Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Pria di Balik Layar Kesibukan

Udara dingin malam kota metropolitan merayap masuk melalui celah-celah kaca jendela gedung perkantoran lantai empat puluh lima. Jam di sudut kanan bawah layar komputer jinjing menunjukkan pukul 02.15 WIB. Jarum jam yang bergerak seolah mengejek kesunyian yang mencekam di ruangan seluas lapangan tenis tersebut. Hanya ada satu sumber cahaya yang hidup di sana: pendar putih kebiruan dari layar monitor dan lampu meja kecil berbentuk silinder yang memancarkan cahaya temaram.

Arsenio—atau akrab disapa Arsen—duduk membungkuk di atas kursi ergonomis berlapis kulit hitam yang sudah mulai mengelupas di bagian sandaran tangannya. Punggungnya terasa kaku, seolah telah menyatu dengan kerangka kursi tersebut setelah berjam-jam tak beranjak. Di atas meja kerjanya, kekacauan tersusun rapi dalam bentuk tumpukan dokumen keuangan, proposal proyek yang belum ditandatangani, serta cangkir keramik putih berisi kopi hitam yang kini telah mendingin dan meninggalkan endapan pekat di dasarnya.

Bagi sebagian orang, jam-jam dini hari adalah waktu terbaik untuk beristirahat, memulihkan tenaga setelah seharian diempas badai realitas. Namun, bagi Arsen, pukul dua pagi adalah sebuah perlindungan. Di saat dunia luar tertidur lelap, meredam segala kebisingan, ambisi, dan tuntutan sosial, Arsen menemukan sebuah ruang hampa yang aman. Ruang di mana ia tidak perlu mengenakan topeng senyum profesional di hadapan para klien, tidak perlu menatap mata rekan kerja yang menuntut kepastian, dan yang paling penting, tidak perlu berhadapan dengan bayang-bayang masa lalunya sendiri.

Ruangan itu dipenuhi aroma khas kertas baru, tinta printer laser, dan sedikit bau mint dari permen pelega tenggorokan yang berserakan di dalam stoples kaca kecil. Di sudut ruangan, sebuah tanaman hias Sansevieria berukuran sedang berdiri kaku, seolah ikut merasakan keheningan yang menekan. Suara dengung halus dari pendingin ruangan central menjadi satu-satunya melodi latar yang menemani jemari Arsen menari di atas papan ketik mekanis. Clack, clack, clack. Suara itu terdengar ritmis, konstan, dan menenangkan sarafnya yang tegang.

Arsen mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kulit wajahnya terasa kasar, tanda bahwa ia sudah melebihi batas waktu istirahat yang wajar. Rambut hitamnya yang biasa tersisir rapi kini tampak berantakan, jatuh menutupi sebagian keningnya. Di bawah kelopak matanya, bayangan gelap tercetak jelas, menjadi bukti otentik dari bermalam-malam ia mengabaikan tidur.

Pria berusia tiga puluh empat tahun itu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan oksigen AC yang hambar. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di layar monitor yang gelap sesaat ketika aplikasi tertutup. Wajah itu tampak asing. Tatapan matanya kosong, kehilangan binar kehidupan yang dulu pernah ada bertahun-tahun silam, sebelum badai dalam hidupnya merenggut segalanya.

"Kau masih di sini, Ar?"

Suara bariton yang berat membuyarkan lamunan Arsen. Ia menolehkan kepala perlahan ke arah pintu kaca ruangan yang terbuka separuh. Bayu, manajer operasional divisi keuangan sekaligus salah satu dari sedikit sahabat yang masih bertahan di sisinya, berdiri di ambang pintu sambil menenteng dua botol air mineral dingin. Kemeja putih Bayu sudah dikeluarkan dari celana bahan, dan lengan kemejanya dilipat sampai ke siku, memperlihatkan otot lengan bawah yang tegang.

"Seperti yang kau lihat, Bay," jawab Arsen dengan suara serak, hampir seperti bisikan. Tenggorokannya kering karena kurang cairan.

Bayu melangkah masuk, menyusuri karpet tebal abu-abu, lalu meletakkan salah satu botol air mineral di atas meja kerja Arsen, tepat di sebelah cangkir kopi dingin. Ia menarik kursi kerja kosong di dekatnya, lalu duduk sambil menghela napas panjang, memijit pelipisnya yang berdenyut.

