Senandika di Balkon Laut

anantara
Chapter #13

06.00 PM

Dua hari sebelum operasi Lamun, Inka menjenguk kekasihnya di rumah sakit. Langit sore membentangkan lukisan lembut yang tampaknya dirancang khusus untuk mereka. Cahaya matahari senja menyusup di sela-sela dedaunan, menciptakan bayangan memanjang yang bergoyang pelan tertiup angin. Udara hangat bercampur sejuknya hembusan angin membawa aroma manis bunga mawar dari sudut taman. Dengan hati-hati, Inka mendorong kursi roda Lamun mengikuti jalan setapak taman rumah sakit yang berkelok. Sesekali mereka melewati pasien lain yang tengah menikmati sore, namun tidak ada kata-kata yang keluar di antara mereka. Hanya langkah-langkah kecil Inka dan suara gesekan roda yang memecah keheningan.

“Berhenti di sini sebentar,” pinta Lamun, suaranya lirih namun memancarkan kelembutan. Inka menghentikan langkahnya di tepi taman, memposisikan kursi roda Lamun menghadap langsung ke arah matahari yang perlahan tenggelam. Langit terbentang penuh warna: jingga membara, ungu lembut, dan semburat merah muda yang menyatu membentuk pemandangan sempurna.

“Indah sekali,” gumam Lamun, tatapannya melekat pada horison. Matanya, yang selama ini tampak redup, kini bersinar seperti api kecil yang menemukan bahan bakarnya.

Inka menatap Lamun, kemudian langit. “Iya. Aku tidak pernah menyadari betapa cantiknya senja di sini. Mungkin aku terlalu sibuk untuk bisa memperhatikannya.”

Lamun tersenyum kecil, sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. “Kamu selalu sibuk, Inka. Terlalu sibuk dengan pikiran dan rencana-rencana besarmu. Tapi tahu tidak? Langit ini selalu ada, menunggu kita untuk menyadarinya.”

Hening sejenak, hanya diisi suara burung-burung yang kembali ke sarang dan desau angin yang bermain-main di pucuk pohon.

“Masih ingat saat pertama kali kita berkenalan?” Lamun membuka percakapan, memecah keheningan dengan nada yang sedikit ceria.

Inka tersenyum samar, mengernyitkan dahi, berusaha mengingat. “Waktu itu aku hampir ditabrak motor, kan?”

Lamun tertawa kecil, suaranya serak namun tulus. “Iya, benar. Wajahmu waktu itu sangat panik. Aku hampir tidak bisa menahan tawa.”

Inka ikut tertawa, meskipun matanya berkaca-kaca. “Kamu muncul begitu saja dan langsung membantuku. Aku bahkan tidak sempat mengucapkan terima kasih.”

“Dan kamu tidak mau menjabat tanganku,” lanjut Lamun, menoleh ke arah Inka dengan pandangan penuh kenangan. “Kamu langsung kabur masuk ke rumah.”

Inka tersipu, mengangguk pelan. “Aku… waktu itu terlalu malu dan tidak tahu harus berkata apa.”

Lihat selengkapnya