Kafe "Karsa Rindu" di sudut jalan Dipati Ukur sore itu memancarkan kehangatan yang kontras dengan rintik hujan yang mulai menderas di luar jendela kaca besar. Pukul empat lewat empat puluh lima menit, suasana kafe terbilang lengang, hanya menyisakan deru mesin espresso yang bekerja pelan dan alunan musik instrumental gitar akustik dari radio tua di sudut ruangan. Aroma biji kopi robusta bercampur wangi kayu manis menguar di udara, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus melankolis. Di salah satu meja bundar bernomor tujuh, dekat kaca yang berembun karena perbedaan suhu, seorang lelaki duduk mematung dengan cangkir cokelat panas yang mengepulkan uap tipis di hadapannya.
"Kamu yakin dia akan datang jam lima pas, Rai?" suara lembut Melati memecah keheningan di meja tersebut, terdengar begitu berhati-hati.
Raihan menoleh pelan, menatap sahabat masa kecilnya itu dengan sorot mata yang menyiratkan kecemasan luar biasa. Ia merapikan kerah kemeja flanelnya yang sudah ia setrika tiga kali lipat sejak siang tadi, lalu melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Detik demi detik terasa berjalan begitu lambat, menyeret beban penantian yang telah dipikulnya selama hampir tujuh tahun lamanya sejak perpisahan di stasiun kota lama.
"Dia bilang lewat pesan singkat semalam, Mel. Tepat jam lima sore di tempat ini, tempat di mana kita biasa merancang masa depan sebelum semuanya berantakan," jawab Raihan lirih, suaranya bergetar tipis menahan debar jantung yang bergemuruh di balik rongga dadanya.
Melati menghela napas panjang, meremas jemari Raihan di atas meja untuk memberikan sedikit ketenangan. "Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar, Rai. Banyak hal yang pasti sudah berubah pada dirinya, begitu juga dengan dirimu."
"Aku tahu, Mel. Justru perubahan itu yang membuatku takut," balas Raihan jujur, matanya kembali terpaku pada pintu kaca utama kafe yang buram akibat tetesan air hujan.
Di luar sana, lampu-lampu jalanan kota mulai menyala, memantulkan pendar jingga dan kekuningan di atas aspal basah yang berkilat. Setiap kali lonceng kecil di atas pintu berderit karena angin atau kedatangan pengunjung baru, napas Raihan mendadak tertahan. Bayangan tentang sosok perempuan itu terus berkelebat di kepalanya—senyum terakhir yang ia lihat dari balik jendela kereta, lambaian tangan yang basah oleh air mata, dan janji kekanak-kanakan untuk bertemu kembali suatu hari nanti ketika masing-masing telah menemukan bentuk diri yang utuh.
❖ ❖ ❖
Tujuan Raihan datang ke kafe itu bukan sekadar untuk melepas rindu atau mengenang masa lalu yang telah menjadi serpihan abu. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia datang membawa satu tujuan mutlak yang menjadi kompas hidupnya selama bertahun-tahun: mencari kejelasan dari sebuah kepergian yang menggantung tanpa ujung. Ia ingin menatap mata perempuan itu sekali lagi—perempuan bernama Kirana yang pernah mengisi separuh jiwanya—untuk memastikan apakah rasa yang dulu pernah ada masih menyisakan bara, ataukah semuanya benar-benar telah padam ditelan waktu dan jarak.
"Aku hanya ingin mendengar penjelasannya secara langsung, Mel," ucap Raihan, kali ini dengan nada yang lebih tegas meskipun sorot matanya menyiratkan kerapuhan. "Aku lelah hidup dalam pengandaian. Setiap malam aku selalu bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi di kepala Kirana saat ia memilih meninggalkanku di stasiun itu tanpa sepatah kata alasan selain surat singkat?"