"Ini sudah hari keempat berturut-turut kau tidur di kantor, Ar. Karyawan bawah, bahkan anak magang sekalipun, sudah pulang sejak jam delapan malam tadi. Gedung ini kosong melompong, tinggal satpam di lantai dasar dan tikus-tikus got di selasar luar," ujar Bayu dengan nada setengah bergurau, meski sorot matanya menyiratkan kekhawatiran yang tulus.

Arsen mengambil botol air mineral itu, membuka tutupnya dengan gerakan lambat, lalu meneguknya separuh. Air dingin itu terasa menyegarkan kerongkongannya yang seperti terbakar.

"Pekerjaan menumpuk, Bay. Laporan audit triwulan ini tidak akan selesai dengan sendiri jika aku hanya duduk termenung di apartemen," balas Arsen datar, mencoba mengalihkan perhatian sahabatnya dengan alasan profesional.

"Laporan audit itu baru harus diserahkan minggu depan, Ar! Dan tim akuntansi sudah merampungkan sembilan puluh persennya kemarin sore," sanggah Bayu cepat, tidak mempan dengan dalih klasik Arsen. "Jangan jadikan angka-angka di layar itu sebagai tameng untuk menghindari kenyataan di luar sana. Kau sedang melarikan diri."

Arsen terdiam. Kalimat Bayu menghujam tepat di titik terlemahnya, namun ia menolak untuk menunjukkan reaksi berlebihan. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke layar monitor, berpura-pura meneliti kembali grafik laba rugi perusahaan yang terpampang di sana. Di balik kesibukan yang ia ciptakan sendiri, di balik tumpukan tugas yang seolah tidak pernah ada habisnya, Arsen sedang menjalankan sebuah misi pelarian yang sistematis—sebuah upaya mati-matian untuk mengobati lara yang tak kunjung sembuh.

❖ ❖ ❖

Bagi Arsenio, kesibukan bukanlah sekadar tuntutan profesi sebagai seorang wakil direktur operasional di perusahaan multinasional terkemuka. Lebih dari itu, kesibukan adalah sebuah benteng pertahanan psikologis, sebuah obat penenang dosis tinggi yang ia suntikkan setiap hari ke dalam aliran darahnya untuk menumpulkan memori tentang kehancuran hidup pribadinya.

Tiga tahun lalu, dunia Arsen runtuh dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Kecelakaan maut di jalan tol tol lingkar luar merenggut nyawa istri tercintanya, Kirana, beserta putri tunggal mereka yang baru berusia lima tahun, Keisha. Sejak hari pemakaman yang basah oleh air mata dan hujan deras itu, Arsen merasa jiwanya telah ikut terkubur di bawah liang lahat yang sama. Raga bernyawanya tetap berjalan, bernapas, dan berbicara, namun bagian terpenting dari dirinya telah mati.

Di minggu-minggu pertama pasca-tragedi, kesunyian apartemen mewah mereka adalah neraka yang sesungguhnya. Setiap sudut ruangan, setiap mainan kecil milik Keisha yang tertinggal di atas karpet ruang tamu, dan setiap aroma parfum vanilla milik Kirana di kamar tidur utama, berteriak memanggil namanya, menyiksanya dengan kenangan manis yang kini berubah menjadi belati tajam. Arsen hampir kehilangan akal sehatnya. Ia tenggelam dalam lautan duka yang begitu dalam hingga ia lupa cara bernapas.

Hingga pada suatu malam, saat ia hampir menyerah pada keputusasaan dan berniat mengakhiri semuanya, ia menyadari satu hal: rasa sakit itu menjadi tumpul ketika ia membenamkan dirinya sepenuhnya ke dalam pekerjaan. Ketika otaknya dipaksa untuk terusmenerus menganalisis data, menghitung proyeksi anggaran, memecahkan masalah logistik pelik, dan merumuskan strategi bisnis perusahaan, tidak ada ruang tersisa di kepalanya untuk memikirkan Kirana atau membayangkan senyum terakhir Keisha.

Itulah titik balik tujuan hidupnya yang baru: menyibukkan diri hingga titik nadir kelelahan fisik, agar pikirannya terlalu lelah untuk mengenang, dan hatinya terlalu mati untuk merasa sakit.

"Ar, dengarkan aku," suara Bayu memecah keheningan yang sempat tercipta. Sahabatnya itu mencondongkan badan ke depan, menatap tajam ke arah mata Arsen yang memerah. "Aku tahu apa yang sedang kau lakukan. Kau mencoba membunuh rasa sakit itu dengan bekerja dua puluh empat jam sehari. Tapi apakah cara ini berhasil? Apakah setelah tiga tahun berlalu, beban di dadamu itu berkurang walaupun sedikit?"

