Langit sore di kota Padang kembali berwarna jingga, mengingatkan Inka pada senja terakhir yang ia habiskan bersama Lamun di taman rumah sakit. Kali ini, ia duduk di balkon rumah, tangannya menggenggam sebuah buku catatan bersampul putih. Buku itu adalah pemberian terakhir dari Lamun, sebuah kumpulan tulisan yang ia titipkan kepada Josua sebelum akhirnya pergi selamanya. Inka memandangi buku itu cukup lama sebelum membuka halaman pertamanya.
Untuk Cintaku dan Hidupku, Inka Nirmala,
Aku tidak tahu harus memulai dari mana, tetapi aku merasa menulis ini adalah cara terbaik untuk menyampaikan semua yang ada di hatiku. Inka, kau mungkin tidak menyadari betapa besar pengaruhmu dalam hidupku. Kau adalah cahaya yang masuk ke dalam duniaku yang gelap, membawa harapan di saat aku hampir menyerah.
Aku ingat saat pertama kali melihatmu. Kau tampak kecil, rapuh, tetapi dengan tatapan mata yang penuh rasa ingin tahu. Kau adalah seseorang yang, bahkan di tengah keramaian, tetap bisa membuatku merasa tenang. Saat aku menolongmu dari desakan mahasiswa baru, aku tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan itu akan menjadi awal dari segalanya.
Hari-hari yang kita habiskan bersama—di kampus, di pantai, di rumahmu, bahkan di Mentawai—adalah hadiah terbesar yang pernah aku terima. Kau mengajarkanku untuk menikmati hidup meskipun penuh dengan keterbatasan. Kau membuatku percaya bahwa masih ada hal indah yang layak diperjuangkan, meskipun aku tahu waktuku di dunia ini tidak lama.
Inka, aku menulis ini bukan untuk membuatmu sedih. Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak pernah menyesal dengan semua yang telah terjadi. Jika aku diberi kesempatan untuk memilih hidupku lagi, aku akan tetap memilih bertemu denganmu, mencintaimu, meski tahu akhirnya akan seperti ini. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan, tetapi mungkin tulisan ini tidak akan pernah cukup. Namun, satu hal yang selalu aku percaya adalah bahwa kau akan melanjutkan semua mimpi-mimpi kita. Proyek di Mentawai, pengabdian kepada sastra, dan semua yang kita impikan bersama—aku percaya kau akan melakukannya dengan baik.
Aku menitipkan semua perasaanku di sini, dalam buku ini. Bacalah saat kau siap. Jangan menangis terlalu banyak, Inka. Aku ingin kau tersenyum, seperti saat kau melihatku memainkan biola di rumahmu. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk mencintaimu dan merasakan cinta itu kembali.
Kau adalah rumahku, tempat aku merasa paling hidup. Selalu,
Lamun
Inka menarik napas dalam-dalam sebelum membuka halaman berikutnya. Aroma kertas yang telah menyerap waktu tercium lembut, membangkitkan kenangan yang belum sepenuhnya pudar. Tangannya gemetar sedikit saat menyentuh sudut halaman, dan matanya terus tertumbuk pada tulisan tangan Lamun yang rapi namun penuh dengan perasaan. Tulisan itu seperti mengalir dari hati, setiap kata terasa hidup, seolah Lamun sedang berbicara langsung padanya.
Untuk Inka, lentera yang menerangi malam-malam gelapku,
Ingatkah kau hari itu, di tengah hiruk-pikuk mahasiswa baru? Ketika aku melihatmu terjatuh di antara arus manusia, sesuatu dalam diriku bergetar. Saat aku meraih tanganmu untuk menarikmu keluar dari kerumunan, aku tidak hanya melihat seorang gadis yang terjatuh. Aku melihat seorang jiwa yang mengingatkanku bahwa dunia ini masih menyimpan sesuatu yang indah.
Aku bisa merasakan bagaimana kau mencoba menyembunyikan ketakutanmu saat itu, tetapi matamu tak bisa berbohong. Kau mungkin berpikir itu hanya kebetulan, tapi bagiku, itu adalah momen di mana hidupku mulai berubah. Kau adalah orang pertama yang membuatku merasa berarti setelah sekian lama.
Hari-hari berlalu, tetapi bayanganmu tetap tinggal. Ketika aku melihatmu lagi, aku tahu bahwa aku tak bisa mengabaikan perasaan ini. Kau mungkin menganggap aku berlebihan ketika mengantarmu pulang hari itu. Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana kau memandangku—tatapan yang malu-malu, tetapi juga penuh kehangatan yang membuatku ingin mengenalmu lebih jauh.
Aku ingin kau tahu, Inka, bahwa sejak hari itu, aku mulai mengingat setiap detail tentangmu. Cara kau menyisir rambutmu yang tersibak angin, suara tawamu yang seperti melodi lembut di tengah kebisingan dunia. Dan ya, aku mengingat semuanya dengan jelas, bahkan lebih jelas dari buku-buku yang pernah kubaca.
Aku mungkin bukan orang yang sempurna untukmu, Inka. Aku membawa begitu banyak luka, begitu banyak ketidaksempurnaan. Tetapi kau, dengan caramu yang sederhana, membuat semua itu terasa ringan. Kau adalah alasan mengapa aku ingin bertahan, mengapa aku ingin melihat senja yang indah, seperti saat ini, bersamamu.
Jika dunia ini adalah puisi, maka kau adalah bait yang selalu ingin kubaca berulang kali. Terima kasih telah hadir, telah mengubah hidupku dengan kehangatan yang kau bawa. Aku mencintaimu, Inka. Dari detik pertama kita bertemu hingga napasku yang terakhir, aku akan selalu mencintaimu.
Inka menatap halaman itu, matanya berusaha menangkap setiap jejak kata yang tertulis dengan rapi. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan emosi yang semakin mendesak keluar. Udara di sekitarnya seolah membeku, menciptakan keheningan yang hanya diisi oleh suara halus desiran angin. Dengan hati-hati, ia menyelipkan jemarinya di tepi halaman berikutnya. Sentuhan itu terasa begitu nyata, tetapi berat, seakan setiap lembaran kertas menyimpan dunia yang tak lagi bisa disentuh oleh waktu. Cahaya jingga senja menerangi sisi buku itu, menciptakan kilauan samar di permukaan tinta. Sebelum membalik halaman berikutnya, Inka mengusap ujung matanya yang mulai berembun. Ia menarik napas panjang, berusaha menyusun keberanian untuk melanjutkan. "Baiklah," bisiknya pelan, hampir seperti doa yang ia tujukan kepada dirinya sendiri.