Sore itu, langit Jakarta meredup lebih cepat dari biasanya. Awan mendung berarak berat dari sisi selatan, membungkus kota metropolitan dalam selimut kelabu yang basah. Gerimis tipis mulai turun, mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil yang terjebak dalam kemacetan panjang di kawasan Senopati. Jam di dasbor mobil menunjukkan pukul 16.45 WIB, menandakan waktu di mana ribuan manusia bergegas meninggalkan kantor demi mengejar kehangatan rumah. Namun, bagi Galang, waktu seolah berjalan merayap tanpa arah yang pasti.
Galang duduk di dalam mobil sedan hitamnya yang terparkir di tepi jalan, tepat di seberang sebuah kafe tua bergaya kolonial yang dinamai Kedai Kenangan. Bangunan bercat putih pudar itu tampak kontras di antara jajaran gedung pencakar langit modern dan kafe-kafe waralaba asing yang menjamur di sekitarnya. Papan nama kayunya yang digantung dengan rantai besi berkarat berderit pelan setiap kali tertiup angin sore yang dingin. Lampu-lampu gantung bergaya antik di dalam kafe memancarkan pendar kuning hangat, menciptakan siluet remang-remang yang mengundang rasa nostalgia bagi siapa pun yang melihatnya.
"Pak Galang, kita jadi turun di sini, atau mau langsung lanjut ke kantor cabang Kemang?" tanya Randi, sekretaris sekaligus pengemudi setianya, memecah keheningan di kabin mobil sambil melirik dari balik spion tengah.
Galang tidak langsung menjawab. Tatapannya terpaku lurus pada jendela kaca besar Kedai Kenangan di seberang jalan. Tempat itu menyimpan terlalu banyak memori, sebuah tempat yang sudah hampir lima tahun sengaja iahindari demi menjaga kewarasannya agar tidak runtuh oleh kenangan masa lalu.
"Turunkan aku di sini, Ran. Kau parkir saja di gedung sebelah. Nanti aku kabari kalau butuh jemputan," jawab Galang dengan suara datar, meski ada getar halus yang terselip di balik kalimatnya.
"Tapi, Pak, cuacanya makin deras. Jas bapak bisa basah, dan jadwal rapat evaluasi dengan vendor pukul enam nanti..." Randi mencoba mengingatkan, raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran khas seorang bawahan yang bertanggung jawab.
"Rapat itu bisa diundur atau diwakilkan oleh wakil direktur. Lakukan saja seperti yang kukatakan, Randi," potong Galang tegas namun tidak kasar. Tangannya sudah meraih payung lipat hitam di samping pintu mobil.
Randi menghela napas pasrah, tahu betul bahwa membantah keputusan Galang saat pria itu sedang dalam suasana hati seperti ini adalah hal yang sia-sia. "Baik, Pak. Hati-hati."
Galang membuka pintu mobil, menerobos rintisan gerimis sore yang dingin menusuk kulit. Langkah kakinya membawa pria berusia tiga belas tahun lebih tua dari masa lalunya itu menyeberangi aspal basah yang memantulkan lampu kendaraan. Setiap ayunan langkahnya terasa berat, seolah gravitasi bumi mendadak berlipat ganda setiap kali ia mendekati ambang pintu Kedai Kenangan.
Begitu ia mendorong pintu kayu kafe tersebut, lonceng kecil di atas kusen berbunyi nyaring, menyambut kedatangannya dengan melodi khas yang langsung menerbangkan ingatannya kembali ke masa-masa ketika hidupnya belum hancur berkeping-keping. Aroma khas biji kopi robusta yang disangrai berpadu dengan wangi kue kayu manis mengepul di udara, menghangatkan ruangan yang hanya terisi oleh segelintir pengunjung.
Galang melepaskan payungnya, mengibaskannya pelan, lalu berdiri sejenak di dekat pintu masuk, mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Suasana di dalam kafe itu tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia mengunjunginya setengah dekade lalu. Dinding batunya masih dibiarkan terekspos, dihiasi foto-foto hitam putih seniman masa lampau dan rak buku usang yang dipenuhi novel-novel klasik bersampul tebal.
