Senandika di Balkon Laut

anantara
Chapter #5

Syair Malam dan Tangis Pagi

Puisimu lembut seperti melodi,

Tangismu rintih, seperti meranti.

 

Sejak momen itu, saat Lamun menyatakan perasaannya di pameran seni taman budaya. Inka belum memberikan jawaban. Setiap kali ia mengingat wajah Lamun yang penuh ketulusan kala itu, ada rasa hangat yang menjalari hatinya, tetapi juga keraguan yang tak bisa ia abaikan. Lamun, seperti biasanya, tidak memaksa. Ia tetap bersikap hangat dan sopan, membiarkan waktu berjalan dengan sendirinya. Dalam setiap pertemuan mereka di kampus, Lamun selalu memberikan ruang bagi Inka, seolah-olah berkata bahwa ia akan menunggu. Sikap itu justru membuat Inka semakin merenung.

Aku hanya butuh waktu,” bisik Inka pada dirinya sendiri suatu pagi saat menatap pantulan wajahnya di cermin. Namun, seberapa lama waktu yang ia butuhkan?

 

Dua bulan berlalu, dan kesibukan mulai memenuhi hari-hari mereka. Fakultas Ilmu Budaya tengah mempersiapkan acara karya tahunan, sebuah tradisi besar yang melibatkan mahasiswa dari berbagai jurusan di Fakultas Ilmu Budaya untuk menampilkan karya mereka. Kesibukan kampus mulai terasa berbeda sejak poster besar tentang acara seni tahunan terpampang di berbagai sudut fakultas. Mahasiswa dari berbagai jurusan berkumpul untuk membahas kontribusi mereka, dan suasana itu membawa dinamika baru dalam keseharian semua orang, termasuk Inka.

“Inka, kau sudah dengar tentang acara ini, kan?” tanya Ayu dengan semangat khasnya, sambil meletakkan setumpuk kertas konsep acara di atas meja kantin. “Ini adalah acara besar fakultas kita, dan kita harus berpartisipasi!”

Inka, yang sedang menyesap jus jeruknya, hanya mengangguk kecil. “Aku tahu, tapi aku tidak yakin bisa melakukan banyak hal. Aku bahkan belum pernah terlibat dalam acara sebesar ini.”

“Itu omong kosong,” potong Ayu sambil menatap Inka dengan tajam. “Kau punya bakat, Inka. Kau bisa membaca puisi di panggung atau membantu panitia mengatur karya seni. Aku tidak akan membiarkanmu duduk diam dan melewatkan kesempatan ini.”

Akhirnya, setelah beberapa kali dibujuk Ayu, Inka setuju untuk bergabung sebagai salah satu panitia. Ia ditempatkan dalam tim kurasi karya seni, sebuah tugas yang menuntutnya untuk bekerja sama dengan mahasiswa lain, termasuk beberapa dari jurusan Studi Seni. Hari-hari pun berlalu dalam kesibukan yang padat. Aula kampus yang besar diubah menjadi ruang pameran yang menakjubkan, dengan rak-rak kayu yang disusun untuk memajang patung, lukisan, buku, puisi, dan karya seni digital. Dinding aula yang biasanya kosong kini dipenuhi dengan kain latar warna putih, menciptakan suasana galeri profesional. Inka terlibat dalam setiap detailnya, dari memilih karya seni yang akan dipamerkan hingga memastikan pencahayaan yang tepat untuk setiap sudut ruangan. Meskipun awalnya ia merasa canggung bekerja dengan banyak orang baru, lama-kelamaan ia mulai menikmati dinamika itu.

Di sisi lain, Lamun juga aktif dalam persiapan acara ini. Ia bergabung dengan tim teknis, yang bertugas mengatur tata panggung, pencahayaan, dan audio.

“Jadi, Lamun, kau sekarang ahli lampu panggung?” canda Josua suatu sore saat mereka sedang menyusun peralatan di aula.