Arsen menghentikan jemarinya yang tadi sempat kembali mengetik. Ia menoleh menatap Bayu, menampilkan ekspresi dingin yang selalu ia pasang sebagai pelindung.

"Siapa bilang aku merasa terbebani, Bay? Aku hanya sedang fokus membesarkan perusahaan ini. Kinerja kita meningkat tiga puluh persen tahun ini. Para pemegang saham puas. Itu artinya tujuanku tercapai," jawab Arsen dengan nada dingin yang sengaja ditegaskan.

"Jangan berbohong padaku, Ar. Kita berteman sejak kuliah. Aku tahu persis kapan kau berbicara sebagai seorang eksekutif, dan kapan kau berbicara sebagai seorang pria yang sedang sekarat di dalam," balas Bayu tanpa gentar. "Kesibukan ini palsu. Kau menggunakan pekerjaan sebagai obat bius. Tapi obat bius itu ada masa kedaluwarsanya. Suatu hari nanti, dosis itu tidak akan lagi cukup untuk meredam rasa sakitmu, dan saat itu terjadi, kau akan hancur berkeping-keping."

"Biarkan aku hancur dengan cara pilihanku sendiri, Bay," bisik Arsen lirih, nyaris tanpa suara, namun sarat dengan keputusasaan yang tertahan lama.

Bayu menghela napas panjang, bersandar kembali ke kursinya dengan ekspresi pasrah. Ia tahu betul keras kepala Arsen. Pria di hadapannya ini adalah tipe manusia yang lebih memilih membiarkan tulangnya patah daripada harus mengakui bahwa ia membutuhkan pertolongan.

Tujuan Arsen hari ini sangat sederhana sekaligus sangat mustahil: ia ingin bertahan hidup melewati hari ini tanpa harus merasakan kembali kepedihan kehilangan. Dan satu-satunya cara yang ia ketahui untuk mewujudkan tujuan itu adalah dengan memastikan jadwal hariannya terisi penuh oleh rapat, laporan, evaluasi, dan angka-angka tanpa akhir.

Pukul 02.45 WIB, Bayu akhirnya menyerah. Ia berdiri dari kursinya, menepuk pelan bahu kaku Arsen.

"Aku pulang duluan, Ar. Jangan tidur di lantai kantor lagi. Di sofa sudut ruangan itu ada selimut bersih yang kubelikan kemarin. Gunakan itu, setidaknya hargai sedikit tubuhmu sendiri," pesan Bayu sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan.

"Terima kasih, Bay," jawab Arsen singkat.

Begitu pintu tertutup dan suara langkah kaki Bayu memudar di kejauhan, Arsen kembali sendirian. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke layar monitor. Targetnya malam ini adalah merampungkan draf akhir restrukturisasi anak perusahaan sebelum matahari terbit pukul 05.30 WIB. Masih ada waktu tiga jam. Bagi Arsen, tiga jam ke depan adalah waktu yang aman dari bayang-bayang masa lalu.

❖ ❖ ❖

Waktu merangkak naik dengan lambat. Pendar kebiruan di layar monitor perlahan mulai bergeser, bercampur dengan rona abu-abu terang yang merembes masuk dari celah jendela kaca raksasa gedung perkantoran. Langit malam yang tadinya pekat kini mulai memudar di ufuk timur, digantikan oleh fajar kelabu yang menandakan datangnya hari baru.

Arsen meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku hingga terdengar bunyi kertakan kecil. Ia menutup aplikasi lembar kerja di komputernya setelah memastikan seluruh angka dan data telah terinput dengan sempurna. Target malam ini tercapai. Draf restrukturisasi itu telah selesai, tersimpan rapi dalam folder digital server perusahaan.

Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, memejamkan mata sejenak untuk meredakan denyut nyeri yang mulai menjalar di pelipis kirinya. Kurang tidur dan kafein berlebih adalah kombinasi sempurna untuk memicu migrain akut, dan Arsen tahu persis tubuhnya sedang mengirimkan sinyal peringatan keras. Namun, ia mengabaikannya begitu saja. Baginya, rasa sakit fisik di kepala jauh lebih mudah ditoleransi daripada rasa sakit emosional di dalam dada.

Saat ia membuka matanya kembali, cahaya matahari pagi telah sepenuhnya menembus kaca jendela, menyinari debu-debuan halus yang berterbangan di udara ruangan. Suara-suara samar mulai terdengar dari luar ruangan—aktivitas para petugas kebersihan gedung yang mulai menyapu koridor, disusul oleh suara mesin lift yang naik turun membawa gelombang pertama karyawan shift pagi.

