Senandika di Balkon Laut

anantara
Chapter #7

Liburan

Langit Padang yang biasanya cerah tampak mendung, seakan turut merasakan tekanan yang melingkupi para mahasiswa menjelang ujian akhir semester. Angin pagi yang lembut menyapu halaman kampus, tetapi di dalam ruangan-ruangan kelas dan perpustakaan, suasana terasa tegang. Mahasiswa sibuk dengan buku catatan, saling bertanya dan menjawab, mencoba memasukkan sebanyak mungkin informasi ke dalam kepala mereka yang sudah terasa penuh.

Inka duduk di salah satu meja perpustakaan, buku tebal terbuka di depannya, tetapi pikirannya melayang. Ia menatap ke luar jendela besar di sampingnya, memandangi langit abu-abu yang tampak berat. Di depannya, Ayu sibuk menyalin catatan ke buku kecilnya, menggumamkan istilah-istilah yang harus ia hafal.

“Kenapa rasanya semakin banyak aku baca, semakin sedikit yang aku ingat?” keluh Ayu, meletakkan kepalanya di atas buku dengan ekspresi putus asa.

Inka tersenyum kecil, menutup bukunya sejenak. “Mungkin kau butuh istirahat, Ayu. Otakmu tidak bisa dipaksa terus-menerus.”

“Tidak ada waktu untuk istirahat,” balas Ayu sambil menegakkan badannya kembali. “Kalau aku tidak lulus mata kuliah ini, aku harus mengulang semester depan. Kau tahu bagaimana rasanya?”

Sebelum Inka bisa menjawab, langkah kaki terdengar mendekat. Lamun muncul di antara rak-rak buku, membawa segelas kopi dari kantin. Wajahnya terlihat lebih segar dibandingkan beberapa minggu lalu dan kondisinya juga sudah semakin membaik meski ada jejak kelelahan yang samar di matanya.

“Sepertinya kalian butuh ini,” ujarnya sambil meletakkan kopi di meja Ayu.

Ayu memandang kopi itu sejenak, lalu menatap Lamun dengan tatapan penuh rasa terima kasih. “Kau penyelamatku, Lamun,” katanya sambil menyeruput kopi tersebut dengan semangat. Lamun duduk di kursi di sebelah Inka, membuka buku kecil dari tasnya.

“Bagaimana persiapan kalian?” tanyanya.

“Aku merasa baik-baik saja,” jawab Inka sambil tersenyum kecil. “Tapi Ayu... dia sudah hampir menyerah.”

“Tidak ada kata menyerah,” ujar Lamun, nadanya tenang tetapi penuh kepastian. Inka menatap Lamun dengan mata yang penuh penghargaan. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat tekanan UAS terasa sedikit lebih ringan, seperti angin lembut yang menenangkan hati.

 

***

 

Malam itu, rumah Ayu berubah menjadi markas belajar darurat. Di ruang tamu yang sederhana tetapi hangat, meja besar di tengah ruangan penuh dengan buku, catatan, dan gelas-gelas kopi yang hampir kosong. Lampu gantung kecil memberikan cahaya redup, menciptakan suasana yang nyaman meskipun kepala mereka penuh dengan istilah dan teori yang harus mereka hafalkan. Ayu berdiri di depan papan tulis kecil yang ia letakkan di dinding, mencoba menjelaskan konsep yang bahkan dirinya sendiri belum sepenuhnya mengerti.

“Jadi... ini harus begini, kan?” tanyanya sambil menatap Inka, yang duduk di lantai sambil memegang buku tebal.

Inka menggeleng pelan. “Tidak, Ayu. Kau melewatkan langkah di tengah. Seharusnya begini...” Ia bangkit dari duduknya, mengambil spidol dari tangan Ayu, dan mulai menulis di papan tulis.

Ayu mendesah panjang, menjatuhkan diri ke sofa dengan wajah lelah. “Aku menyerah. Otakku sudah habis.”

“Kau baru belajar dua jam,” komentar Lamun dari kursinya di sudut ruangan, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia memegang buku puisi kecil, tetapi perhatiannya lebih sering tertuju pada teman-temannya daripada pada halaman yang ia baca. Josua, yang duduk di lantai dengan buku catatan terbuka di depannya, menyikut Ayu pelan.

“Kau butuh semangat baru. Bagaimana kalau kita berhenti sejenak dan makan sesuatu?”

Inka langsung mengangkat tangannya. “Setuju. Aku sudah lapar sejak tadi.”

“Tidak ada waktu untuk makan!” protes Ayu, tetapi suaranya lemah, menunjukkan bahwa ia juga ingin istirahat.

