Senandika di Balkon Laut

anantara
Chapter #9

Kembali Ke Padang

Sore di penghujung waktu liburan, suasana rumah keluarga Inka terasa tenang. Matahari mulai tenggelam perlahan, menyinari halaman dengan lembut, sementara suara jangkrik terdengar dan gemerisik dedaunan menjadi latar suara yang akrab. Inka sedang duduk di teras rumah, menikmati secangkir teh hangat sambil memandang ke arah pepohonan di kejauhan. Hari ini adalah hari terakhirnya di kampung sebelum kembali ke Padang untuk melanjutkan semester baru.

Ibunya muncul dari dalam rumah sambil membawa sebuah paket kecil yang terbungkus rapi dengan kertas cokelat dan pita biru sederhana. “Inka, ini ada kiriman untukmu,” katanya sambil menyerahkan paket itu.

Inka mengerutkan dahi, heran. “Kiriman? Dari siapa, Bu?”

“Seseorang dari kota. Tadi pagi Pak Pos mengantarkannya,” jawab ibunya dengan senyum kecil. Rasa penasaran menyelimuti hati Inka. Ia memandangi paket itu dengan hati-hati, memperhatikan tulisan tangannya yang rapi di atas amplop kecil yang terpasang di atasnya. Ia membuka amplop itu lebih dulu, menemukan sepucuk surat yang tertulis dengan tinta hitam.

 

Untuk Inka Nirmala

Selamat ulang tahun. Aku tahu, mungkin aku terlambat mengucapkan ini secara langsung, tapi aku tidak ingin melewatkannya begitu saja. Aku ingat betapa kau suka buku, dan aku ingin memberikan sesuatu yang bisa menemanimu kapan pun aku tidak bisa ada di sisimu. Di dalam paket ini, ada beberapa buku yang kau sebutkan waktu itu, saat kita berbincang di Taman Budaya. Kau terlihat begitu bersemangat saat menyebutkan judul-judulnya, dan aku ingin melihatmu tersenyum lagi saat membaca mereka.

Inka, aku tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan ini, tetapi aku rasa kau sudah tahu apa yang kita rasakan. Kau adalah seseorang yang telah memberikan warna dalam hidupku. Kehadiranmu seperti bait puisi yang aku baca dalam senyap, sederhana tetapi meninggalkan kesan mendalam. Aku tidak meminta apa pun darimu, kecuali cintamu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa di tengah semua hal yang berat, kau adalah alasan aku untuk terus hidup.

Inka, sayangku.

-Lamun

 

Inka membaca surat itu dengan mata yang perlahan memanas. Setiap kata terasa seperti hembusan lembut yang menyentuh hatinya, membawa campuran rasa haru dan bahagia yang sulit diungkapkan. Ia menggenggam surat itu dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu membuka paket itu dengan perlahan. Di dalamnya, ada tiga buku dengan sampul yang begitu familiar. Buku-buku yang selama ini ingin ia miliki tetapi belum sempat dibeli karena berbagai alasan. Inka menatap buku-buku itu dengan senyum kecil di wajahnya, seolah bisa merasakan kehangatan hati Lamun di setiap halamannya.

“Dari siapa, Nak?” tanya ibunya yang masih berdiri di dekat pintu.

Inka menoleh dan tersenyum tipis, matanya berbinar. “Dari teman, Bu. Dia... sangat baik.”

Ibunya mengangguk pelan, lalu masuk kembali ke dalam rumah, memberi Inka ruang untuk menikmati momen itu sendirian. Inka memegang buku-buku itu dengan hati-hati, lalu memandang ke arah langit jingga. Dalam keheningan, ia merasa kata-kata Lamun dalam surat itu terus bergema di hatinya. “Sayangku.” Kata itu mengalir lembut dan meninggalkan getaran yang mendalam. Dia tahu, ini bukan hanya tentang sebuah kado ulang tahun. Ini adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang perlahan-lahan tumbuh di antara mereka. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil.

“Terima kasih, Lamun,” gumamnya pelan, seolah sedang berbicara dengan angin yang berembus. “Aku juga...”

Tapi kata-kata itu ia tahan. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang, dan waktu akan menjawab semua hal yang belum terungkap. Untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati momen ini, membiarkan perasaan itu mengalir seperti air sungai yang tenang tetapi pasti menuju laut.

 

***

 

Matahari mulai muncul dan udara kampung di kaki Gunung Singgalang terasa lebih sejuk dari biasanya. Embun yang menempel di daun-daun berkilauan diterpa sinar matahari yang mulai muncul perlahan. Udara segar membalut pagi, tetapi suasana di rumah keluarga Inka dipenuhi perasaan campur aduk. Hari ini, Inka akan kembali ke Padang untuk melanjutkan kuliah.

Di ruang tamu, ibunya duduk di sofa dengan sebungkus kado kecil di tangannya. Ak bersandar di ambang pintu, memandang kakaknya yang sedang memeriksa tasnya untuk memastikan semuanya sudah lengkap.

“Ak, jaga ibu baik-baik, ya,” kata Inka sambil menutup tasnya dengan senyum lembut.

“Pasti, Uni,” jawab Ak cepat, meskipun nada suaranya terdengar sedikit berat.

Ibunya berdiri, mendekati Inka sambil memberikan bungkusan kecil itu. “Ini untukmu, Nak,” ucapnya, suaranya lembut tetapi penuh makna. Inka menerima bungkusan itu dengan bingung. “Apa ini, Bu?” tanyanya.

“Bukalah,” ujar ibunya dengan senyuman. Dengan hati-hati, Inka membuka bungkusan itu dan menemukan sebuah jam tangan sederhana tetapi elegan. Tali kulitnya lembut, dan jarumnya berkilauan seperti pagi yang cerah.

“Jam tangan ini untuk mengingatkanmu, Nak,” kata ibunya pelan. “Waktu adalah sesuatu yang tidak bisa kembali. Hargailah setiap detiknya, dan gunakan dengan bijak. Setiap kali kau melihat jam ini, ingatlah bahwa ibu selalu mendoakanmu.”

Mata Inka berkaca-kaca mendengar kata-kata itu. Ia memeluk ibunya erat, membiarkan kehangatan kasih sayang mengalir di antara mereka. “Terima kasih, Bu. Aku akan selalu mengingat pesan Ibu,” bisiknya.

Perjalanan ke terminal bus terasa sunyi. Inka, ibunya, dan Ak duduk di dalam mobil bak terbuka yang disewa untuk mengantarnya. Angin pagi yang dingin menyapu wajah mereka, tetapi tidak ada yang bersuara. Hanya ada suara roda kendaraan yang berputar di atas jalan tanah.

Setibanya di terminal, bus yang akan membawa Inka ke Padang sudah menunggu. Para penumpang sibuk memasukkan barang-barang mereka ke bagasi, dan sopir terlihat berbincang dengan kenek. Inka memeluk ibunya sekali lagi sebelum naik ke bus.

“Jaga kesehatan, Nak. Kalau ada apa-apa, jangan ragu untuk memberi tahu Ibu,” pesan ibunya.

“Ya, Bu. Ak juga harus rajin belajar, ya,” tambah Inka sambil mengacak rambut adiknya. Setelah berpamitan, Inka naik ke bus dan memilih tempat duduk di dekat jendela. Ia melambaikan tangan ke arah ibunya dan Ak yang masih berdiri di terminal, melihat bus itu perlahan menjauh, meninggalkan jejak di hati mereka yang tidak mudah dilupakan.

 

***

 

Sore itu, Inka tiba di terminal bus kota Padang. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan warna jingga lembut yang menyelimuti kota. Terminal bus yang ramai dengan aktivitas khas sore hari dipenuhi dengan suara klakson, seruan para pedagang, dan langkah kaki penumpang yang sibuk. Inka menurunkan tasnya dari bagasi bus, menghela napas panjang sambil memandang sekeliling.