❖ ❖ ❖
Bagi Galang, kedatangannya ke Kedai Kenangan sore ini bukanlah sebuah kebetulan yang direncanakan oleh takdir, melainkan sebuah pelarian sadar dari beban rutinitas harian yang kian mencekik lehernya. Selama lima tahun terakhir, hidupnya diatur secara ketat oleh jadwal korporat, target laba tahunan, dan dinding-dinding beton apartemen mewahnya yang steril. Ia mengira dengan menyibukkan diri hingga lupa caranya bernapas, bayangan tentang masa lalu akan terkubur dalam-dalam. Namun, hari ini, pertahanan itu runtuh. Sebuah surat undangan pameran seni kecil-kecilan yang dikirimkan ke kantornya—tanpa nama pengirim, hanya menyertakan alamat kafe ini dan pukul lima sore—telah menariknya keluar dari benteng baja yang ia bangun sendiri.
Tujuan Galang hari ini sederhana namun penuh dengan ketakutan yang mendalam: ia ingin mencari tahu siapa pengirim surat misterius itu, sekaligus membuktikan pada dirinya sendiri apakah luka di dadanya sudah cukup kering untuk menghadapi sisa-sisa kenangan yang tertinggal di tempat ini.
"Selamat sore, Mas. Silakan duduk di mana saja yang kosong," sapa seorang pelayan muda berkaus hitam ramah menyambutnya dari balik meja bar kayu jati.
"Terima kasih. Aku ambil meja di sudut dekat jendela saja," balas Galang singkat, lalu berjalan menuju sudut ruangan yang paling remang dan terlindung di balik rak buku besar.
Ia duduk di kursi kayu bersandaran rendah. Dari tempat duduknya, ia bisa melihat jelas ke arah jalanan luar melalui kaca jendela yang basah oleh air hujan. Galang meletakkan tas kerja kulitnya di atas kursi kosong di sebelah, lalu merogoh saku mantelnya untuk mengeluarkan selembar kertas surat bertepi koyak yang diterimanya siang tadi. Tulisan tangan di atas kertas itu begitu familier, melengkung indah dengan tinta hitam cair—sebuah gaya penulisan yang pernah menghiasi hari-hari terindahnya sebelum petaka merenggut segalanya.
“Jika waktu bisa diputar kembali ke tempat di mana kita pertama kali berjanji, sudikah kau menepatinya?”
Kalimat itu tertera jelas di atas kertas. Setiap kali Galang membaca kalimat itu, dadanya bergemuruh hebat, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya dari dalam. Lima tahun lalu, di tempat inilah ia dan Kirana—wanita yang sangat dicintainya namun hilang tanpa jejak di tengah badai tragedi—menghabiskan waktu berjam-jam membahas masa depan, impian, dan janji-janji manis tentang hari tua.
Namun, takdir berkata lain. Kecelakaan maut itu merenggut segalanya, atau setidaknya itulah yang selalu ia yakini selama ini. Lalu, siapa yang mengirim surat ini? Apakah ini ulah seseorang yang sengaja mempermainkan traumanya, ataukah sebuah pertanda gila bahwa apa yang ia yakini selama bertahun-tahun ternyata adalah sebuah kebohongan besar?
"Permisi, Mas. Pesanannya apa?" suara pelayan muda tadi membuyarkan lamunan panjang Galang.
Galang mendongak, mengerjap beberapa kali untuk mengusir kabut pikiran yang berkecamuk di kepalanya. "Oh, berikan aku satu cangkir americano panas tanpa gula, dan... kue kayu manis satu porsi."
"Baik, americano panas dan cinnamon roll satu. Ditunggu sebentar ya, Mas," ujar pelayan itu ramah sebelum berlalu kembali ke arah bar.
Galang kembali menunduk, menatap kertas surat di tangannya. Tujuannya hari ini bukan lagi sekadar menikmati secangkir kopi untuk melepas penat. Ia mempertaruhkan sisa-sisa kewarasannya demi sebuah jawaban. Ia ingin menuntaskan rasa penasaran yang selama ini menjadi duri dalam daging di setiap malam-malam sepinya. Jika surat ini adalah sebuah lelucon kejam, ia ingin melihat langsung siapa pelakunya dan mencaci maki mereka habis-habisan. Namun, jika ini adalah sebuah kebenaran... Galang tidak tahu pasti apakah ia siap menghadapi konsekuensinya.
❖ ❖ ❖
Waktu berjalan lambat diiringi rintisan hujan yang kini mulai mereda di luar sana, menyisakan tetes-tetes air yang mengalir perlahan di kaca jendela kafe. Pelayan muda datang mengantarkan pesanan Galang—secangkir americano panas yang mengepulkan uap tipis dan sepiring kecil kue kayu manis bertabur bubuk kayu manis dan gula halus. Aroma manis bercampur pahit langsung menguar di hadapannya, memicu gelombang memori masa lalu yang semakin mendesak untuk keluar.
