Langit pagi di luar jendela rumah sakit tampak kelabu, seperti mencerminkan suasana hati Inka. Ia duduk di sisi tempat tidur Lamun, menggenggam tangan kekasihnya yang kini terasa begitu dingin. Mesin-mesin di sekitarnya berbunyi pelan, mengisi keheningan yang mencekam di ruangan itu. Wajah Lamun tampak pucat, tetapi ada kedamaian di dalamnya, seolah-olah ia telah menerima apa pun yang akan terjadi.
“Lamun, tetaplah kuat. Aku di sini,” bisik Inka dengan suara yang bergetar. Air mata yang ia tahan sejak malam tadi kini mengalir pelan di pipinya.
Lamun tersenyum kecil, senyuman yang penuh kehangatan meskipun tubuhnya begitu lemah. “Terima kasih, sayang… kau selalu ada.”
Pintu kamar perlahan terbuka, dan dokter masuk dengan langkah berat. Wajahnya serius, dan ia menatap Inka sejenak sebelum berbicara. “Nona Inka, kami telah melakukan yang terbaik, tetapi… virusnya telah menyebar ke seluruh tubuh. Kondisi Lamun terlalu lemah untuk menjalani operasi.”
Kata-kata itu menghantam Inka seperti palu yang menghancurkan harapannya. Ia menatap dokter dengan penuh air mata, seolah berharap ada jalan keluar lain yang bisa diberikan. “Tidak… pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan. Tolong, dokter…”
Dokter menggeleng pelan. “Kami akan tetap memberikan perawatan untuk membuatnya nyaman. Namun, kami harus jujur, waktunya mungkin tidak banyak.”
Inka menggigit bibirnya, mencoba menahan isak yang ingin keluar. Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi Ayu serta Josua. Suaranya terdengar bergetar saat ia menjelaskan situasi itu.
“Ayu, Josua… kalian harus segera ke sini. Kondisi Lamun…” suaranya terhenti oleh tangisnya sendiri. “Dia… dia butuh kita.”
Ayu tiba lebih dulu. Ia masuk ke ruangan dengan mata yang sudah sembab, dan tanpa berkata apa-apa, ia langsung memeluk Inka erat. Tangis Ayu pecah dalam pelukan itu. “Dia akan baik-baik saja kan, Inka?”
Inka menggeleng pelan, tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Ia hanya membalas pelukan Ayu, mencoba menenangkan sahabatnya meskipun dirinya sendiri hancur.
Josua datang tak lama setelah itu. Wajahnya yang biasanya tenang kini penuh dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia menatap Lamun yang terbaring lemah di tempat tidur, lalu menundukkan kepalanya. “Hai… aku di sini sahabatku,” gumamnya pelan.
Lamun membuka matanya dengan perlahan, menatap satu per satu orang yang ada di sekitarnya. “Kalian semua datang…” suaranya lemah, tetapi ada rasa syukur yang mendalam di dalamnya.
“Kami semua di sini untukmu,” ujar Josua, mendekat dan meraih tangan Lamun. “Kau tidak sendiri.”
Lamun mengangguk pelan, tetapi napasnya terdengar semakin berat. “Aku senang… aku tidak pernah merasa sendiri… kalian semua… adalah keluarga yang selalu kuinginkan…”