Akhirnya, mereka semua berkumpul di dapur kecil Ayu, menyantap mie instan yang dimasak bersama. Gelak tawa memenuhi ruangan ketika Josua berusaha menunjukkan kemampuan memasak yang ternyata membuat telur hampir hangus. Setelah makan, mereka kembali ke ruang tamu dengan energi baru. Malam semakin larut, tetapi tidak ada yang merasa terburu-buru untuk tidur. Mereka belajar bersama hingga subuh, saling membantu memahami materi yang sulit, sambil sesekali bercanda untuk meredakan ketegangan. Ketika akhirnya mereka semua terlelap di lantai ruang tamu, dengan buku-buku berserakan di sekitar mereka, suasana berubah menjadi damai. Cahaya bulan yang masuk melalui jendela menyelimuti mereka, seolah memberi restu atas usaha keras yang telah mereka lakukan bersama.

 

***

 

Minggu-minggu panjang yang penuh ketegangan akhirnya berlalu. Kampus perlahan kembali tenang. Hawa dingin pagi hari terasa lebih lembut dari biasanya, menyusup ke sela-sela pepohonan yang berdiri diam di halaman fakultas. Inka keluar dari ruang ujian terakhir dengan langkah yang ringan, tetapi ada jejak kelelahan di wajahnya. Ia berdiri di koridor sejenak, membiarkan angin menyapu wajahnya, membawa aroma rumput basah yang baru saja disiram. Di belakangnya, Ayu keluar dengan langkah cepat, wajahnya penuh antusias.

“Ujian ini seperti menguras seluruh hidupku,” gumam Ayu sambil menjatuhkan diri ke salah satu bangku di koridor. “Tapi akhirnya... selesai juga!”

Inka tertawa kecil, menatap langit yang mulai cerah. “Ya, selesai,” ujarnya pelan, tetapi ada rasa syukur yang dalam di nadanya.

Di sudut kampus, Josua dan Lamun sudah menunggu mereka. Josua bersandar di kap mobilnya, tangan terlipat, sementara Lamun berdiri di sampingnya dengan ekspresi yang lebih tenang. Ketika melihat Inka dan Ayu mendekat, Josua melambaikan tangan.

“Bagaimana? Merasa hidup kembali?” tanya Josua, senyumnya melebar.

“Lebih dari itu,” jawab Ayu sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, seperti ingin merangkul dunia. “Aku merasa seperti terlahir kembali!”

Mereka semua tertawa kecil, menikmati kebebasan yang baru saja mereka raih. Tetapi di balik tawa itu, ada keheningan yang tak terucapkan, seolah-olah mereka semua menyadari bahwa ini adalah momen berharga yang harus mereka nikmati sepenuhnya. Josua membuka pintu mobilnya, mengisyaratkan mereka untuk masuk. “Ayo, kita makan siang. Kau tahu, belajar bersama kalian selama ini membuatku lupa apa itu rasa kenyang.”

Lamun tersenyum tipis dan melangkah masuk lebih dulu, diikuti oleh Ayu dan Inka. Perjalanan ke warung makan sederhana dipenuhi dengan obrolan ringan tentang soal ujian, lelucon dari dosen, dan rencana liburan yang mulai mereka pikirkan.

 

Langit siang memancarkan kehangatan lembut ketika mereka tiba di warung makan sederhana di pinggir jalan. Meja-meja kayu tua dan kursi plastik berjejer rapi di bawah atap seng yang berlubang di beberapa sudut. Aroma masakan rumah yang hangat menguar di udara, bercampur dengan suara obrolan santai para pelanggan lain yang duduk sambil menikmati hidangan mereka. Josua memarkir mobilnya di sisi jalan, lalu membuka pintu untuk Ayu, yang langsung melompat keluar dengan semangat.

“Aku lapar seperti serigala,” ujarnya sambil menghirup aroma yang menggoda dari dapur terbuka di belakang warung. Inka tersenyum kecil sambil mengikuti Ayu masuk ke dalam, diikuti oleh Lamun dan Josua yang berjalan dengan langkah lebih santai. Mereka memilih meja di sudut, dekat jendela besar yang menghadap ke sawah.

“Empat piring nasi goreng, tiga es teh, satu air putih,” Josua memesan dengan nada percaya diri setelah menanyakan preferensi mereka.

Ketika makanan tiba, keheningan sesaat menyelimuti meja mereka. Suara sendok yang beradu dengan piring menjadi musik kecil di tengah obrolan pelanggan lain. Namun, suasana cepat berubah ketika Ayu, dengan mulut yang masih penuh, mengangkat tangannya ke udara.

“Kita harus merencanakan liburan!” serunya, membuat Inka dan Josua tertawa.

“Liburan?” tanya Lamun, alisnya terangkat sedikit.