Galang meraih cangkir keramik hitam itu, melingkarkan jemarinya yang dingin di permukaan cangkir untuk menyerap kehangatan yang terpancar. Ia tidak langsung meminumnya. Matanya menerawang menatap cairan hitam pekat di dalam cangkir, melihat pantulan wajahnya sendiri yang tampak kuyu, lelah, dan dipenuhi guratan usia serta beban pikiran yang terlalu berat dipikul seorang diri.
Transisi dari suasana kantor yang bising dan penuh tekanan menuju keheningan kafe tua ini membawa perubahan drastis pada ritme biologis dan mental Galang. Di kantor, ia adalah sosok pemimpin yang tak tersentuh, dingin, dan penuh perhitungan. Namun di sini, di sudut ruangan yang temaram ini, topeng profesional itu perlahan-lahan meluruh, menyisakan seorang manusia biasa yang rapuh, terluka, dan merindukan kehangatan yang telah lama hilang.
"Permisi... apakah kursi ini kosong?"
Sebuah suara lembut, bernada feminin namun sedikit bergetar, tiba-tiba memecah keheningan di sekitar meja Galang. Suara itu begitu dekat, begitu akrab di telinga, namun terdengar begitu tidak nyata, seolah bergema dari dimensi waktu yang berbeda.
Galang tertegun. Jantungnya mendadak melompat ke tenggorokan. Ia mendongakkan kepalanya dengan gerakan kaku, seolah enggan mempercayai pendengarannya sendiri.
Di hadapannya, berdiri seorang perempuan berbalut mantel rajut berwarna krem dengan selendang rajut biru tua melilit di lehernya. Rambut panjangnya yang ikal dibiarkan tergerai basah di ujung-ujungnya karena gerimis luar, jatuh menyapa bahu. Wajah perempuan itu tampak sedikit lebih tirus dari terakhir kali ia mengingatnya, dan ada garis-garis halus di sudut matanya, namun sorot mata cokelat jernih itu tidak pernah berubah—sorot mata yang sama yang dulu selalu menjadi rumah paling aman bagi Galang di setiap akhir pekan.
Perempuan itu memegang sebuah buku bersampul usang di tangan kirinya, sementara tangan kanannya berpegangan pada tepi meja kayu. Ia menatap Galang dengan napas tertahan, bibirnya sedikit terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu namun tertahan oleh ketegangan yang teramat sangat di antara mereka berdua.
"Kirana...?" bisik Galang tertahan, nyaris tanpa suara. Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya, seperti sebuah doa yang diucapkan oleh orang sekarat di padang pasir.
Perempuan itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk perlahan, sementara air mata hangat seketika tumpah membasahi pipinya yang pucat.
Transisi antara realitas dan mimpi mendadak menjadi kabur bagi Galang. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar. Musik jazz lawas yang mengalun dari pengeras suara kafe mendadak lenyap digantikan oleh deru napas mereka berdua yang memburu. Lima tahun waktu yang terbuang sia-sia, kebohongan pemakaman, peti mati putih di bawah hujan lebat, dan seluruh siksaan mental yang ia derita selama ini mendadak runtuh berkeping-keping di hadapan sosok perempuan yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Kau... kau benar-benar Kirana?" Galang bangkit dari duduknya dengan gerakan limbung. Kursi kayunya bergeser kasar menelurkan suara decitan nyaring di lantai kafe, menarik perhatian beberapa pengunjung lain di sudut bar, namun mereka berdua sama sekali tidak peduli.
"Ini aku, Galang... aku pulang," jawab Kirana dengan suara bergetar hebat, pecah di ujung kalimatnya saat ia tak kuasa lagi menahan bendungan air matanya.
❖ ❖ ❖
Suasana di sudut kafe mendadak berubah menjadi medan pertempuran emosional yang jauh lebih dahsyat daripada konflik korporat mana pun yang pernah dihadapi Galang. Pria itu berdiri terpaku di tempatnya, menatap sosok Kirana dari jarak kurang dari satu meter. Jari-jarinya gemetar hebat, bukan karena rasa takut, melainkan karena perpaduan antara keterkejutan yang luar biasa, kemarahan yang tertahan, dan kerinduan yang membuncah hingga mendesak rongga dadanya.