Suasana pagi di ruang kelas jurusan Sastra Indonesia dipenuhi oleh bisik-bisik kecil mahasiswa yang saling bertukar catatan dan mempersiapkan diri. Kelas Kajian Sastra Kontemporer terkenal sebagai salah satu mata kuliah paling menantang, bukan hanya karena materinya yang berat, tetapi juga karena dosennya, pak Arman. Pak Arman merupakan seorang dosen senior dengan reputasi yang disegani. Sosoknya tegas, dengan rambut beruban yang terawat rapi dan kacamata tipis yang hampir selalu bertengger di hidungnya. Ia tidak hanya dikenal karena penguasaan materinya yang luar biasa, tetapi juga ketegasan dalam menilai mahasiswa. Tidak ada ruang untuk kesalahan di kelasnya, dan setiap pertanyaan darinya adalah ujian tersendiri. Di depan kelas, papan tulis putih sudah penuh dengan tulisan tangan yang rapi garis waktu perkembangan sastra kontemporer di Indonesia. Dari generasi Chairil Anwar hingga karya-karya yang lebih modern seperti Eka Kurniawan. Pak Arman berdiri di samping papan tulis, memeriksa catatannya, sementara mahasiswa mulai membuka buku dan menyiapkan pena untuk mencatat. Di tengah kelas, Inka duduk dengan posisi tegak, mencoba mengingat poin-poin dari bacaan yang telah ia selesaikan semalam. Di sebelahnya, Ayu terlihat sibuk dengan buku catatan kecilnya, menggambar diagram peta pikiran yang mencakup nama-nama sastrawan Indonesia dan karyanya. Di barisan belakang, Lamun duduk dengan tenang, memperhatikan suasana kelas dengan ekspresi serius tetapi tetap santai.
Bel berbunyi, dan suara-suara di ruangan itu perlahan mereda. Semua mahasiswa tahu bahwa saat pak Arman mulai berbicara, tidak ada ruang untuk berbincang-bincang.
“Selamat pagi,” ujar Pak Arman, suaranya dalam dan penuh wibawa.
“Selamat pagi, Pak,” jawab kelas serempak.
Pak Arman melangkah ke depan papan tulis, mengambil spidol, lalu menulis sebuah nama besar, Pramoedya Ananta Toer.
“Kita mulai hari ini dengan membahas salah satu penulis terbesar dalam sejarah sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer,” ujarnya. “Sebagian besar dari kalian mungkin mengenalnya lewat Bumi Manusia. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah kalian benar-benar memahami kedalaman karya ini?”
Ia menatap ke arah kelas, memastikan setiap mahasiswa mendengarkan. “Sastra tidak hanya soal kata-kata indah atau narasi yang memikat. Sastra adalah cerminan masyarakat. Lewat Bumi Manusia, kita melihat perjuangan manusia dalam menghadapi penjajahan, ketidakadilan, dan perjuangan hak asasi. Jadi, mari kita bahas. Apa yang kalian pahami tentang relevansi karya ini di zaman sekarang?”
Kelas terdiam sejenak. Inka merasa detak jantungnya meningkat. Pak Arman terkenal sering menunjuk mahasiswa secara acak untuk menjawab pertanyaannya.
“Ayu,” panggil Pak Arman, matanya tertuju pada sahabat Inka.
Ayu menegakkan badan dengan cepat, meskipun wajahnya tampak gugup. “Menurut saya, Pak, Bumi Manusia menggambarkan bahwa perjuangan untuk mendapatkan hak yang setara tidak pernah benar-benar selesai. Hal ini masih relevan di era sekarang, terutama dalam konteks perjuangan perempuan dan masyarakat yang terpinggirkan.”
Pak Arman mengangguk pelan. “Jawaban yang baik. Tetapi ingat, perjuangan tidak hanya terbatas pada perempuan atau kelompok tertentu. Sastra mengajarkan kita untuk melihat masalah secara menyeluruh. Siapa lagi yang ingin menambahkan?”
Lamun mengangkat tangannya dengan tenang, membuat beberapa mahasiswa menoleh ke arahnya. “Saya pikir, Pak, karya ini juga menunjukkan bagaimana sistem kolonial membentuk cara berpikir kita, bahkan hingga sekarang. Banyak nilai dan sistem yang masih kita warisi tanpa sadar.”