Lamun hanya tertawa kecil. “Bukan ahli, hanya membantu. Kalau kau tahu cara memasang lampu mobil, kau juga bisa memasang lampu panggung.”

Josua menggeleng sambil tertawa. “Beda jauh, Bro. Aku hanya ikut karena kalian butuh relawan. Tapi jujur saja, aku mulai menikmati ini.”

Ayu yang kebetulan lewat dengan membawa setumpuk kertas dekorasi, langsung menyela. “Dan kau harus menikmatinya lebih lagi, Josua! Seni bukan hanya soal lukisan atau puisi, tapi juga bagaimana kita memahami hidup.”

“Ya, ya, aku tahu,” jawab Josua sambil mengangkat bahu. “Tapi jangan berharap aku tiba-tiba jadi pecinta seni.”

Percakapan mereka diwarnai canda tawa, tetapi di sisi lain Lamun sesekali melirik Inka yang sibuk membantu tim kurasi di sudut aula. Ia memperhatikan bagaimana Inka bekerja dengan penuh dedikasi, meskipun ia tahu bahwa ini adalah dunia yang baru baginya. Suatu sore, semua panitia berkumpul untuk membahas konsep acara secara keseluruhan. Aula kecil yang dipakai sebagai ruang rapat dipenuhi suara mahasiswa yang saling berdebat tentang tema, tata letak, dan hiburan malam puncak.

“Aku pikir kita perlu sesuatu yang berbeda tahun ini,” kata salah satu mahasiswa. “Mungkin instalasi seni interaktif di pintu masuk, supaya pengunjung merasa lebih terlibat.”

“Dan jangan lupa, kita butuh pembacaan puisi,” tambah Ayu dengan semangat. “Ini acara karya, dan puisi adalah bagian dari itu!”

Semua orang setuju, dan Inka yang duduk di sudut ruangan hanya bisa tersenyum kecil. Namun, senyum itu tidak bertahan lama karena Ayu tiba-tiba menunjuknya.

“Inka bisa membaca puisi di malam puncak!” seru Ayu.

“Eh?” Inka terkejut, menatap Ayu dengan mata lebar. “Aku? Membaca puisi di depan semua orang?”

“Kenapa tidak?” kata Ayu tanpa ragu. “Kau punya suara yang lembut dan kata-kata yang kuat. Itu kombinasi sempurna untuk menarik perhatian penonton.”

Lamun, yang duduk di sisi lain ruangan, ikut mendukung. Inka merasa pipinya memerah. Ia ingin menolak, tetapi melihat tatapan penuh harap dari Ayu dan Lamun, ia akhirnya mengangguk pelan.

“Baiklah, aku akan mencobanya,” katanya dengan suara yang hampir berbisik.

 

Di malam terakhir sebelum acara dimulai, semua panitia bekerja hingga larut malam. Aula besar itu kini hampir selesai dihias, dengan lampu-lampu gantung yang memancarkan cahaya lembut, dan karya seni yang dipajang di setiap sudutnya. Inka berdiri di tengah aula, melihat hasil kerja keras mereka.

“Indah sekali,” gumamnya pada dirinya sendiri. Lamun, yang sedang memasang lampu di sudut ruangan, mendekatinya.

“Ini semua juga berkat kerja kerasmu,” katanya sambil tersenyum. Inka menoleh, merasa hatinya bergetar sejenak. Namun ia hanya membalas dengan senyuman kecil. “Kita semua bekerja keras, Lamun. Aku tidak bisa melakukannya sendiri.”

Lamun tidak menjawab, tetapi tatapannya berkata lebih banyak daripada yang bisa diungkapkan oleh kata-kata. Dalam kesibukan yang penuh tekanan, ada momen-momen kecil seperti ini yang membuat segalanya terasa lebih bermakna.