Transisi dari keheningan malam yang sunyi menuju hiruk-pikuk kesibukan siang hari selalu menjadi momen paling janggal bagi Arsen. Di malam hari, ia adalah raja di dunianya yang sunyi, mengendalikan segalanya lewat jemari dan layar komputer. Namun, begitu matahari terbit dan dunia luar mulai berdenyut kembali dengan kehidupan sosialnya yang rumit, Arsen harus kembali mengenakan baju zirah profesionalnya. Ia harus kembali menjadi Wakil Direktur yang karismatik, tegas, tanpa cela, dan—yang terpenting—tampak baik-baik saja di mata dunia.

Pintu kaca ruangan terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu, memperlihatkan sosok Maya, sekretaris pribadinya yang berpenampilan selalu rapi dengan setelan blazer abu-abu dan rambut disanggul modern. Maya memegang sebuah tablet di tangan kiri dan segelas cangkir kertas berisi teh hijau hangat di tangan kanan.

"Selamat pagi, Pak Arsen," sapa Maya dengan nada profesional yang ceria namun tetap sopan. Ia mengernyitkan sedikit dahinya ketika melihat kondisi bosnya yang tampak berantakan. "Anda... tidak pulang lagi, ya, Pak?"

Arsen menegakkan duduknya, merapikan sedikit kerah kemejanya yang kusut, lalu memasang senyum tipis profesional di bibirnya—sebuah topeng instan yang telah ia kuasai selama bertahun-tahun.

"Pagi, Maya. Pekerjaan kemarin terlalu banyak untuk diselesaikan di jam kantor biasa," jawab Arsen dengan suara tenang yang disengaja agar tidak terdengar serak. "Ada jadwal apa saja untuk hari ini?"

Maya melangkah mendekat, meletakkan teh hijau hangat di atas meja kerja Arsen, lalu menggeser layar tabletnya untuk membacakan agenda harian.

"Pukul sembilan pagi nanti, ada rapat koordinasi dengan divisi pemasaran terkait peluncuran produk baru. Pukul sebelas siang, Anda harus menemui perwakilan dari investor asing asal Singapura di lantai lima belas. Lalu setelah jam makan siang, ada agenda kunjungan mendadak ke gudang logistik di kawasan Cakung."

Arsen mendengarkan dengan seksama, mengangguk kecil setiap kali Maya menyebutkan satu demi satu agenda yang akan menyita seluruh waktunya hingga sore menjelang. Jadwal yang padat, penuh sesak, dan tidak memberikan celah barang sedetik pun bagi pikirannya untuk melayang ke tempat lain. Itulah yang ia inginkan. Jadwal yang padat adalah benteng pertahanan keduanya setelah malam hari.

"Baik, saya mengerti. Pastikan berkas untuk investor Singapura sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin dan Inggris dengan akurat. Dan tolong siapkan mobil dinas jam setengah dua siang untuk kunjungan ke Cakung," perintah Arsen tegas.

"Baik, Pak. Segera saya siapkan," jawab Maya. Ia berbalik hendak melangkah keluar, namun sesaat sebelum mencapai pintu, ia berhenti dan berbalik kembali menatap Arsen dengan ragu. "Um... Pak Arsen, maaf sebelumnya. Kalau boleh saya sarankan, sebaiknya Anda cuci muka dulu dan mengganti kemeja Anda. Kemeja yang Anda pakai itu sudah terlihat... agak kusut untuk pertemuan dengan investor penting."

Arsen tertegun sejenak, lalu melirik sekilas ke arah lengan kemejanya yang memang tampak berkerut di bagian siku akibat dipakai tidur berhari-hari. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum hampa tanpa kebahagiaan.

"Terima kasih atas perhatiannya, Maya. Saya akan segera membersihkan diri sebelum rapat jam sembilan," balas Arsen ramah namun penuh jarak.

Maya mengangguk pelan, lalu benar-benar meninggalkan ruangan. Arsen kembali sendirian di ruangannya. Ia menarik napas panjang, bangkit dari kursi kerjanya dengan langkah agak berat, lalu berjalan menuju kamar mandi pribadi yang terletak di sudut ruang kerjanya. Transisi telah selesai. Kini, babak baru kesibukan hari itu resmi dimulai, dan Arsen siap menyelam kembali ke dalamnya.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya