Senandika di Balkon Laut

anantara
Chapter #8

Berpacu Dengan Waktu

Pagi itu, sinar matahari menyusup perlahan melalui jendela-jendela rumah, memandikan ruang tamu dengan cahaya hangat. Suara ayam berkokok dari kejauhan bercampur dengan gemerisik dedaunan yang disapa angin lembut. Inka membuka jendela kamarnya, membiarkan udara pagi yang segar masuk. Kampung tampak hidup dengan ritme yang sederhana, seolah semua orang saling memahami tanpa perlu tergesa-gesa.

Di luar, Ak sudah berlarian di ruang tamu dengan penuh semangat. “Kak Inka! Bangun cepat! Aku sudah siap!” teriaknya sambil memegang topi jerami yang terlalu besar untuk kepalanya.

Inka tersenyum kecil, melongok keluar jendela. “Ak, tenanglah sedikit. Ini masih pagi.”

“Tapi kita harus sampai lebih awal di lapangan! Paju Jawi tidak akan seru kalau kita terlambat,” jawab Ak dengan nada mendesak.

Lamun yang baru keluar dari kamar, masih dengan rambut sedikit acak-acakan, mengerutkan dahi. “Paju Jawi?”

Ayu muncul dari arah dapur dengan roti di tangannya. “Aku juga penasaran, Ak. Jelaskan dulu apa itu Paju Jawi.”

Ak berdiri dengan bangga, seperti seorang pemandu wisata yang sedang menjelaskan atraksi utama. “Paju Jawi itu balapan sapi, kak. Sapi-sapi dihias dengan kain tradisional, lalu pembalapnya memacu mereka di sawah berlumpur. Seru sekali! Aku yakin kalian akan suka!”

Josua, yang duduk di kursi kayu sambil menyeruput kopi, tertawa kecil. “Balapan sapi di sawah berlumpur? Kita harus melihat itu.”

“Bagaimana, Kak Inka?” tanya Ak dengan mata berbinar.

Inka mengangguk sambil tersenyum. “Baiklah, kita ikut. Tapi kalian harus sarapan dulu.”

Sarapan pagi itu penuh dengan suasana semangat. Ak tidak berhenti bercerita tentang bagaimana serunya festival Paju Jawi tahun lalu. Ia bahkan mendesak Lamun untuk memakai topi jeraminya, yang langsung ditolak mentah-mentah dengan tawa. Setelah semuanya siap, mereka berangkat bersama Ak yang memimpin jalan.

Jalan menuju lapangan tempat festival berlangsung dipenuhi orang-orang desa yang juga bergegas ke sana. Beberapa membawa bungkusan makanan, sementara yang lain berjalan santai sambil bercanda dengan tetangga. Langit pagi terlihat biru cerah tanpa awan sedikit pun, seolah ikut merayakan festival hari itu.

“Ak, kau sepertinya sangat menikmati ini,” komentar Ayu sambil memandanginya yang melompat-lompat di depan mereka.

“Tentu saja! Ini adalah acara paling seru di desa,” jawab Ak penuh antusias.

Ketika mereka tiba di lapangan yang luas, pemandangan yang hidup menyambut mereka. Bendera warna-warni berkibar di sepanjang tepi sawah berlumpur, sementara sapi-sapi yang dihias dengan kain tradisional dan lonceng kecil berdering lembut di leher mereka. Orang-orang berkumpul di tepi lapangan, tertawa, dan berbicara dengan semangat. Suara gamelan Minang terdengar merdu dari kejauhan, menambah suasana budaya yang kental.

Josua memandang ke tengah lapangan dengan mata membelalak. “Lihat itu! Lumpur di mana-mana! Apakah kita harus masuk juga?”

“Tidak, kita hanya menonton,” jawab Ak dengan nada geli. “Tapi kalau mau mencoba, aku yakin akan jadi tontonan yang lucu.”

Ayu tertawa keras. “Aku setuju. Josua sebagai pembalap sapi pasti menarik perhatian seluruh desa.”

