkejut. Jantungnya berdetak cepat, sementara semua mata di kelas kini tertuju padanya. Ayu mendekap mulut, mencoba menahan tawa kecil yang mulai muncul.
“Ma-maaf, Prof,” jawab Inka gugup. Ia menggenggam ujung bukunya, mencoba mencari kata-kata.
“Baiklah,” ujar Prof Ardi melipat tangannya di depan dada. “Sebagai mahasiswa baru, mari kita dengar apa yang Saudari pahami tentang filologi. Silakan.” Inka berdiri dengan enggan. Tubuhnya terasa ringan, seperti sedang berdiri di atas udara, tapi pandangannya tetap kokoh, menatap Prof Ardi.
“Filologi, Prof... adalah sebuah cara untuk memahami masa lalu. Lewat teks-teks kuno, kita bisa menemukan jejak-jejak kehidupan yang pernah ada. Setiap kata yang ditulis adalah perjalanan, dan tugas kita adalah membangun kembali jalan yang telah lama hilang.” Kata-katanya, meski sederhana mengalir dengan nada lembut yang menghanyutkan. Bahkan Ayu terdiam, matanya membulat kagum. Prof Ardi, yang awalnya memasang wajah tegas, kini tersenyum tipis. “Penjelasan yang puitis. Silakan duduk.”
Inka duduk kembali, wajahnya merona merah. Ayu mencondongkan badan, berbisik pelan, “Kau terlihat seperti penyair tadi. Kalau Lamun mendengar, dia pasti akan semakin kagum.” Inka tak menjawab, hanya menyimpan senyuman kecil di bibirnya.
Di luar, angin lembut berhembus membawa aroma baru. Cahaya matahari bermain di atas lantai ruangan, menciptakan bayangan seperti puisi yang tak tertulis. Dan di antara suara pelajaran yang kembali berlangsung, Inka menyadari bahwa hari ini, di kelas pertama itu, sesuatu telah berubah. Suasana kelas mulai tenang kembali setelah Prof Ardi melanjutkan penjelasannya tentang pentingnya memahami teks kuno sebagai cerminan kebijaksanaan leluhur. Namun bagi Inka, ketenangan itu hanya di luar. Dalam dadanya, perasaan campur aduk berputar seperti ombak yang memecah di pantai, meninggalkan riak-riak kecil yang tak kunjung hilang. Ayu menyikut lengannya pelan, senyumnya penuh arti.
“Hei, kau serius tidak mau bercerita lebih banyak soal pagi tadi? Aku tahu kau tidak hanya diantar begitu saja.” Inka menghela napas panjang. Ia menutup bukunya perlahan, menoleh ke arah Ayu yang duduk di sebelahnya.
“Ayu, sungguh. Tidak ada yang spesial. Dia hanya muncul, berbincang sebentar dengan paman, lalu menawarkan tumpangan. Itu saja.”
Ayu menyipitkan mata, seperti sedang menganalisis sesuatu. “Kau tahu, Inka? Lamun itu seperti misteri dalam buku tua. Kau bisa membaca bait pertamanya, tapi sisanya selalu mengundang untuk dijelajahi.” Kata-kata Ayu membuat Inka terdiam. Di balik canda itu, ada kebenaran yang sulit ia sangkal. Lamun memang seperti itu, kehadirannya sederhana tapi selalu meninggalkan kesan yang mendalam.
Di depan kelas, Prof. Ardi menyampaikan akhir dari pembahasan hari itu.
“Baik, para mahasiswa. Sebagai penutup, saya ingin kalian renungkan ini, teks kuno bukan hanya tentang apa yang tertulis, tetapi juga tentang apa yang tidak tertulis. Setiap jeda, setiap keheningan, memiliki cerita yang tak kalah penting. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya.”
***