Senandung Rindu yang Mencair

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Surat yang Belum Terkirim

Udara sore di sudut kota kecil itu selalu membawa aroma basah dari tanah liat yang baru disiram air hujan, bercampur dengan bau kertas tua yang menguap dari balik jendela perpustakaan kota. Jam dinding antik di sudut ruangan menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit. Cahaya matahari kemerahan menerobos masuk melalui kaca jendela yang berdebu, menciptakan garis-garis emas panjang di atas lantai kayu yang berderit setiap kali ada langkah kaki melintas. Di sinilah Aris menghabiskan sebagian besar sore harinya—sebuah tempat yang seolah dibekukan oleh waktu, di mana dunia luar yang bising dan penuh tuntutan terasa begitu jauh. Meja kerjanya berada tepat di dekat jendela yang menghadap ke halaman belakang, tempat pohon-pohon kamboja tua meranggas dengan kelopak-kelopak putih yang berserakan di atas rumput basah.

Di atas meja kayu jati yang permukaannya sudah mulai mengelupas itu, terletak sebuah laci kecil yang tidak pernah dikunci. Laci tersebut tidak menyimpan harta karun berupa uang atau perhiasan berharga, melainkan sesuatu yang jauh lebih bernilai sekaligus berbahaya bagi ketenangan jiwa Aris: setumpuk amplop beraneka warna yang sebagian besar kertasnya sudah mulai menguning dimakan usia. Setiap amplop itu tidak pernah diberi alamat pengirim, tidak pula pernah ditempelkan perangko. Mereka adalah saksi bisu dari jutaan kata yang tidak pernah berani diucapkan Aris secara langsung kepada pemiliknya.

"Aris, kau masih di sini?" Suara lembut Nesti, pustakawan senior yang sudah bekerja di tempat itu selama lebih dari dua dekade, memecah keheningan sore. Wanita paruh baya itu berdiri di ambang pintu dengan membawa setumpuk buku tebal di pelukannya.

Aris mengangkat kepalanya perlahan, mengerjap beberapa kali untuk mengusir rasa penat di matanya yang sejak siang tadi terus menatap deretan huruf-huruf kecil. "Ya, Nesti. Masih merapikan beberapa arsip lama yang kemarin belum sempat selesai," jawab Aris dengan nada suara yang tenang, berusaha menyembunyikan getaran kecil di ujung kalimatnya.

Nesti melangkah mendekat, meletakkan salah satu buku di atas meja kosong sebelah Aris, lalu melirik sekilas ke arah laci meja yang sedikit terbuka. Ia tahu betul apa yang disimpan Aris di dalam sana, meskipun ia tidak pernah sekalipun bertanya atau mencoba membongkar rahasia itu. Selama bertahun-tahun, Nesti telah menyaksikan bagaimana Aris tumbuh dari seorang pemuda periang menjadi seorang pria pendiam yang lebih suka berbicara melalui goresan tinta di atas kertas daripada berdebat dengan kenyataan hidup.

"Jangan terlalu memforsir diri, Aris. Waktu tidak akan pernah berjalan lebih cepat hanya karena kau terburu-buru, begitu juga sebaliknya. Apa yang tertulis di masa lalu tidak akan berubah hanya karena kau menatapnya setiap hari," ucap Nesti bijak, menepuk pelan pundak Aris sebelum ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

Setelah kepergian Nesti, keheningan kembali merayap, membawa Aris kembali pada lamunannya. Suasana sore yang semakin redup membuat bayangan-bayangan masa lalu seolah hidup kembali di dinding-dinding perpustakaan. Ia menunduk, menatap jemarinya sendiri yang ternoda oleh noda tinta biru—tanda sisa pekerjaan menulis yang dilakukannya semalam. Di dalam laci itu, tersimpan sebuah surat yang paling istimewa sekaligus paling menyiksa batinnya; sebuah surat yang ditulis tepat lima tahun lalu, di hari yang sama ketika Maya memutuskan untuk pergi meninggalkan kota ini tanpa sepatah kata pamit yang jelas.

❖ ❖ ❖

Aris menarik napas panjang, mencoba meresapi aroma kertas usang yang selalu berhasil membawanya kembali ke masa ketika hidup terasa jauh lebih sederhana. Tangannya yang gemetar terulur, menyentuh gagang kayu laci yang terasa dingin di kulit. Dengan perlahan, ia menarik laci tersebut hingga terbuka sepenuhnya, menampilkan tumpukan amplop rapi yang diikat dengan seutas tali rami tipis. Di antara tumpukan itu, ia menarik keluar sebuah amplop berwarna krem yang bagian sudutnya sedikit terlipat. Itu adalah surat kelima belas, surat yang tidak pernah sampai ke tangan Maya.