“Ya, liburan!” jawab Ayu penuh semangat. “Kita sudah melalui minggu-minggu kelam ini. Kita pantas mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.”

Josua mengangguk sambil menyesap es tehnya. “Itu ide bagus. Tapi ke mana?”

Ayu berpikir sejenak, tetapi sebelum ia bisa menjawab, Inka angkat bicara. “Aku harus pulang ke kampungku. Ibu sudah memintaku sejak lama. Aku rasa... aku ingin pulang sejenak sebelum semester baru dimulai kembali.”

Semua mata beralih kepada Inka. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat suasana berubah menjadi lebih serius, tetapi tidak kehilangan kehangatan.

“Bagaimana kalau kami ikut?” tanya Josua tiba-tiba.

Inka terkejut. “Kalian ingin ikut?”

“Kenapa tidak?” balas Josua sambil tersenyum lebar. “Aku ingin melihat seperti apa kampung halamanmu. Kau selalu bicara tentang itu, tetapi kami belum pernah tahu seperti apa sebenarnya.”

Ayu segera mengangguk setuju. “Aku juga! Aku ingin tahu seperti apa rasanya tinggal di kampung kecil. Dan siapa tahu, mungkin ibumu bisa memasak sesuatu yang lezat untuk kami.”

Inka tersenyum, tetapi matanya beralih ke Lamun, yang duduk diam di ujung meja. “Bagaimana denganmu, Lamun? Kau ingin ikut?”

Lamun menatap Inka, lalu mengangguk perlahan. “Aku ingin. Sepertinya... itu bisa menjadi perjalanan yang menyenangkan.”

Keputusan itu mengunci rencana mereka. Siang itu, di bawah langit yang cerah dan dengan suara burung yang terdengar, mereka menyusun detail perjalanan mereka.

 

***

 

           Langit membentang dengan cerah, warna birunya jernih tanpa setitik awan pun menghalangi. Sinar matahari yang lembut memandikan jalanan kota, membangunkan segala kehidupan dengan perlahan. Udara segar menyelinap melalui celah-celah jendela mobil Josua, mengalir masuk dan membawa aroma pagi yang khas segar. Josua memegang kemudi dengan santai, kedua matanya tetap fokus ke jalan. Di sebelahnya, Lamun duduk diam, pandangannya terarah pada pemandangan di luar jendela. Wajahnya yang tenang menunjukkan bahwa ia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, tetapi sesekali senyum kecil muncul di sudut bibirnya saat angin pagi menyibak rambutnya. Di kursi belakang, Inka dan Ayu berbagi ruang yang penuh dengan gelak tawa. Ayu memegang kamera di tangannya, dengan sigap memotret setiap sudut pemandangan yang mereka lewati. Ia bahkan tidak peduli jika foto yang ia ambil sedikit miring atau kabur, selama setiap momen tersimpan dengan sempurna.

“Lihat itu, Inka! Bukankah sawah ini seperti lukisan?” serunya, mengangkat kamera untuk memotret hamparan hijau yang luas di sisi jalan.

Inka tersenyum kecil, mengangguk sambil memandang ke luar. “Ini baru permulaan, Ayu. Kau akan melihat lebih banyak lagi ketika kita sampai di kampungku.”

Perjalanan keluar dari kota Padang membawa mereka melewati jalan-jalan kecil yang mulai sunyi dari hiruk-pikuk kota. Perlahan, rumah-rumah padat berganti dengan deretan pohon kelapa yang berdiri kokoh di sepanjang sisi jalan. Di kejauhan, terlihat beberapa rumah gadang, bangunan adat khas Minangkabau, berdiri megah dengan atap bergonjong yang menyerupai tanduk kerbau. Dindingnya terbuat dari kayu yang dihias ukiran khas Minangkabau, berwarna cerah dengan pola-pola rumit yang melambangkan filosofi hidup masyarakat setempat. Beberapa di antaranya dikelilingi oleh kebun kecil, dengan pohon-pohon mangga dan rambutan yang rindang. Di dekat rumah-rumah itu, tampak ibu-ibu menumbuk padi di bawah lumbung padi yang berdiri di atas tiang-tiang tinggi, sementara anak-anak berlarian di halaman, bermain dengan riang. Suara mereka bersahutan dengan kokok ayam dan gemericik air dari sungai kecil yang mengalir. Beberapa kali mereka melewati pasar kecil di mana penjual buah-buahan dan sayuran berbaris rapi, menawar dagangan mereka dengan suara lantang, diiringi aroma segar dari hasil bumi yang baru dipanen.

“Berhenti sebentar,” kata Ayu tiba-tiba, sambil menunjuk ke salah satu pedagang buah. “Aku ingin membeli buah!”

