Senandika di Balkon Laut

anantara
Chapter #14

Presentasi Proyek Besar

Pagi itu, embun masih melekat di dedaunan ketika Inka keluar dari pintu rumahnya. Udara segar bercampur dengan dinginnya pagi terasa menusuk, namun baginya lebih menyerupai kehampaan yang tak terjelaskan. Di teras, Bibi Mara sudah menunggunya dengan senyum lembut yang mencoba menghangatkan suasana.

“Jangan pulang terlalu sore, ya,” ujar Bibi Mara sembari memeluk keponakannya itu. Inka mengangguk pelan, lalu mengecup tangan bibinya. “Iya, Bi. Doakan presentasinya lancar,” katanya lirih. Suaranya seperti membawa beban yang tak terlihat.

Bibi Mara mengangguk, meski matanya menyiratkan kekhawatiran yang samar. “Kamu pasti bisa.”

Dari jauh, suara motor Ayu terdengar. Inka menoleh, melihat sahabatnya itu berhenti di depan pagar. Ayu menunggu dengan wajah yang tak secerah biasanya. Rambutnya berantakan tertutup helm, dan meskipun ia tersenyum, ada sesuatu yang kosong dalam tatapan matanya.

“Ayo, udah mau telat,” ujar Ayu sambil melambaikan tangan.

Inka berpamitan sekali lagi sebelum menghampiri Ayu. Saat ia naik ke motor, keduanya hanya berbicara sekadarnya. Biasanya Ayu akan bercerita panjang lebar atau melemparkan lelucon untuk mencairkan suasana pagi, tapi kali ini, mereka lebih sering diam. Di jalan menuju kampus, angin pagi yang biasanya terasa menyegarkan kini hanya menyisakan dingin yang aneh. Pohon-pohon yang mereka lewati berdiri seperti bayangan bisu, dan hiruk-pikuk kendaraan terasa samar di antara pikiran masing-masing.

Setelah sampai di kampus, Ayu memarkir motor dengan pelan. Ia menoleh ke arah Inka, matanya menyiratkan sesuatu yang sulit ditebak. “Semangat, ya,” katanya singkat, tapi ada nada kegetiran di dalamnya. Inka hanya mengangguk. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah menuju ruang presentasi. Setiap langkah terasa berat, seolah ada bayangan tak terlihat yang mengikuti di belakangnya.

Di ruang presentasi, suasana sedikit ramai. Mahasiswa yang lain sedang mempersiapkan bahan mereka, mengatur proyektor, dan berdiskusi kecil. Inka menduduki salah satu kursi di barisan depan. Ayu duduk di sampingnya, sibuk membuka laptop dan memastikan file presentasi mereka siap. Sementara Laras hanya diam dan tidak banyak bicara.

Sesekali, Ayu mencuri pandang ke arah Inka, seperti memastikan sesuatu. “Kamu yakin bukan aku atau Laras saja yang presentasiin?” tanyanya akhirnya.

Inka menggeleng dengan senyum kecil. “Tidak apa-apa. Aku bisa.”

Mereka saling bertukar pandang, lalu Ayu kembali menunduk, melanjutkan persiapannya. Ketika giliran mereka tiba, Inka berdiri di depan kelas dengan tenang. Slide demi slide bergulir di layar, menampilkan dokumentasi perjalanan mereka ke Mentawai. Foto-foto masyarakat setempat, pemandangan indah, dan wawancara yang mereka lakukan terpampang jelas.

“Apa yang kita temukan di sana adalah kekayaan yang tidak ternilai,” ujar Inka, suaranya mantap meski matanya sedikit berkabut. “Masyarakat Mentawai mengajarkan kita bagaimana bertahan, bagaimana menghargai apa yang kita miliki, dan bagaimana melindungi apa yang penting bagi kita.”

Ada jeda sesaat. Inka melirik ke arah Ayu dan Laras, yang menatapnya dengan pandangan penuh dukungan. Lalu, ia melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih pelan, namun tegas. “Proyek ini bukan hanya tugas akademis bagi kami. Ini adalah pengingat bahwa setiap cerita perlu didengar, setiap perjuangan perlu dilihat, dan setiap suara, sekecil apa pun, memiliki makna.”

Suara tepuk tangan memenuhi ruangan saat presentasi selesai. Inka kembali duduk di samping Ayu, merasa lega tapi juga kosong di saat yang sama. Ayu menepuk bahunya pelan. “Bagus,” katanya singkat, tapi ada senyum kecil yang tulus di wajahnya.

Namun, ketika tepuk tangan mereda, di dalam hati Inka, keheningan itu kembali hadir. Bukan karena apa yang hilang, melainkan karena sesuatu yang terasa tak tergantikan.

 

***

Tiga hari setelah presentasi besar mereka, kampus tampak lebih sibuk dari biasanya. Di berbagai sudut, mahasiswa dan dosen berbicara dengan antusias tentang proyek kelompok Inka, Ayu, Laras, dan Lamun. Topik penelitian tentang budaya Mentawai, yang sebelumnya mungkin terabaikan, kini menjadi percakapan hangat di lingkungan akademis.

Pagi itu, di ruang dosen, Pak Arman sedang duduk di meja kerjanya, menandatangani beberapa dokumen ketika seorang kolega dari jurusan Antropologi menghampirinya. Mereka berbicara cukup lama, dan di akhir percakapan, Pak Arman mengangguk dengan senyum puas. Beliau kemudian melangkah keluar dari ruangan, langsung menuju tempat Inka dan Ayu biasa duduk di kantin fakultas. Di sana, Inka dan Ayu sedang sibuk mendiskusikan esai akhir mereka. Laras, yang sudah mulai merasa nyaman bergabung dalam rutinitas mereka, duduk di samping, mendengarkan dengan penuh perhatian sambil sesekali mencatat sesuatu di buku kecilnya. Suasana terasa santai, tapi juga produktif.

“Pagi semua!” suara Pak Arman memecah konsentrasi mereka. Ketiganya menoleh serentak, wajah mereka dipenuhi rasa penasaran.

“Pak Arman,” sapa Inka dengan sopan. “Ada yang bisa kami bantu, Pak?”

Pak Arman duduk di kursi di depan mereka, meletakkan map cokelat di atas meja. “Saya ingin memberi tahu kabar baik. Presentasi kalian beberapa hari lalu mendapat perhatian besar, tidak hanya dari dosen di jurusan kita, tetapi juga dari jurusan lain, seperti Antropologi dan Ilmu Lingkungan.”

Wajah Ayu langsung bersinar. “Serius, Pak? Mereka benar-benar tertarik?”

Pak Arman mengangguk. “Bahkan, ada yang ingin menjadikan hasil penelitian kalian sebagai dasar untuk proyek lintas fakultas. Kita akan mencoba menggali lebih dalam tentang permasalahan yang kalian angkat.”

Laras, yang biasanya pendiam ketika hal serius dibahas, kali ini ikut bersuara. “Wah, aku tidak menyangka dampaknya bisa sebesar ini. Terima kasih banyak, Pak, atas bimbingannya.”

Pak Arman tersenyum kecil. “Ini juga hasil kerja keras kalian.”

Lihat selengkapnya