Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Kenangan di Stasiun Terakhir

Suara derit besi kereta api tua yang bergesekan dengan rel baja tua selalu berhasil merobek lipatan-lipatan memori di kepala Aris. Malam itu, di Stasiun Lempuyangan, uap mengepul pekat dari cerobong lokomotif uap yang berdengung berat, bercampur dengan bau jelaga, hujan gerimis yang mulai mendinginkan malam, serta aroma kopi hitam murah dari warung stasiun. Jarum jam besar di dinding peron menunjukkan pukul 23.45 WIB. Udara Yogyakarta terasa menusuk tulang, bukan sekadar karena angin malam akhir musim hujan, melainkan karena kebisuan yang menggantung di antara dua manusia yang berdiri di hadapan pintu gerbong ekonomi.

"Kamu benar-benar harus pergi, Aris?" Suara Maya bergetar, nyaris tenggelam di tengah deru mesin kereta yang bersiap mendesis panjang. Jemarinya meremas kuat ujung mantel wol abu-abunya yang basah oleh sisa gerimis.

Aris menatap mata perempuan itu, menemukan genangan air mata yang memantulkan lampu neon peron yang berpendar remang-remang. Tenggorokannya terasa tercekat. Ada beban berat di dadanya, seperti dihimpit ribuan ton batu, namun ia tidak punya pilihan lain. Perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati untuk masa depan yang dijanjikannya sendiri pada Maya—meskipun ironisnya, masa depan itu justru menjauhkan mereka sekarang.

"Aku harus, Maya," jawab Aris pelan, suaranya serak. Ia merapatkan kerah jaket kulitnya yang sudah mulai retak di bagian siku. "Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Di kota pelabuhan itu, di Surabaya, ada secercah harapan agar kita bisa hidup layak. Aku tidak ingin terus-menerus hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian di sini."

"Tapi harga yang harus kita bayar terlalu mahal, Aris! Jarak ratusan kilometer, waktu yang merenggang, dan... ketakutan ini," Maya terisak kecil, menutup mulutnya dengan telapak tangan yang gemetar. "Apakah kesuksesan di kota besar jauh lebih berharga daripada kebersamaan kita di kota kecil ini?"

"Bukan begitu cara memandangnya, May," Aris melangkah mendekat, mencoba merengkuh bahu Maya, namun perempuan itu mundur selangkah, menolak sentuhan yang justru akan membuat pertahanan mereka runtuh seketika. "Ini demi kita. Aku berjanji, ini hanya sementara. Tiga tahun, paling lama empat tahun, aku akan kembali dengan membawa hasil yang nyata."

Peluit konduktor berbunyi nyaring, memecah keheningan malam dan memaksa waktu perpisahan itu tiba. Lampu-lampu gerbong berkedip lemah seiring getaran mesin yang semakin keras. Maya memalingkan wajahnya sesaat, menghapus air mata di pipinya, lalu kembali menatap Aris dengan tatapan yang menyayat hati—tatapan seorang perempuan yang tahu bahwa ia sedang melepaskan satu-satunya sauh kehidupannya ke tengah samudra luas yang ganas.

"Keretanya akan segera berangkat, Aris. Cepat naik," bisik Maya lirih, suaranya nyaris tak terdengar di atas suara desisan uap besi.

Aris menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa terpaku di lantai peron yang basah. "Jaga dirimu baik-baik di sini, Maya. Kirimkan aku surat setiap minggu, kabari aku bagaimana keadaanmu."

"Ya. Pergilah. Jangan menoleh ke belakang," kata Maya sambil memaksakan senyum paling menyedihkan yang pernah Aris saksikan seumur hidupnya.

Aris memutar tubuhnya, meraih pegangan besi tangga gerbong, lalu melangkah naik ke dalam kereta yang pengap dan berbau pelumas tua. Ia mencari tempat duduk di dekat jendela kaca yang berembun. Saat ia menyeka kaca dengan telapak tangannya, ia melihat sosok Maya berdiri sendiri di bawah payung hitam, melambaikan tangan dengan gemetar sementara kereta perlahan-lahan mulai bergerak maju, meninggalkan peron stasiun yang semakin tertinggal di belakang.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Aris melangkahkan kaki meninggalkan Yogyakarta bukan sekadar mencari uang receh, melainkan menuntaskan sebuah misi besar: menebus kembali tanah pusaka milik keluarganya yang digadaikan oleh sang paman demi melunasi utang judi, serta membuktikan kepada ayah Maya bahwa dirinya layak menjadi pendamping hidup perempuan tersebut. Ayah Maya adalah seorang pensiunan kepala stasiun yang sangat disegani, pria paruh baya kaku yang memandang rendah pemuda pengangguran berijazah pas-pasan seperti Aris.

"Kamu pikir cinta saja bisa mengisi perut anakku, Aris?" bentak Pak Hartono suatu sore di teras rumahnya, sebulan sebelum keberangkatan Aris ke Surabaya. "Maya butuh kepastian hidup, bukan sekadar janji-janji manis di bawah temaram lampu taman kota!"

Kata-kata itu terus berputar di kepala Aris seperti kaset rusak setiap kali ia merasa lelah bekerja di galangan kapal Surabaya tempat ia kini mengabdi sebagai buruh pencatat logistik. Tujuan hidupnya kini terfokus pada satu titik mutlak: mengumpulkan modal sebesar lima puluh juta rupiah dalam kurun waktu tiga tahun. Angka yang fantastis bagi seorang buruh kasar, namun itulah syarat tidak tertulis yang dipatok dalam hati Aris agar ia bisa kembali ke Yogyakarta dengan kepala tegak, mengetuk pintu rumah Pak Hartono, dan menyerahkan mahar pernikahan yang pantas untuk Maya.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menampakkan sinarnya di atas Selat Madura, Aris sudah harus berada di dermaga. Napasnya berkejaran dengan debu besi dan bau amis air laut. Di tempat kerja yang bising oleh suara mesin derek dan benturan kontainer itu, Aris tidak pernah melupakan tujuannya. Di dalam saku bajunya, terselip sebuah foto kecil Maya yang mulai luntur di bagian tepinya. Foto itu adalah bahan bakar utamanya untuk bertahan dari caci maki mandor galangan yang kejam dan jam kerja yang kerap melampaui batas kewajaran.

"Hei, Aris! Jangan melamun terus! Cepat periksa manifes muatan kapal kargo itu sebelum petang tiba!" seru Joko, rekan kerja senior asal Lamongan yang bertubuh gempal dan berambut ikal kusut.

"Ya, Jok! Sebentar lagi selesai," balas Aris, segera menyeka keringat di dahinya yang bercampur jelaga hitam.

Bagi Aris, setiap lembar uang lembur yang diterimanya akhir bulan bukanlah sekadar alat tukar, melainkan bata-bata kecil yang ia susun untuk membangun jembatan kepulangan ke pangkuan Maya. Ia menolak segala bentuk ajakan bersenang-senang dari rekan-rekan kerjanya selepas jam kerja. Malam-malamnya dihabiskan di sebuah petak kos sempit berukuran tiga kali tiga meter di kawasan Ampel, di mana ia kerap menghabiskan waktu berjam-jam menulis surat balasan untuk Maya, menceritakan setiap perkembangan kecil dari target finansial yang sedang ia kejar.

Lihat selengkapnya