Tujuan Aris hari ini sebenarnya sederhana, setidaknya di permukaan: ia ingin merapikan seluruh arsip surat-surat tersebut dan membakar sebagian di antaranya untuk melepaskan beban emosional yang selama bertahun-tahun menghambat langkah hidupnya. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah tujuan lain yang jauh lebih besar dan menakutkan—ia ingin menemukan keberanian untuk membaca ulang surat itu dari awal sampai akhir, lalu membawanya ke kantor pos untuk benar-benar dikirimkan kepada Maya, terlepas dari kenyataan bahwa wanita itu mungkin sudah melupakannya atau bahkan telah membangun kehidupan baru di tempat yang jauh.

"Apakah ini saat yang tepat?" bisik Aris pada dirinya sendiri, menatap pantulan wajahnya sendiri pada kaca jendela yang kini mulai memantulkan kegelapan malam di luar sana.

Ia tahu betul risiko dari tindakan ini. Membuka kembali luka lama yang sudah menutup rapat ibarat menyayat kulit yang sama dengan pisau yang lebih tajam. Selama lima tahun terakhir, Aris telah membangun sebuah benteng pertahanan yang kokoh di sekeliling hatinya. Ia menyibukkan diri dengan pekerjaan, membaca ratusan buku sejarah, dan menghindari segala bentuk interaksi sosial yang terlalu mendalam agar tidak ada lagi celah bagi orang lain untuk masuk dan kemudian pergi begitu saja.

Namun, rasa penasaran dan rasa bersalah yang mengakar kuat di dalam dadanya terus mendesak. Setiap kali ia melihat hujan turun di jendela perpustakaan ini, bayangan tentang hari terakhir ia bertengkar hebat dengan Maya selalu berputar kembali di kepalanya seperti rekaman film yang rusak.

"Aku harus mengakhirinya," gumam Aris dengan suara yang lebih mantap, meskipun tenggorokannya terasa kering. "Entah dengan mengirimkan surat ini atau dengan membakarnya menjadi abu di halaman belakang, aku harus bisa melangkah maju."

Ia membuka amplop krem tersebut dengan hati-hati, seolah takut kertas rapuh itu akan robek di tangannya. Sebuah lembaran kertas bergaris dengan tulisan tangan yang rapi namun penuh tekanan tinta terbentang di hadapannya. Baris pertama kalimat itu langsung menghantam kesadarannya dengan telak, membawa kembali setiap emosi yang selama ini ia kubur dalam-dalam di dasar jiwanya.

"Untukmu yang memilih senyap sebagai jawaban," baca Aris dalam hati, sementara matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata yang mendesak keluar.

Ia teringat bagaimana perjuangannya menulis surat-surat itu dulunya bukan sekadar hobi, melainkan satu-satunya cara agar ia tidak menjadi gila di tengah ketidakpastian hubungan mereka. Maya adalah tipe orang yang lebih memilih diam ketika badai menerjang, sementara Aris adalah tipe pria yang membutuhkan kejelasan, kepastian, dan kata-kata untuk bisa bernapas dengan tenang. Perbedaan cara pandang itulah yang akhirnya menghancurkan segalanya.

"Aris, lampu perpustakaan bagian depan sudah harus dimatikan," suara Nesti terdengar lagi dari kejauhan, membuyarkan konsentrasi Aris sejenak.

"Baik, Nesti. Aku akan segera keluar dalam beberapa menit," balas Aris cepat, melipat kembali surat itu dengan rapi dan memasukkannya ke dalam saku mantelnya.

Tujuan itu kini terasa semakin mendesak. Waktu tidak lagi berpihak padanya. Jika ia tidak melakukannya malam ini, maka ketakutan itu akan terus menghantuinya hingga bertahun-tahun ke depan, menjadikannya tawanan dari masa lalunya sendiri yang kelam.

❖ ❖ ❖

Langkah kaki Aris terasa berat saat ia keluar dari pintu utama perpustakaan kota dan menyusuri jalan setapak berbatu yang basah oleh sisa hujan sore tadi. Udara malam yang dingin langsung menyergap kulitnya, membuat ia merapatkan mantel wol tebal yang dikenakannya. Lampu-lampu jalan beruap kuning temaram memantulkan bayangan panjang di atas trotoar yang sepi. Tidak ada suara kendaraan yang lalu-lalang, hanya suara derik jangkrik dan tetesan air yang jatuh dari daun-daun pohon pinus di sepanjang jalan.

