1 bulan setelah dari rumah sakit itu, kabar Lamun tak lagi pernah terdengar semasa di kampus. Hal itu membuat Inka curiga apa yang sebenarnya terjadi. Langit Kota Padang yang cerah pagi itu perlahan berubah menjadi mendung. Awan kelabu menggelayut rendah, membawa angin lembut yang menyapu taman kecil di depan fakultas. Daun-daun flamboyan yang rontok berserakan di sepanjang jalan setapak, menambah kesan hening yang melingkupi suasana. Inka melangkah pelan menuju taman, tempat Ayu biasanya menunggunya sebelum kelas. Namun, pemandangan yang ia temukan berbeda dari biasanya. Ayu duduk di salah satu bangku taman dengan tubuh yang tampak lemas, kepalanya menunduk, dan tangannya menggenggam erat tali tasnya.
“Ayu,” panggil Inka lembut, berusaha menarik perhatian sahabatnya. Ayu menoleh perlahan. Senyumnya muncul, tetapi hanya sekejap, seperti kilasan cahaya di tengah langit yang mendung.
“Inka,” ujarnya, suaranya pelan seperti bisikan angin.
“Ada apa denganmu Ayu? Kau terlihat tidak seperti biasanya,” tanya Inka sambil duduk di sampingnya. Matanya memandang Ayu penuh tanya, mencoba membaca apa yang tersimpan di balik raut wajah sahabatnya itu. Ayu menggeleng cepat.
“Tidak ada apa-apa,” jawabnya, tetapi suaranya terdengar terlalu lemah untuk meyakinkan. Inka terdiam sejenak, matanya menyipit, mempelajari Ayu lebih dalam.
“Ayu,” ujarnya akhirnya, suaranya lebih tegas. “Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Ini tentang Lamun, bukan?”
Pertanyaan itu membuat Ayu tersentak kecil. Wajahnya yang semula penuh kebingungan kini berubah menjadi waspada. Ia menghindari tatapan Inka, matanya kembali menatap pohon flamboyan di depan mereka.
“Dia belum kembali ke kampus,” lanjut Inka, nadanya semakin mendesak. “Aku tahu ada sesuatu yang salah. Kau tahu sesuatu, kan? Kau harus memberitahuku, Ayu.”
“Aku tidak tahu apa-apa,” potong Ayu cepat, meskipun suaranya sedikit bergetar.
“Kau berbohong,” balas Inka, kini suaranya terdengar lebih tinggi. “Aku ini sahabatmu, Ayu. Kenapa kau tidak bisa mempercayaiku?”
Ayu menggigit bibir bawahnya, air mata mulai menggenang di matanya. Ia tahu dirinya berada di persimpangan yang sulit. Ia ingin sekali berbicara, tetapi bayangan janji yang ia buat dengan Josua menghentikan semua kata-kata yang ingin keluar dari mulutnya.
“Inka, aku tidak bisa,” ucap Ayu akhirnya, suaranya bergetar. “Aku tidak bisa memberitahumu. Aku sudah berjanji pada Josua.”
“Janji?” tanya Inka, nadanya tajam. “Jadi, kau lebih memilih untuk menjaga janji daripada mengatakan kebenaran padaku? Kau tahu aku peduli pada Lamun. Apa kau tidak peduli padanya?”
Air mata Ayu akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang pucat. “Inka, tolong. Jangan paksa aku,” pintanya lirih. Inka terdiam, matanya memandang Ayu dengan rasa kecewa yang sulit ia sembunyikan. Setelah beberapa detik hening, ia bangkit dari duduknya.
“Baiklah,” ucapnya dingin. “Kalau kau tidak mau bicara, aku akan mencari jawaban sendiri. Ayu hanya bisa menunduk, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara.
Langit yang mendung semakin menebal di atas kampus, membawa aroma tanah basah yang samar. Angin tipis berembus, menerbangkan daun-daun kering yang berserakan di sepanjang halaman. Inka berjalan dengan langkah cepat, namun hatinya terasa berat seperti membawa beban yang tak terlihat. Setelah percakapan yang mengecewakan dengan Ayu, ia tahu bahwa hanya ada satu orang lagi yang bisa memberinya jawaban.
