Senandika di Balkon Laut

anantara
Chapter #4

Kota Padang, Pantai dan Pameran

Dalam lukisan itu, kau bertanya keindahannya,

Namun adakala, kaulah yang membuatnya indah.

 

Pagi itu, udara kota Padang terasa lebih cerah dari biasanya. Langit biru tanpa awan menyelimuti kampus, dan angin pagi membawa aroma segar dari timur. Di sebuah sudut ruang kelas, Inka duduk dengan tenang, menatap papan tulis yang penuh dengan kutipan puisi-puisi Chairil Anwar. Kata-kata itu bagaikan bisikan yang mengalir lembut di udara, meresap dalam sanubari setiap mahasiswa yang hadir. Namun, pikirannya melayang jauh, bukan pada kata-kata sang penyair, melainkan pada percakapan yang terjadi beberapa hari sebelumnya dengan Ayu.

“Aku ingin kau berkunjung ke rumahku, Inka,” kata Ayu dengan senyum lebar saat mereka duduk di bangku belakang kelas. “Aku punya koleksi buku yang pasti akan kau sukai. Termasuk karya-karya Taufik Ismail. Kau tahu, dia adalah penyair yang sangat mempengaruhiku.”

Inka mengangguk pelan. Meskipun pertemuan mereka baru sebentar, Ayu tampak begitu antusias berbicara tentang sastra, tentang puisi yang selalu dia pelajari dengan penuh gairah. Inka merasa seperti menemukan sahabat sejiwa.

“Besok aku datang,” kata Inka, meskipun ia tahu ia tidak bisa menolak ajakan itu. Ada sesuatu dalam tatapan Ayu yang membuatnya ingin tahu lebih banyak, tentang Ayu yang selalu mengisi ruang di sekitar mereka.

 

***

Hari itu, setelah kelas selesai, Ayu menunggu Inka di depan parkir kampus dengan senyum cerah. “Ayo, aku sudah tidak sabar untuk menunjukkan koleksi bukuku!” kata Ayu, memegang erat tas kecil yang berisi catatan-catatan pelajaran kelas tadi.

Mereka menaiki motor berdua menyusuri jalanan kampus menuju rumah Ayu. Jalanan itu dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Ketika mereka berbicara, seolah waktu melambat, dan kata-kata itu mengalir begitu alami, seperti sebuah aliran sungai yang mengalir tanpa hambatan. Ayu memulai percakapan dengan cerita tentang keluarganya, tentang ayahnya yang dulu sering membacakan puisi untuknya, tentang ibunya yang selalu menyemangatinya untuk mengejar mimpinya, dan tentang dua kakak laki-lakinya. Di antara tawa dan candaan, Inka mendengarkan dengan penuh perhatian, merasa semakin dekat dengan Ayu, seperti sehelai benang yang semakin rapat menjalin hubungan antara mereka.

Setibanya di rumah Ayu, Inka langsung merasa betah. Rumah itu sederhana, tetapi penuh dengan kehangatan. Rak-rak buku besar memadati hampir seluruh dinding ruang tamu. Di setiap rak, terdapat koleksi buku sastra yang rapi. Buku-buku Taufik Ismail, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, dan banyak lagi karya penulis besar.

“Selamat datang di dunia literasi milikku,” kata Ayu sambil menunjuk rak buku di dinding. “Ini tempat di mana aku merasa bebas, di mana kata-kata menemukan maknanya.” Inka melangkah perlahan ke rak buku, menyentuh sampul-sampul buku yang sudah usang karena sering dibaca.

 “Ini luar biasa, Ayu. Aku tidak pernah melihat koleksi sebanyak ini di satu tempat,” ujar Inka dengan kagum.

Ayu tertawa kecil. “Ayahku yang membuatku jatuh cinta pada sastra. Dia selalu membelikanku buku-buku ini saat aku kecil. Bagi kami, buku adalah harta yang tak ternilai. Itulah cara ayah menunjukkan cintanya.”

Di antara koleksi buku itu, Inka menemukan sebuah buku puisi yang sangat dikenalnya, Aku ini binatang jalang karya Chairil Anwar. “Aku suka sekali puisi ini,” ucap Inka, membuka halaman pertama dengan hati-hati. Ayu duduk di sampingnya, tersenyum sambil menatap Inka yang sedang menyelami kata-kata itu.

“Sama, aku juga sangat menyukai puisi itu. Setiap kali aku merasa bingung atau kehilangan arah, aku selalu kembali ke puisi-puisi ini. Seperti menemukan petunjuk yang hilang.”

Percakapan mereka berlanjut, membahas puisi-puisi lain yang menjadi favorit mereka, dan bagaimana sastra telah menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Inka merasa seperti menemukan dunia baru bersama Ayu, dunia yang dipenuhi dengan kata-kata indah dan makna yang mendalam. Setelah beberapa waktu, Ayu mendekatkan wajahnya dengan senyum misterius.

“Bagaimana kalau kita pergi ke Pantai Nirwana?” tanyanya tiba-tiba. “Kau harus melihat matahari terbenam di sana. Aku tahu kau akan suka.” Inka terkejut karena ajakan tiba-tiba itu, tapi ia juga tidak bisa menahan rasa penasaran.

“Pantai Nirwana?” tanyanya dengan sedikit kebingungan.

Ayu mengangguk dengan semangat. “Ya, pantai! Aku selalu datang ke sana saat ingin berpikir atau sekadar menikmati keindahan. Kau harus ikut!”

 

***

 

Setelah perjalanan singkat, mereka tiba di Pantai Nirwana. Laut yang luas terbentang di hadapan mereka, ombak kecil yang berdebur lembut menyapu pasir. Langit berubah menjadi warna jingga dan merah yang memukau, membawa kedamaian yang luar biasa. Inka membuka sepatu dan melangkah perlahan menuju bibir pantai, membiarkan ombak menyapu kakinya.

“Aku tidak pernah tahu kalau tempat seperti ini ada di Padang,” kata Inka dengan tatapan terpesona. Ayu berdiri di sampingnya, menatap laut dengan mata yang penuh harapan.

“Aku juga dulu seperti itu. Aku tidak tahu seberapa besar dunia ini, sampai aku menemukan tempat ini. Di sini, aku merasa bebas.” Mereka duduk di atas pasir, berbicara tentang banyak hal. Ayu bercerita tentang perjuangannya mengejar impian di dunia sastra, dan bagaimana ia selalu merasa bahwa puisi adalah pelipur lara dalam setiap kesulitan. Inka mendengarkan dengan penuh perhatian, merasa bahwa dunia mereka mulai terhubung dalam cara yang indah. Ia juga mulai bercerita tentang keluarganya tentang kehilangan ayahnya dan bagaimana ia merasa terbebani oleh harapan besar yang ditinggalkan oleh ayahnya.

“Aku mengerti, Inka,” kata Ayu dengan lembut. “Kadang kita merasa seperti beban yang berat, tapi kau harus ingat, kita bukan satu-satunya yang membawa beban itu.”

Inka terdiam, merenung. Kata-kata Ayu menyentuh hatinya. Ia merasa seolah ada sesuatu yang telah terhubung dalam dirinya. Matahari perlahan turun di balik cakrawala, dan langit senja berubah menjadi pemandangan yang begitu mempesona. Keindahan alam itu mengingatkan Inka bahwa, meskipun hidup penuh dengan tantangan, ada juga momen-momen seperti ini yang mengingatkan kita untuk berhenti sejenak dan menghargai apa yang ada.

Lihat selengkapnya