Ia memasukkan tangannya ke dalam saku mantel, jemarinya menggenggam erat amplop krem berisi surat yang belum terkirim itu. Kertas di dalamnya terasa begitu nyata, kontras dengan angin malam yang terasa hampa. Dalam perjalanan menuju rumah kecilnya di ujung jalan, pikiran Aris melayang jauh ke masa-masa ketika ia dan Maya sering berjalan bersama di trotoar yang sama, tertawa tanpa beban di bawah payung yang sama ketika hujan tiba-tiba turun menyapa kota kecil mereka.

"Kenapa ingatan itu begitu kejam, Maya?" bisik Aris pada angin malam yang berhembus kencang.

Setiap sudut kota ini seolah menyimpan memori tentang wanita itu. Di kedai kopi sudut jalan, tempat mereka biasa menghabiskan waktu berjam-jam membahas buku-buku sastra klasik; di bangku taman kota, tempat mereka pertama kali duduk berdampingan tanpa berani bersentuhan; hingga di gerbang rumah tua milik orang tua Maya, tempat terakhir kali Aris melihat punggung wanita itu menjauh menaiki taksi biru tanpa menoleh sekalipun ke arahnya.

Transisi dari keheningan perpustakaan menuju hiruk-pikuk kecil di dalam kepalanya sendiri membuat Aris merasa terombang-ambing di antara dua dunia: dunia nyata yang ia jalani saat ini sebagai seorang pria pendiam yang kesepian, dan dunia masa lalu yang penuh warna namun menyakitkan. Ia menyadari bahwa selama ini ia tidak benar-benar hidup; ia hanya bertahan dari satu hari ke hari berikutnya, menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa bentuknya.

"Malam ini semuanya harus berubah," ucap Aris pada dirinya sendiri, mempercepat langkah kakinya saat melihat cahaya lampu dari beranda rumahnya mulai terlihat di ujung jalan.

Sesampainya di rumah, Aris tidak langsung menyalakan lampu ruang tamu. Ia berjalan dalam kegelapan menuju meja kerjanya di dekat jendela kamar tidur yang menghadap ke arah jalan raya. Di atas meja itu, hanya ada sebuah lampu belajar kecil dengan cahaya kekuningan yang redup. Ia mengeluarkan amplop krem itu dari sakunya, meletakkannya tepat di tengah meja, lalu duduk di kursi kayu tuanya yang berderit pelan.

Di hadapannya, secangkir teh hangat yang dibuatnya tadi pagi—yang kini sudah mendingin—menjadi saksi bisu dari pergulatan batin yang sedang ia hadapi. Aris membuka laci meja tempat ia biasa menyimpan seluruh arsip surat tersebut, lalu mengeluarkan sebuah pena tua beritsleting emas yang dulu pernah diberikan oleh ayahnya. Pena itu sudah lama tidak diisi tinta, namun masih tersisa sedikit cairan hitam pekat di bagian dalamnya.

Ia menarik selembar kertas putih bersih dari dalam laci, berniat untuk menuliskan sebuah surat pengantar baru—sebuah kalimat penutup yang akan merangkum seluruh isi hatinya selama lima tahun terakhir sebelum ia memutuskan apakah surat lama itu benar-benar akan dikirimkan ke alamat terakhir Maya yang diketahuinya di ibu kota.

"Kepada Maya," tulis Aris dengan tangan yang sedikit gemetar, memulai baris pertama dari lembaran baru dalam hidupnya.

Suara detak jam dinding di ruang sebelah terdengar begitu nyaring, seolah menghitung mundur detik-detik kebebasan jiwa Aris dari jerat kenangan masa lalu yang mengikatnya begitu erat.

❖ ❖ ❖

Baru saja Aris menuliskan dua kata pertama di atas kertas putih bersih itu, tiba-tiba suara ketukan pintu depan berbunyi nyaring memecah kesunyian malam.

Tok... tok... tok...

Aris terperanjat dari kursinya. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba. Siapa yang datang berkunjung ke rumahnya pada jam sembilan malam seperti ini? Jarang sekali ada tamu yang datang ke rumahnya, terutama di malam hari, mengingat ia dikenal sebagai pribadi yang menutup diri dari lingkungan sosial sekitar.

Ia berdiri perlahan, meninggalkan pena dan surat di atas meja. Langkah kakinya terasa kaku saat ia berjalan melewati lorong gelap menuju pintu depan. Suara angin di luar tiba-tiba menderu lebih kencang, mengguncang daun pintu kayu tua itu seolah ada kekuatan tak kasat mata yang ingin masuk secara paksa.

"Siapa di sana?" tanya Aris dengan suara parau, mencoba mengeraskan nada bicaranya agar terdengar tegas.

Lihat selengkapnya