Josua melirik Ayu melalui kaca spion, sedikit mendesah tetapi akhirnya setuju. Ia membelokkan mobil ke bahu jalan, memberi mereka waktu untuk turun. Ayu melompat keluar, menarik Inka bersamanya. “Ayo, kau harus membantuku memilih!”

Lamun tetap duduk di dalam mobil, tetapi ia membuka jendela dan memperhatikan Ayu yang sibuk menawar dengan seorang ibu tua. Josua, yang berada di sisinya, menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi mobil sambil tersenyum kecil. “Dia punya energi yang tak pernah habis, ya?”

Lamun mengangguk. “Itulah Ayu. Dia selalu menemukan cara untuk membuat segalanya lebih berwarna.”

Ketika mereka kembali ke mobil dengan kantong berisi jeruk segar dan senyum puas di wajah Ayu, perjalanan kembali dilanjutkan. Suasana semakin hangat ketika Ayu mulai membagikan jeruk yang ia beli, memaksa semua orang untuk mencicipinya.

“Jeruk ini manis sekali!” ujar Inka sambil mengupas kulitnya. Ia menoleh ke Lamun yang masih memegang jeruknya tanpa membuka. “Cobalah, Lamun. Kau akan menyukainya.”

Lamun akhirnya mengupas jeruk itu perlahan, mencicipinya dengan ragu. Tetapi setelah gigitan pertama, senyum kecil muncul di wajahnya. “Kau benar, Inka. Ini memang manis.”

Seiring perjalanan mereka, pemandangan berubah menjadi lebih hijau. Sawah-sawah yang luas mulai digantikan oleh bukit-bukit kecil yang dihiasi oleh pepohonan rindang. Jalan yang mereka lalui berkelok-kelok, tetapi Josua mengemudi dengan tenang, memastikan semua orang merasa nyaman.

“Lihat di sana,” kata Inka sambil menunjuk ke arah gunung tinggi di kejauhan. “Itu Gunung Singgalang. Dari atas sana, kau bisa melihat seluruh wilayah ini.”

Ayu menatap gunung itu dengan mata berbinar. “Kita harus ke kaki gunung itu Inka, aku ingin melihatnya!”

“Kita bisa pergi kapan saja,” balas Inka.

Mereka terus melaju, meninggalkan jalanan beraspal dan masuk ke jalan berbatu yang lebih kecil. Di sini, suasana menjadi semakin sepi. Hanya suara roda mobil yang beradu dengan kerikil dan kicauan burung di kejauhan yang menemani perjalanan mereka.

Lamun, yang selama ini hanya diam, akhirnya berbicara. “Kampung ini... rasanya seperti dunia lain. Jauh dari semua kebisingan dan tekanan yang biasa kita hadapi.”

Inka menoleh ke arahnya, tersenyum kecil. “Itulah sebabnya aku selalu merindukan tempat ini. Di sini, segalanya terasa lebih sederhana, tetapi juga lebih bermakna.”

Ketika akhirnya mereka mendekati rumah Inka, jalanan semakin sempit, dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi yang menciptakan lorong alami. Angin sore yang lembut membawa aroma khas, bau kayu bakar, tanah basah, dan bunga liar yang tumbuh di sepanjang jalan.

Di ujung jalan itu, sebuah rumah sederhana berdiri dengan damai di tengah halaman yang luas. Taman kecil di depan rumah dipenuhi dengan bunga berwarna-warni yang mekar sempurna. Di teras rumah, seorang wanita paruh baya berdiri dengan senyum lebar, melambaikan tangan ke arah mereka. “Inka!” serunya dengan suara hangat yang langsung menyentuh hati.

Inka keluar dari mobil dengan cepat, berlari kecil menuju ibunya. Pelukan mereka erat, penuh kerinduan yang selama ini terpendam. Ayu, Lamun, dan Josua keluar dari mobil dengan langkah lebih lambat, memberikan waktu bagi Inka dan ibunya untuk saling menyapa.

“Ibu, mereka ini teman-temanku,” ujarnya lembut sambil menoleh ke belakang, memberi isyarat agar Ayu, Josua, dan Lamun mendekat.

Ibunya tersenyum lebar, wajahnya penuh kehangatan yang membuat siapa pun merasa diterima. “Selamat datang, semuanya. Jangan sungkan, anggap rumah ini seperti rumah kalian sendiri,” katanya sambil membuka pintu lebar-lebar.

Ayu, yang sejak tadi tampak antusias, langsung melangkah masuk. Matanya berkeliling, memperhatikan setiap sudut rumah yang dipenuhi perabotan kayu dengan ukiran tradisional Minang.

Lihat selengkapnya