
Pukul tiga lewat empat belas menit sore. Udara di ruang tamu itu terasa padat dan pengap, seolah dinding-dinding rumah telah lama berhenti bernapas sejak badai semalam mereda. Sisa-sisa embun masih menempel di balik kaca jendela yang buram, memantulkan cahaya matahari pucat yang berjuang menembus tebalnya awan kelabu. Aruna duduk terpaku di atas kursi rotan usang kesayangannya. Di hadapannya, secangkir teh hitam yang diseduh sejak dua jam lalu kini telah dingin sepenuhnya, membentuk lapisan tipis minyak di permukaannya.
"Kau masih di sana, Bas?" bisik Aruna pelan, suaranya teramat rapuh, pecah di antara keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara detak jarum jam dinding kayu yang berdenting monoton. Tok... tok... tok... Waktu seakan merayap begitu lambat, menyeret setiap detik menjadi beban fisik yang menghimpit dada.
Rumah itu terasa begitu luas, namun di saat yang sama, terasa sangat sempit untuk menampung seluruh kenangan yang mengendap. Di sudut ruangan, tumpukan kardus pindahan lama yang belum pernah sepenuhnya dibongkar sejak dua tahun lalu tampak membisu, menjadi saksi bisu dari kehidupan yang terhenti di tengah jalan. Baskara, suaminya, telah pergi meninggalkannya menuju pos penugasan perbatasan yang jauh di ujung timur negeri—sebuah tempat di mana peta kehilangan garisnya dan sinyal telepon berubah menjadi kemewahan langka.
Aruna menunduk, memandangi jemarinya sendiri yang saling meremas di atas pangkuan. Kulitnya pucat, nyaris transparan, mencerminkan betapa sedikit cahaya matahari dan dunia luar yang ia biarkan masuk ke dalam hidupnya belakangan ini. Hidupnya telah menyusut menjadi sebuah rutinitas yang membeku: bangun tidur, menyeduh teh, menatap layar ponsel yang mati, lalu menunggu malam tiba tanpa ada kepastian.
"Aku lelah membeku," gumamnya pada bayangan cangkir teh yang dingin.
Di luar, angin sore mulai berhembus kencang, menggoyang dahan-dahan pohon mangga tua di pekarangan dan menerbangkan beberapa lembar daun kering yang berserakan. Suara deru kendaraan yang lewat di jalan raya utama terdengar samar dari kejauhan, mengingatkannya bahwa dunia di luar sana terus bergerak, berputar, dan hidup—sementara dirinya tertinggal di stasiun waktu yang salah, terkunci dalam ruang tunggu penantian yang tak bertepi.
Aruna menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa hampa. Namun, udara yang masuk justru terasa dingin dan menusuk paru-parunya. Ia tahu, jika ia tidak segera melakukan sesuatu untuk mencairkan kebekuan ini, ia akan benar-benar berubah menjadi bagian dari perabotan rumah tua ini—kaku, berdebu, dan terlupakan.
❖ ❖ ❖
"Hari ini harus berbeda," ucap Aruna pada dirinya sendiri, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tegas, meski rongga tenggorokannya masih terasa tercekat.
Ia berdiri dari kursi rotannya, meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena berjam-jam duduk dalam posisi yang sama. Tujuan utamanya hari ini terdengar sederhana bagi orang lain, namun bagi Aruna, ini adalah sebuah pendakian gunung yang terjal: melangkah keluar rumah, berjalan kaki menuju warung kelontong Pak Harun di ujung jalan kompleks, dan yang paling penting—berbicara dengan seseorang tanpa menghindari kontak mata.
Selama berbulan-bulan, interaksi sosialnya dipangkas hingga batas minimal. Ia menghindari sapaan tetangga, berpura-pura tidak ada di rumah ketika tukang pos datang, dan mengunci rapat pintu pagar setiap kali sore menjelang. Ketakutan terbesar Aruna bukan pada dunia luar, melainkan pada kemungkinan seseorang menanyakan kabar suaminya. Pertanyaan sederhana seperti, “Bagaimana kabar Baskara?” adalah belati tajam yang dapat merobek pertahanan emosional yang telah ia bangun dengan susah payah.