Melati menatapnya dengan pandangan penuh empati. "Dan kalau ternyata alasannya tidak seperti yang kamu harapkan, Rai? Kalau ternyata jarak itu memang diciptakan untuk memisahkan kalian selamanya?"
"Maka hari ini aku akan menutup buku itu untuk selamanya," sahut Raihan tanpa ragu, meski tangannya kembali mencengkeram erat gagang cangkir di depannya. "Aku tidak ingin lagi berjalan ke masa depan dengan kepala yang terus menoleh ke belakang. Tujuanku hari ini bulat: mendapatkan penutupan yang layak, atau menemukan awal baru yang selama ini aku takuti."
Tujuan besar itu membuat Raihan terus memandangi pintu masuk kafe dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Setiap bayangan siluet yang melintas di balik kaca berembun membuat otot-otot lehernya tegang. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bukan lagi anak muda penakut yang hanya bisa menangisi kepergian seseorang tanpa berani bertanya. Ia adalah lelaki dewasa yang siap menerima kenyataan pahit sekalipun, asalkan kenyataan itu diucapkan langsung dari bibir Kirana sendiri.
"Kalau dia datang, bicaralah dengankepala dingin, Rai. Jangan biarkan emosi menguasaimu," pesan Melati sambil berdiri dari kursinya. "Aku akan pindah ke meja sudut sana supaya kalian punya ruang privat. Ingat, aku ada di sini kalau kamu butuh."
"Terima kasih, Mel. Tetaplah di dekat sini, aku butuh jangkar," jawab Raihan tersenyum tipis.
Melati mengangguk penuh pengertian sebelum melangkah pelan menuju meja di sudut ruangan yang agak tersembunyi di balik rak buku kayu. Kini Raihan duduk sendirian, menghadapi detik-detik penentuan yang telah ia nantikan selama sepersekian dekade dalam hidupnya.
❖ ❖ ❖
Pukul empat lewat sembilan puluh delapan menit. Suasana di dalam kafe mendadak terasa senyap, seolah seluruh suara bising di luar sana diredam oleh dinding tebal ketegangan batin yang melanda Raihan. Transisi emosional dari seorang penonton yang sabar menunggu menjadi seorang pelaku utama dalam drama kehidupannya sendiri terjadi begitu cepat. Tiba-tiba, lonceng kecil di atas pintu utama kafe berderit nyaring, memecah keheningan sore yang basah.
Raihan mendongak dengan cepat, napasnya tercekat di tenggorokan.
Seorang perempuan berpayung transparan melangkah masuk ke dalam kafe, mengguncang-guncangkan payungnya pelan untuk menghilangkan sisa-sisa air hujan sebelum menutupnya rapat-rapat. Perempuan itu mengenakan mantel panjang berwarna krem dengan selendang rajut abu-abu melingkar di lehernya. Rambut sebahu yang dulu selalu dibiarkan tergerai kini tampak lebih rapi, dicepol longgar ke belakang, namun postur tubuh dan cara berjalannya yang khas tidak pernah bisa disamarkan oleh waktu atau pakaian apa pun.
"Itu... benar-benar dia," bisik Raihan pada dirinya sendiri, suaranya hampir tak terdengar di antara deru mesin kopi.
Kirana berdiri sejenak di dekat pintu, menyapu pandangannya ke seluruh ruangan kafe yang hangat. Matanya tampak mencari-cari sesuatu atau seseorang di antara meja-meja bundar yang tersusun rapi. Detik ketika pandangan mata Kirana mulai bergerak menyusuri ruangan, waktu di sekitar Raihan seolah melambat secara drastis. Detak jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa mendengarnya bergemuruh di dalam telinganya sendiri. Transisi dari dunia penuh tanya menuju kenyataan yang sesungguhnya terjadi di hadapan matanya detik itu juga.
"Raihan...?" suara lirih itu meluncur pelan dari bibir Kirana begitu matanya menangkap sosok lelaki yang duduk kaku di dekat jendela.