Mereka mengambil tempat di tepi lapangan, bergabung dengan kerumunan yang riuh. Sebuah gong besar dipukul, menandakan dimulainya lomba. Para pembalap dengan penuh semangat memegang kendali sapi-sapi mereka, memacu mereka di sawah berlumpur. Lumpur terpercik ke segala arah, membuat penonton berteriak dan tertawa.

“Ini luar biasa!” seru Lamun yang berdiri di sebelah Inka, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat sesuatu yang ajaib. Inka menoleh, melihat senyum lebar di wajah Lamun. Ia merasa senang bahwa Lamun bisa menikmati suasana kampung dengan sepenuh hati.

Selama lomba berlangsung, Ak sibuk menjelaskan setiap detail tentang Paju Jawi kepada Ayu yang terus bertanya. Josua sibuk merekam video di ponselnya, berencana untuk menunjukkan ini kepada teman-temannya di kota nanti. Lamun, sementara itu, tampak larut dalam suasana, menyerap setiap momen dengan tenang tetapi penuh antusias.

“Ini lebih dari sekadar balapan,” kata Lamun tiba-tiba. “Ini adalah tradisi yang penuh makna. Orang-orang di sini melakukannya dengan hati, bukan hanya untuk hiburan.”

Inka mengangguk setuju. “Iya. Ini adalah cara kami merayakan hidup, sekaligus menghormati alam.”

Ayu yang mendengar itu langsung menimpali dengan nada bercanda, “Aku pikir kalian berdua terlalu serius. Bagiku, ini hanya tentang sapi yang berlari di lumpur.”

Semua tertawa, menikmati ringan dan hangatnya percakapan di tengah suasana yang meriah. Langit yang cerah, suara gong yang dipukul dengan ritme khas, dan sorakan penonton yang memenuhi udara membuat suasana Paju Jawi semakin memanas. Josua yang sejak awal terlihat antusias, tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya di tepi lapangan. Wajahnya memancarkan semangat yang tidak biasa, seolah ia baru saja mendapat ide gila yang tak bisa ditahan lagi.

“Aku akan mencobanya!” serunya, mengejutkan semua orang di sekitarnya.

Ayu, yang sedang sibuk memotret para pembalap dengan kamera analognya, langsung menoleh. “Apa? Kau ingin mencoba? Josua, kau bahkan tidak bisa berjalan di lumpur tanpa terpeleset!”

“Justru itu yang membuatnya seru,” jawab Josua dengan senyum lebar. “Aku harus mencobanya setidaknya sekali dalam hidupku!”

Lamun tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. “Kau sadar ini bukan permainan, kan? Pembalap-pembalap itu profesional. Mereka sudah terbiasa.”

“Tenang saja,” balas Josua santai. “Aku kuat. Lagipula, ini tentang pengalaman, bukan kemenangan.”

Inka menatap Josua dengan alis terangkat. “Kau yakin, Josua? Kau tahu, lumpur itu lebih licin dari yang kau bayangkan.”

“Aku tidak hanya yakin,” Josua menjawab sambil merentangkan tangannya dramatis. “Aku siap!”

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut dari teman-temannya, Josua berjalan ke arah panitia. Setelah beberapa pembicaraan singkat, seorang panitia dengan senyum geli mempersiapkan sapi untuk Josua. Sapi-sapi itu tampak besar dan kuat, dengan lonceng kecil yang berdering setiap kali mereka bergerak.

Josua menggulung celananya hingga lutut dan mengganti sepatu dengan sandal karet yang diberikan oleh panitia. Melihat itu, Ayu tak bisa menahan tawa. “Josua, kau terlihat seperti turis yang terlalu bersemangat!”

“Aku akan membuktikan pada kalian bahwa aku bisa!” jawabnya dengan percaya diri, meskipun matanya sedikit gugup saat memandangi sapi-sapi di depannya. Lamun berdiri di dekat pagar, tersenyum tipis.

Lihat selengkapnya