Pak Arman tersenyum kecil. “Pemikiran yang tajam, Lamun. Itulah yang saya harapkan dari kalian. Sastra bukan hanya hiburan, tetapi alat untuk memahami dunia.”
Diskusi berlanjut dengan intens, membahas berbagai aspek karya Pramoedya dan bagaimana ia merefleksikan realitas Indonesia. Di tengah diskusi itu, Pak Arman tiba-tiba mengangkat tangannya, memberi isyarat agar kelas diam.
“Kita akan menutup diskusi ini dengan proyek akhir,” katanya. “Saya akan membagi kalian ke dalam kelompok, dan masing-masing kelompok akan menganalisis sebuah karya sastra besar. Tugas kalian bukan hanya membaca, tetapi juga menggali relevansi karya tersebut dalam konteks sosial, budaya, dan politik zaman sekarang.”
Pak Arman mulai menyebutkan nama-nama dalam kelompok. Suara spidol di papan tulis menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu.
“Inka, Ayu, Lamun, dan Laras,” katanya akhirnya. “Kalian akan bekerja bersama untuk menganalisis Bumi Manusia. Fokuskan pada bagaimana karya ini berbicara tentang perjuangan hak manusia di era modern.”
Inka melirik Ayu dengan senyum kecil, sementara Lamun mengangguk pelan. Di sisi lain, Laras terlihat tersenyum tipis, tatapan matanya sulit ditebak. Pak Arman mengakhiri kelas dengan sebuah kutipan dari Pramoedya yang ia tulis di papan tulis:
“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”
“Renungkan itu,” kata Pak Arman, menatap kelas. “Sampai jumpa minggu depan.”
Setelah kelas selesai, koridor fakultas mulai dipenuhi mahasiswa yang bergerak ke berbagai arah. Beberapa bergegas menuju kantin, sementara yang lain memilih duduk di taman untuk mengulas kembali materi yang baru saja disampaikan. Di antara keramaian itu, Inka, Ayu, dan Lamun berjalan santai menuju bangku kayu panjang di dekat taman kecil fakultas. Ayu, yang dari tadi terlihat mengerutkan dahi sambil memegang catatan kecilnya, akhirnya membuka suara.
“Kenapa sih dari kemarin semua pelajaran selalu membahas Bumi Manusia? Rasanya seperti seluruh dosen sepakat untuk memusatkan perhatian pada satu buku itu saja.”
Inka tertawa kecil, meletakkan tasnya di atas bangku. “Mungkin karena Bumi Manusia memang terlalu relevan. Seperti yang tadi Pak Arman bilang, karya itu mencakup banyak aspek sosial yang masih berhubungan dengan kehidupan kita sekarang.”
“Tapi tetap saja, ya,” Ayu menghela napas, menyandarkan tubuhnya ke bangku. “Bukannya aku tidak suka buku itu, tapi kenapa tidak mengambil dari buku yang lain?”
Lamun, yang berdiri di dekat mereka sambil memeriksa pesan di ponselnya, mengangkat alis. “Mungkin karena buku itu memang punya makna yang dalam. Lagi pula, aku pikir pelajaran dari Bumi Manusia lebih dari sekadar sejarah. Itu tentang bagaimana manusia bertahan dan memperjuangkan apa yang benar.”
Ayu memutar bola matanya dengan bercanda. “Tentu saja kau akan berkata begitu, Lamun. Kau selalu punya jawaban serius untuk hal seperti ini.” Inka terkekeh, sementara Lamun hanya mengangkat bahu, tidak ingin berdebat lebih jauh.
Tiba-tiba, suara langkah cepat mendekati mereka. Ketiganya menoleh hampir bersamaan, dan tampaklah Laras, dengan gaya khasnya yang selalu tampak berlebihan. Rambutnya diikat tinggi, wajahnya dihiasi riasan tipis, dan ia membawa tas kecil yang mencolok di tangan.
“Hai, kalian!” sapa Laras dengan suara ceria, tetapi sedikit memaksa. “Kenapa duduk di sini? Bukannya kita punya proyek yang harus dibahas?”
Ayu dan Inka saling melirik, sementara Lamun hanya menatap Laras dengan ekspresi datar.
“Kita baru saja selesai kelas, Laras,” kata Inka dengan nada sopan. “Mungkin sedikit istirahat dulu tidak ada salahnya.”
Laras meletakkan tasnya dengan dramatis di bangku, lalu duduk di samping Ayu tanpa diminta. “Istirahat? Astaga kamu benar, tapi aku tidak bisa tidur jika tugas itu belum selesai. Kalian tahu, kan, kalau aku ini perfeksionis?”
Ayu menahan senyum, mencoba tidak menunjukkan rasa frustrasinya. “Tentu saja, Laras. Kami tahu.”
“Tapi ya,” lanjut Laras sambil mengibaskan rambutnya, “aku rasa kelompok kita itu cukup kuat. Maksudku, aku kan sudah biasa bekerja keras, jadi kalian tidak perlu khawatir soal kontribusiku.”
Inka menahan diri untuk tidak berkomentar, tetapi ia tahu Ayu mulai kehilangan kesabaran. Di sisi lain, Lamun tetap diam, tetapi tatapan matanya terlihat lelah.
“Oh ya, ngomong-ngomong,” Laras melanjutkan, suaranya kini lebih rendah seolah ingin berbagi rahasia. “Aku dengar dari teman-teman di angkatan kita, kalian bertiga ini cukup dekat, ya? Seperti semacam geng kecil? Astaga, aku baru sadar. Tapi sekarang aku jadi bagian dari kelompok kalian, kan? Jadi... kita bisa jadi teman, kan?”
Ayu mengangkat alis, sementara Inka hanya tersenyum tipis. “Tentu saja, Laras,” jawab Inka dengan nada netral. Laras tersenyum lebar, tampaknya tidak menyadari ketegangan halus yang mengelilinginya.
“Oh, senangnya! Aku rasa kita akan sangat seru bekerja sama. Tapi ngomong-ngomong, Lamun...” Ia beralih menatap Lamun. “Kau ini jarang bicara, ya? Apa kau selalu seperti ini?”
Lamun, yang sejak tadi hanya mendengarkan, akhirnya angkat bicara. “Aku hanya bicara kalau perlu saja.”
Jawabannya singkat tetapi tegas, membuat Laras terdiam sejenak sebelum mengangguk kecil. “Ah, kau tipe yang pendiam, ya. Itu keren juga, sih. Misterius.”
Ayu hampir tertawa mendengar komentar itu, tetapi ia berhasil menutupinya dengan pura-pura batuk. Inka, yang duduk di sampingnya, memberikan sikutan kecil sambil menahan senyum.
***
Siang itu, suasana di perpustakaan terasa tenang, hanya dihiasi suara langkah kaki pelan dan bisikan mahasiswa yang sibuk mencari referensi. Di salah satu meja besar di sudut ruangan, Inka, Ayu, Lamun, dan Laras duduk bersama. Buku-buku berserakan di atas meja, diselingi beberapa catatan dan laptop yang terbuka. Inka, yang selalu terorganisir, mencoba memulai pembicaraan.
“Baik, jadi aku sudah membuat garis besar untuk analisis kita. Kita akan membagi ini menjadi tiga bagian yaitu latar belakang penulis, isi dan pesan utama karya, serta relevansinya dengan masa sekarang. Setuju?”
Ayu mengangguk sambil mencatat sesuatu di buku kecilnya. “Aku setuju. Aku bisa menangani bagian visual dan mendukung analisis isi.”
Lamun hanya mengangguk pelan sambil membuka novel Bumi Manusia di tangannya. Fokusnya tetap pada tugas yang ia pegang, dan ia hanya memberikan sedikit komentar ketika diperlukan.
Namun, Laras tampak tidak terlalu memperhatikan. Ia sibuk memainkan rambutnya sambil sesekali melihat layar ponselnya. “Aku rasa kita tidak perlu terlalu ribet. Bukankah semua ini bisa dicari di internet?” katanya dengan nada malas.
Ayu mendongak dari catatannya, menatap Laras dengan alis terangkat. “Mencari di internet tidak cukup, Laras. Proyek ini membutuhkan analisis mendalam, bukan hanya rangkuman dari Wikipedia.”
Laras mendengus pelan. “Aku hanya mencoba membuatnya lebih sederhana. Kenapa harus terlalu serius?”
Ayu meletakkan pena di meja dengan sedikit keras, suaranya kini lebih tegas. “Karena ini adalah tugas besar, Laras. Kita tidak bisa mengandalkan hal-hal dangkal. Kau harus ikut bekerja, bukan hanya duduk di sana dan bicara tanpa membantu apa pun.”