Langkah membawanya ke jurusan teknik, sebuah gedung besar dengan halaman penuh kendaraan dan mahasiswa yang hilir mudik membawa helm dan peralatan bengkel. Suara obrolan dan gelak tawa terdengar samar dari kejauhan, tetapi pikiran Inka terlalu dipenuhi pertanyaan untuk memedulikan semuanya. Di area parkir fakultas, ia mencari sosok Josua dengan pandangan penuh tanya. Seingatnya, Josua sering berada di sana bersama teman-temannya. Matanya menyapu area itu hingga akhirnya berhenti pada sekelompok mahasiswa yang berdiri di dekat sebuah mobil hitam. Josua ada di sana. Ia mengenali postur tubuh Josua yang tegap dan berwibawa, dengan tangan yang sesekali bergerak ke rambutnya. Kebiasaan kecil yang sering ia lakukan tanpa sadar. Tetapi kali ini, melihat Josua tidak membuat Inka merasa lega. Sebaliknya, ia merasa dadanya semakin sesak.
Dengan napas yang sedikit tercekat, Inka melangkah mendekat. Semakin dekat ia mendekati Josua, semakin jelas percakapan yang terdengar di antara mereka. Josua tertawa kecil pada sebuah lelucon dari temannya, tetapi saat matanya bertemu dengan pandangan Inka, tawa itu langsung hilang.
“Inka?” panggil Josua, suaranya sedikit meninggi karena terkejut. Kelompok mahasiswa di sekitarnya segera memperhatikan Inka, tetapi Josua mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka pergi lebih dulu. Teman-temannya tampak ragu, tetapi akhirnya mereka melangkah menjauh, meninggalkan Josua dan Inka berdiri berdua di tengah parkiran yang mulai lengang.
“Inka, ada apa? Kau terlihat...” Josua berhenti sejenak, mempelajari raut wajah Inka yang penuh dengan emosi. “Kau terlihat marah.”
Inka menatapnya tanpa berkedip, matanya yang biasanya lembut kini memancarkan kekuatan yang sulit diabaikan. “Aku ingin tahu tentang Lamun,” katanya langsung, tanpa basa-basi.
Josua tertegun sejenak. “Apa maksudmu?” tanyanya, meskipun ia tahu pertanyaan itu hanya upaya untuk mengulur waktu.
“Kenapa dia belum kembali ke kampus?” Inka melanjutkan, nadanya tegas. “Ayu bilang kau tahu sesuatu. Aku ingin kau memberitahuku sekarang.”
Josua menghela napas panjang, tangannya bergerak ke belakang leher, sebuah kebiasaan lain yang menandakan kegugupannya. “Inka, aku tidak tahu apakah ini waktu yang tepat...”
“Tidak ada waktu yang lebih tepat dari sekarang,” potong Inka, suaranya meninggi.
“Inka, aku serius,” balas Josua, nadanya berubah menjadi lebih serius. “Ini bukan hal yang bisa aku jelaskan begitu saja.”
“Kenapa tidak?” tanya Inka dengan frustrasi. “Aku peduli pada Lamun, Josua. Kalau ada sesuatu yang salah, aku berhak tahu.”
Keheningan jatuh di antara mereka. Josua menunduk, memandang kerikil-kerikil kecil di bawah sepatunya seolah mencari jawaban dari sana. Di kejauhan, suara deru motor yang melintas terdengar seperti gema yang jauh, menambah kesan sunyi di antara mereka.
“Inka,” akhirnya Josua berkata, suaranya pelan tetapi terdengar berat. “Ini bukan soal kau peduli atau tidak. Ini soal Lamun... dan apa yang dia inginkan.”
“Apa maksudmu?” Inka bertanya, matanya menyipit.
“Lamun tidak ingin kau tahu,” jawab Josua, menatap Inka dengan sorot mata yang penuh dengan rasa bersalah. “Dia tidak ingin kau khawatir. Dia tidak ingin menjadi beban.” Kata-kata Josua membuat Inka terdiam, tetapi hanya sejenak. Rasa frustrasi di dalam dirinya semakin membesar, seperti gelombang yang sulit dihentikan.
“Beban?” ulang Inka dengan nada tajam. “Kau pikir aku melihatnya sebagai beban? Aku ini temannya, Josua. Kalau dia sedang menghadapi sesuatu, aku ingin ada untuknya. Kenapa kalian malah menyembunyikannya dariku?”
Josua mengangkat tangannya, seolah berusaha menenangkan Inka. “Ini bukan tentang kau, Inka. Ini tentang Lamun. Dia sedang melalui sesuatu yang berat, dan dia butuh waktu.”