“Inka!” suara Ayu terdengar memanggil dari kejauhan. Inka menoleh dan melihat Ayu yang berdiri di dekat motornya dengan helm tambahan di tangan. Ayu melambaikan tangan dengan senyum lebar, wajahnya penuh semangat seperti biasa.

“Kau cepat sekali sampai,” ujar Ayu sambil menerima tas dari tangan Inka.

“Padahal aku merasa perjalanan tadi lama sekali,” balas Inka dengan tawa kecil. Ayu membantu mengamankan tas Inka di bagian belakang motor, lalu memberikan helm kepadanya. “Ayo, naik. Aku sudah tidak sabar membawamu pulang.”

Perjalanan ke rumah Bibi Mara terasa hangat. Angin sore menyapu wajah mereka, dan Inka menikmati pemandangan kota Padang yang mulai dipenuhi lampu-lampu jalan. Saat tiba di rumah Bibi Mara, pintu depan sudah terbuka, dan suara tawa kecil terdengar dari dalam.

“Inka, kau di mana saja lama sekali?” tanya Bibi Mara sambil tersenyum, berdiri di pintu dengan tangan terlipat.

“Bibi, aku baru saja sampai,” jawab Inka sambil melepas helmnya. Tetapi sebelum ia sempat melangkah masuk, Fitri muncul dari balik pintu dengan ekspresi penuh rahasia.

“Ayo cepat masuk, Uni!”

Inka merasa ada yang aneh, tetapi ia mengikuti mereka masuk ke ruang tamu. Begitu ia melangkah lebih jauh, lampu di ruangan mendadak menyala terang, dan seruan terdengar serempak,

“Selamat ulang tahun, Inka!”

Paman Daryo, Bibi Mara, Ayu, dan Fitri berdiri di sekeliling meja kecil yang dihias sederhana dengan balon warna-warni. Di tengah meja, ada kue kecil dengan lilin menyala. Inka tertegun, matanya melebar.

“Kalian... kalian melakukan semua ini untukku?” tanyanya, suaranya hampir bergetar.

“Tentu saja, Uni!” jawab Fitri dengan riang. “Kita harus merayakannya, meskipun sederhana.”

Ayu menepuk bahu Inka. “Bukankah aku bilang aku sibuk untuk sesuatu? Inilah alasannya.”

Inka tertawa kecil, lalu meniup lilin di tengah kue itu sambil memejamkan mata. Lilin kecil itu padam, tetapi kehangatan suasana tetap terpancar di ruang tamu rumah. Semua orang bertepuk tangan, dan Fitri dengan semangat langsung memotong kue pertama.

“Uni harus makan potongan pertama ini!” kata Fitri sambil menyodorkan sepotong kue dengan hiasan sederhana di atasnya. Inka tertawa dan menerima kue itu.

“Terima kasih, Fitri. Kau selalu antusias dengan hal-hal seperti ini.”

Ayu, yang duduk di sebelah Inka, bersandar di kursi dengan wajah ceria. “Kau tahu, aku hampir saja tidak berhasil membantu menyiapkan ini. Paman dan Bibi Mara sangat sibuk mendekorasi, sementara Fitri terus mencoba mengintip kue sebelum waktunya.”

“Bukan aku!” protes Fitri sambil tersenyum lebar. “Itu kak Ayu yang ingin memastikan semuanya sempurna.”

Bibi Mara tertawa kecil dari dapur, membawa sepoci teh hangat dan beberapa cangkir. “Kalian ini memang selalu penuh dengan cerita. Tapi syukurlah semuanya berjalan lancar.”

Paman Daryo duduk di kursi favoritnya, menyaksikan suasana itu dengan senyum bangga. “Inka, kau pantas mendapatkan semua ini. Tidak sering kita bisa merayakan sesuatu yang begitu sederhana tetapi berarti.”