 

***

 

Malam itu, aula kampus telah berubah menjadi ruang karya yang memukau. Cahaya lembut dari lampu gantung memantul di atas lantai kayu yang mengilap, sementara dinding-dinding dihiasi dengan lukisan, instalasi seni, dan kain putih besar yang menjadi layar untuk proyeksi karya seni digital. Suara musik instrumental mengalun lembut, memenuhi ruangan dengan atmosfer yang magis. Inka berdiri di sudut ruangan, mengenakan gaun biru lembut yang memberikan kesan anggun namun sederhana. Tangannya menggenggam selembar kertas yang berisi puisi yang akan ia bacakan nanti di malam puncak. Matanya melirik ke sekeliling ruangan, memperhatikan mahasiswa dan tamu yang datang dengan antusias. Namun di dalam dirinya, ada perasaan gugup yang tak bisa ia abaikan. Ayu, yang terlihat sangat sibuk malam itu, datang menghampiri dengan senyum lebar.

“Hei, kau terlihat cantik sekali, Inka. Sudah siap membacakan puisimu?” tanyanya sambil merapikan rambutnya yang diikat ke samping.

“Semoga saja,” jawab Inka dengan senyum tipis. “Aku tidak ingin mengecewakan semua orang yang sudah bekerja keras untuk acara ini.”

“Jangan khawatir, kau akan baik-baik saja,” ujar Ayu penuh semangat. “Lagipula, malam ini adalah tentang merayakan semua karya dan keberanian. Kau sudah cukup berani berdiri di depan semua orang.”

Sementara itu, Lamun terlihat sibuk di dekat panggung, memastikan semua peralatan teknis bekerja dengan baik. Ia memeriksa pencahayaan, memandu timnya untuk mengatur mikrofon, dan sesekali mencuri pandang ke arah Inka. Meski lelah, ada kepuasan di wajahnya. Ia merasa malam ini akan menjadi momen yang istimewa.

Namun, tidak semuanya berjalan lancar.

 

Ketika acara hampir dimulai, sebuah keributan kecil terdengar dari belakang panggung. Salah satu instalasi seni utama sebuah patung besar berbentuk abstrak yang menjadi simbol acara malam itu jatuh dan rusak. Suara keras dari patung yang terjatuh menggema di aula, membuat semua orang menoleh dengan terkejut.

“Apa yang terjadi?” tanya Ayu, berlari ke arah panggung dengan ekspresi panik. Lamun sudah berada di tempat kejadian, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Seorang mahasiswa dari jurusan antropologi budaya, yang bertugas memasang instalasi berdiri dengan wajah pucat.

“Aku tidak tahu... tali pengikatnya tiba-tiba putus,” katanya dengan suara gemetar.

“Ini bencana,” gumam seorang anggota panitia. “Patung ini adalah karya utama kita. Tanpa ini, tema acara terasa hampa.”

Keributan itu menarik perhatian lebih banyak orang. Bisikan-bisikan mulai terdengar, dan beberapa orang mulai menyalahkan tim teknis atas insiden tersebut.

“Seharusnya tim teknis lebih hati-hati,” ujar salah satu panitia, menatap Lamun dengan tajam.

“Ini bukan sepenuhnya kesalahan kami,” jawab Lamun dengan tenang namun tegas, meskipun wajahnya menunjukkan kelelahan. “Kami sudah memastikan semua tali terpasang dengan baik. Mungkin ada sesuatu yang salah dengan struktur patung itu sendiri.” Namun, kata-katanya tidak menghentikan keributan. Ketegangan semakin memuncak, dan beberapa panitia mulai saling menyalahkan.

Inka yang menyaksikan semua itu dari kejauhan merasakan dada yang berdebar. Ia tahu bahwa situasi ini bisa menghancurkan seluruh suasana malam itu. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah maju ke arah panggung, bergabung dengan Lamun dan Ayu.

“Cukup!” suara Inka terdengar jelas, meskipun tidak terlalu keras. Namun, nada tegasnya membuat semua orang terdiam. Semua mata tertuju padanya, termasuk mata Lamun yang penuh kejutan.