Namun, pagi tadi, sebuah dorongan aneh melintas di kepalanya. Panggilan telepon singkat dari posko darurat kemarin malam, meski terputus, telah membuka celah kecil di dinding es pertahanannya. Baskara masih ada di sana. Dan jika Baskara berjuang untuk bertahan hidup di tengah reruntuhan longsor, maka Aruna juga harus berjuang untuk kembali hidup di dunia nyata.
"Aku harus keluar. Aku harus membeli gula dan kopi baru," kata Aruna sambil mengenakan jaket rajut tebal berwarna abu-abu gelap yang biasa dikenakan Baskara dulu. Aroma sisa tembakau dan kayu manis masih samar-samar tertinggal di kerah jaket itu, memberikan kehangatan palsu yang menyelimuti pundaknya.
Ia melangkah ke depan cermin lorong, merapikan rambutnya yang ikal dan dibiarkan tergerai seadanya. Wajah di dalam cermin tampak letih, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya.
"Kau bisa melakukannya, Aruna," bisiknya pada pantulan dirinya, mencoba meyakinkan hati yang terus berdegup tidak karuan.
Ia berjalan ke arah pintu utama, memutar anak kunci kuningan yang terasa dingin di telapak tangannya. Suara gesekan logam berderit nyaring saat pintu perlahan terbuka, membiarkan cahaya sore yang kemerahan menerobos masuk ke dalam rumah yang selama ini suram.
❖ ❖ ❖
Terpaan angin sore langsung menyambut wajah Aruna begitu ia melangkah melewati ambang pintu dan menutupnya kembali di belakangnya. Suara derit pintu yang terkunci terdengar seperti batas tegas antara dunia internalnya yang penuh ilusi dan dunia eksternal yang bising serta nyata.
Jalanan kompleks perumahan tampak lengang. Beberapa anak kecil terlihat berlarian di ujung jalan sambil tertawa lepas, membawa bola plastik merah yang memantul-mantul di atas aspal basah. Di teras rumah seberang, Pak Harun sedang duduk sambil merapikan kotak surat kayunya.
"Sore, Nak Aruna," sapa Pak Harun ramah saat melihat Aruna berjalan pelan melewati pagar rumahnya.
Aruna terkejut kecil. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan seulas senyum kaku di bibirnya.
"Sore juga, Pak Harun. Wah, cuacanya lumayan cerah ya setelah badai kemarin," jawab Aruna, suaranya terdengar sedikit bergetar namun berhasil keluar dengan jelas.
"Iya, alhamdulillah badai sudah lewat. Hati-hati jalannya, Nak, masih banyak genangan air di dekat saluran pembuangan," balas Pak Harun sambil mengangguk hangat.
"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Aruna, lalu melanjutkan langkahnya.
Sensasi berjalan di atas aspal nyata setelah sekian lama mengurung diri memberikan efek disorientasi yang aneh. Setiap langkah kakinya terasa berat, seolah gravitasi bumi menarik tubuhnya lebih kuat dari biasanya. Suara gesekan sandal jepitnya di atas permukaan jalan yang sedikit berpasir terdengar begitu jelas di telinganya.
Ia menyadari betapa kecil dan terisolasinya dunianya selama ini. Hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumahnya, kehidupan tetangga berjalan dengan normal—ada bau masakan ikan goreng dari jendela dapur tetangga sebelah, suara radio tua yang menyiarkan tembang kenangan, dan deru motor yang berlalu-lalang.
"Aku seperti orang asing di lingkunganku sendiri," bisik Aruna pelan, merapatkan jaket abu-abunya untuk menahan angin sore yang mulai menusuk kulit.
Transisi dari keheningan total di dalam rumah menuju keramaian kecil kompleks perumahan ini membuat kepalanya sedikit pusing. Namun, alih-alih berbalik dan lari kembali ke dalam rumah seperti biasanya, Aruna justru terus melangkah. Ia tahu, setiap jengkal langkah ini adalah bentuk perlawanan kecil terhadap rasa takut yang telah melumpuhkannya selama berbulan-bulan.
❖ ❖ ❖
Sesampainya di warung kelontong Pak Harun yang terletak di sudut persimpangan blok C, Aruna berhenti sejenak di depan etalase kaca yang dipenuhi berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari. Aroma sabun mandi bercampur dengan bau minyak tanah dan bungkus makanan ringan menyambut indra penciumannya.