Mereka makan kue bersama sambil berbincang santai. Fitri menceritakan kejadian-kejadian lucu selama di sekolah, sementara Paman Daryo menyisipkan lelucon yang membuat semua orang tertawa. Inka merasa hatinya penuh dengan rasa syukur, meskipun perayaan ini sederhana, kehangatannya tidak tergantikan.

 

 

***

 

Setelah beberapa waktu, Ayu akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan merapikan tasnya. “Aku harus pulang sekarang. Terima kasih atas malam yang menyenangkan ini, semuanya.”

Bibi Mara mengangguk. “Hati-hati di jalan, Ayu. Jangan lupa mampir kapan-kapan.”

Ayu memeluk Inka singkat sebelum menuju pintu. “Istirahatlah, Inka. Kau punya hari panjang ke depan.”

Setelah Ayu pergi, Fitri juga berpamitan untuk tidur dan masuk ke kamarnya. Paman Daryo kembali ke ruang kerja, meninggalkan Inka dengan Bibi Mara yang sedang membereskan sisa-sisa perayaan di meja.

“Inka, istirahatlah,” kata Bibi Mara dengan nada lembut. “Kau pasti lelah setelah perjalanan panjang tadi.” Inka mengangguk dan membawa dirinya ke kamar. Udara malam yang sejuk menyusup melalui jendela yang sedikit terbuka, dan suasana di kamar terasa damai. Ia menaruh tasnya di kursi dan duduk di tepi ranjang, membiarkan pikirannya mengalir sejenak.

Namun, saat ia baru hendak berbaring, ponselnya berbunyi. Nama Lamun muncul di layar, dan senyum kecil terukir di wajahnya.

“Inka,” suara Lamun terdengar lembut dari seberang telepon.

“Lamun,” balas Inka, suaranya mengandung kehangatan yang tak ia sadari. “Ada apa?”

“Aku ingin mengajakmu keluar sebentar. Bisakah kau keluar malam ini?”

Inka mengernyit. “Malam ini? Ke mana?”

“Rahasia,” jawab Lamun, ada nada misterius dalam suaranya. “Aku akan menjemputmu dalam setengah jam. Siap-siaplah.”

Inka terdiam sejenak, mencoba mencari alasan untuk menolak, tetapi akhirnya ia menyerah. “Baiklah. Tapi jangan terlalu larut, aku lelah.”

“Percayalah, kau tidak akan menyesal,” ujar Lamun sebelum menutup telepon.

 

Tepat setengah jam kemudian, suara mobil terdengar di depan rumah. Inka melangkah keluar dengan hati yang berdebar, mengenakan jaket tipis untuk melawan dinginnya malam kota. Lamun keluar dari mobil, tersenyum tipis sambil membukakan pintu untuknya.

“Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?” tanya Inka sambil masuk ke mobil.

“Aku ingin ini menjadi kejutan,” jawab Lamun sambil menjalankan mobil. Sepanjang perjalanan, Inka tidak bisa menahan rasa penasarannya. “Lamun, apa yang sebenarnya kau rencanakan?”

Lamun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Sabar, kau akan tahu sebentar lagi.”

Mobil meluncur perlahan di jalanan kota Padang yang mulai sepi malam itu. Lampu-lampu jalan memantulkan cahayanya di jendela mobil, menciptakan bayangan yang bergerak seirama dengan kendaraan. Inka duduk diam di kursi penumpang, sesekali mencuri pandang ke arah Lamun yang fokus mengemudi. Wajahnya tampak lebih tenang dari biasanya, tetapi Inka tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya.

“Lamun,” panggil Inka akhirnya, suaranya pelan tetapi tegas.

“Ya?” Lamun meliriknya sekilas, lalu kembali menatap jalan.

“Kondisimu... sudah mulai membaikkan?” tanya Inka dengan nada yang jelas menunjukkan rasa khawatir. Lamun tersenyum kecil, senyuman yang ia tahu bisa membuat Inka sedikit lebih tenang meskipun hatinya sendiri menyimpan banyak hal.

Lihat selengkapnya