“Ini bukan waktu untuk saling menyalahkan,” lanjut Inka, menatap setiap orang dengan sorot mata yang tenang namun penuh kekuatan. “Kita ada di sini untuk merayakan seni, untuk menunjukkan kerja keras kita. Kesalahan bisa terjadi, tapi itu bukan alasan untuk menghancurkan malam ini. Kita harus fokus mencari solusi, bukan menciptakan masalah baru.”

Ayu segera menambahkan, “Inka benar. Kita masih punya banyak karya lain yang bisa dipamerkan. Mari kita selesaikan masalah ini bersama.” Kata-kata mereka membuat suasana perlahan mereda. Panitia mulai kembali bekerja, mencoba mengatur ulang tata letak panggung agar tetap menarik meskipun tanpa instalasi utama. Lamun menatap Inka dengan tatapan yang sulit dijelaskan ada rasa kagum, rasa terima kasih, dan mungkin sesuatu yang lebih dalam.

Setelah konflik itu selesai, acara dilanjutkan dengan lancar. Pembacaan puisi menjadi salah satu segmen utama yang paling dinanti. Ketika giliran Inka tiba, ia berjalan ke panggung dengan langkah yang sedikit gemetar. Namun, saat ia berdiri di depan mikrofon, melihat wajah Ayu, Lamun, dan teman-temannya yang lain, keberaniannya perlahan muncul. Inka membacakan puisinya dengan suara yang lembut dan penuh emosi.

 

Di antara semua bintang yang berguguran,

Ku tapaki jejak cinta kita,

Di antara pesona cahaya rembulan,

Bimbang hati rasaku pun mati .

Malam ini, senja terasa lebih lama,

Bagai waktu yang berhenti,

Menunggu aku menemukan jawabnya,

Pada rindu yang tak terungkap.

Langit yang kelam menyimpan cerita,

Tentang sepi yang berbalut cahaya,

Tapi siapa yang tahu,

Bahwa cinta kadang bersembunyi

Di balik bayang-bayang yang tak terlihat?

Aku terperangkap dalam lautan kata,

Mencoba merangkai setiap bagian hati,

Namun, seperti bintang yang terhapus malam,

Kau tetap ada, meski aku takut mengakui.

Bagaimana bisa aku mengerti,

Jika jawabnya belum ditemukan,

Namun malam ini, di antara bintang dan lupa,

Aku tahu, ada cinta yang menunggu,

Dalam kesunyian yang tak terungkapkan.

Puisi itu mengalir lembut di udara, menembus hati setiap orang yang hadir. Inka, yang masih berdiri di depan mikrofon, merasakan ketenangan yang aneh setelah menyelesaikan pembacaan itu. Setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti melepaskan beban yang ada di dalam hatinya, namun ada sesuatu yang masih tersisa sebuah rasa tidak terungkapkan, sebuah jawaban yang belum ia temukan. Saat tepuk tangan meriah memenuhi aula, Inka menundukkan kepalanya, mencoba menahan perasaan yang tiba-tiba mengalir begitu deras. Ia merasakan tatapan Lamun yang penuh harap dari barisan penonton. Namun, ia masih merasa bimbang meskipun puisi itu telah menceritakan sebagian dari apa yang ia rasakan. Di antara sorakan dan tepuk tangan, Inka menatap Lamun, yang berdiri dengan senyum lembut di wajahnya. Ada kehangatan dalam tatapannya, sebuah pengertian tanpa kata-kata. Inka tahu bahwa Lamun sudah menunggu jawabannya, namun ia masih merasa ragu. Sementara itu, Lamun hanya bisa tersenyum tipis, mengerti bahwa ini adalah perjalanan yang perlu waktu. Ia tahu bahwa tidak ada yang perlu terburu-buru, karena cinta sejati bukan tentang seberapa cepat ia datang, tetapi tentang bagaimana ia tumbuh dan berkembang di antara hati yang saling mengerti.

 

Lihat selengkapnya